Kamis, 21 Oktober 2021 09:22

Koordinasi Data Mutu 2021

Pontianak -- Bertempat di Hotel Avara Gajahmada  LPMP Kalbar mengadakan kegiatan Rapat Koordinasi Data Mutu Tahun 2021, mulai tanggal 18 s.d 20 Oktober 2021 Data Pokok Pendidikan, yang selanjutnya disingkat Dapodik adalah suatu sistem pendataan yang dikelola oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang memuat data satuan pendidikan, peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan, dan substansi pendidikan yang datanya bersumber dari satuan pendidikan yang diperbaharui (update) secara online sesuai dengan kebutuhan sekolah paling sedikit 2 kali dalam 1 tahun. Data hasil dari implementasi Aplikasi Dapodikdasmen di sekolah sudah dimanfaatkan untuk berbagai kebijakan di Kemendikbud salah satunya digunakan untuk kepentingan pendidikan berbasis zonasi, e-rapor, penjaminan mutu pendidikan dan Alpikasi RKAS dan berbagai aplikasi yang terintegrasi dengan Aplikasi Dapodikdasmen. Ini merupakan bagian dari Program perancanaan pendidikan nasional dalam mewujudkan insan Indonesia yang Cerdas dan Kompetitif.

Kegiatan ini dibuka oleh Kepala LPMP Kalimantan Barat Bapak Asep Sukmayadi, S.IP, M.Si. dengan Narasumber dari LPMP Kalimantan Barat. Diharapkan Kegiatan ini Menghasilkan rapor  mutu  data  mutu  pendidikan  yang  lebih  terperinci  di  satuan  pendidikan kabupaten/kota dan provinsi Kalimantan Barat,  permasalahan  dan  hambatan     pengisian  data  dapodik  di  satuan  pendidikan Kabupaten/Kota dan Provinsi Kalimantan Barat, dan Didapatkan masukan mengenai  pelaksanaan pengumpulan data mutu pendidikan di satuan pendidikan Kabupaten/Kota dan Provinsi Kalimantan Barat.

Dalam pengelolaan Dapodikdasmen ini masih ditemukan berbagai masalah di lapangan. Contohnya, helpdesk Dapodikdasmen masih terpusat di Kemendikbud sehingga kurang dapat menjangkau satuan pendidikan pengguna Dapodikdasmen. Dinas Pendidikan Provinsi/Kabupaten/Kota belum mampu menjawab persoalan seputar Dapodikdasmen di tingkat daerah masing-masing. Di samping itu, ada arahan dari Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bahwa di setiap Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) di Indonesia agar ada layanan Unit Layanan Terpadu (ULT) sebagai representasi Kemendikbud yang salah satu tugasnya yaitu sebagai helpdesk Dapodikdasmen.

Kamis, 21 Oktober 2021 08:59

Gebyar Vaksinasi Kalbar

Kebijakan penyaluran dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) secara langsung ke rekening sekolah berhasil mengurangi keterlambatan dan mendapatkan tanggapan positif dari berbagai pihak. Mulai tahun 2022, mekanisme penyaluran langsung juga akan diterapkan pada Bantuan Operasional Penyelenggaraan (BOP) Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Pendidikan Kesetaraan.

Tujuannya pertama, untuk memangkas proses birokrasi penyaluran dana BOS dan BOP di tingkat daerah. Kedua, untuk mempercepat penerimaan dana BOS dan BOP di tingkat satuan pendidikan, dan ketiga untuk meningkatkan akuntabilitas penyaluran.

Akan tetapi, berdasarkan pengalaman sebelumnya, penyaluran dana BOS secara langsung ke rekening sekolah memiliki tantangan tersendiri. Diantaranya adalah sinkronisasi Dapodik, akuntabilitas data rekening satuan Pendidikan, dan pelaporan dana BOS yang belum tepat waktu.

Rekening satuan pendidikan yang tidak valid menjadi penyebab utama persoalan penyaluran dana BOS. Akibat rekening tidak valid, terjadinya retur atau gagal transfer. Pada tahun 2020 ada 1,83% yang mengalami retur. Kemudian tahun 2021 mengalami penurunan yaitu menjadi 0,5% yang mengalami retur. Diharapkan pada tahun 2022 mampu menuju zero retur.

Oleh karena itu untuk menuju zero retur, pengelolaan nomor rekening yang bervariasi perlu dilakukan penataan dengan adanya standarisasi rekening sekolah. Demikian disampaikan Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, Kemendikbudristek, Jumeri, S.T.P., M.Si., pada webinar dengan tema ‘Rekening Satuan Pendidikan untuk Dana BOS dan BOP’ yang diselenggarakan Ditjen PAUD, Dikdasmen pada Kamis, 14 Oktober 2021.

”Kemendikbudristek, Kemendagri serta Kementerian Keuangan terus melakukan evaluasi kebijakan dana BOS dengan mekanisme penyaluran langsung ke satuan pendidikan. Kita sedang usulkan dana BOP mulai tahun 2022, dan penataan rekening satuan pendidikan penerima BOP akan kita tata tahun ini, berbarengan dengan penataan rekening untuk BOS,” jelas Jumeri.

Ke depan, satuan pendidikan tidak diberikan fasilitas input data rekening sendiri. Rekening satuan pendidikan harus ditetapkan oleh pemerintah daerah setempat, sesuai kewenangannya yang mencakup satuan pendidikan negeri maupun swasta. Jumeri mengajak semua pihak berperan aktif mengawal bersama-sama untuk mewujudkan data rekening yang standar.

“Data rekening yang kita gunakan untuk penyaluran dana BOS dan BOP tahun 2022 akan mulai kita rekap pada bulan Januari 2022. Oleh karenanya mari kita semua, bapak ibu pemerintah daerah dan dinas pendidikan, untuk menyusun strategi agar data rekening yang standard dapat kami terima sebelum tanggal 21 November 2022,” kata Dirjen PAUD Dikdasmen.

Jumeri melanjutkan, ke depan pelaporan dana BOP akan menggunakan aplikasi tunggal. Terkait kebijakan ini masih menunggu surat edaran Kemendikbudristek dan Kemendagri tentang penggunaan aplikasi pelaporan. “Kita juga berharap kepada kepala dinas Pendidikan untuk membimbing satuan pendidikan dalam penggunaan dana BOS dan BOP yang transparan dan akuntabilitas yang tinggi,” harapnya.

Dalam kesempatan yang sama, Dr. Sutanto, S.H., M.A., Sekretaris Direktorat Jenderal PAUD, Dikdasmen mengatakan, standarisasi rekening satuan pendidikan sangat diperlukan sebagai upaya penyaluran dana BOS dan BOP yang tepat salur dan tepat sasaran.

Rekening sekolah harus valid agar penyaluran BOS dan BOP langsung ke satuan pendidikan dapat terlaksana tanpa ada retur. Serta pengelolaan rekening satuan pendidikan harus tertib melalui suatu sistem aplikasi yang dapat dipertanggungjawabkan, dalam penyaluran dana BOS dan BOP.

“Alur pengelolaan rekening sekolah dalam penyaluran dana BOS dan BOP, pertama pembukaan rekening satuan pendidikan oleh pemda, penetapan rekening satuan pendidikan oleh pemda, pengusulan rekening satuan pendidikan dari dinas pendidikan ke Direktur Jenderal, dan penetapan rekening Satuan Pendidikan oleh Direktur Jenderal,” jelas Sutanto.

Sedangkan untuk ketentuan perubahan rekening sekolah, Sutanto menjelaskan usulan perubahan harus sesuai dengan ketentuan dan kriteria rekening sekolah. Dan usulan perubahan rekening sekolah hanya dapat dilakukan 1 kali dalam 1 tahun, dan disampaikan pada rentang bulan Juli sampai dengan bulan Agustus. (*)

Jakarta, 18 Oktober 2021 --- Literasi adalah salah satu keterampilan dasar yang harus dimiliki peserta didik. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) resmi menutup kegiatan Lomba Debat Bahasa Indonesia (LDBI) dan National Schools Debating Championship (NSDC) secara virtual pada Sabtu (16/10).

LDBI digelar pada 3 sampai 9 Oktober 2021 dan NSDC pada 11 hingga 17 Oktober 2021. Tema LDBI dan NSDC 2021 adalah Speak of Your Mind, Speak for Indonesia. Seleksi digelar virtual dan secara bertingkat dari provinsi ke nasional. Jumlah peserta yang mengikuti Seleksi LDBI di tingkat provinsi berjumlah 3.207 siswa, sementara Seleksi NSDC diikuti 2.150 siswa dari 34 provinsi dan tujuh wilayah Sekolah Indonesia Luar Negeri, seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Mesir, Arab Saudi, dan Vietnam.

Gelar Juara LDBI 2021 diraih oleh peserta sebagai berikut. Juara 1 diraih Aditya Gunawan Putra dari SMA Negeri 14 Jakarta, Elva Gracia dari SMA Negeri 2 Jakarta, dan Jonathan Randall Bunjamin dari SMAS 1 Kristen BPK Penabur Jakarta. Juara 2 diraih Muhammad Fadel Thoriq Dharmawan dari MAN Insan Cendekia Gorontalo, Muammar Qadafi dari MAN Insan Cendekia Gorontalo, dan Muhammad Khairil Khatami dari MAN Insan Cendekia Gorontalo. Sementara itu, Juara 3 Bersama diraih Qonitahshafa Khansa Pratyas dari SMA Negeri 1 Sidoarjo, Nathania Syalina Putri dari SMAN 1 Sidoarjo Jawa Timur, Olivia Heaven Ermana dari SMAN 1 Sidoarjo Jawa Timur, Ester Tracy Silalahi dari SMAS Sutomo 1 Sumatera Utara, Fanny Laurensia dari SMAS Sutomo 2 Sumatera Utara, dan Rio Ferdinand dari SMAS Sutomo 2 Sumatera Utara.

Berikut adalah Daftar Peraih Juara NSDC 2021. Juara 1 diraih oleh Jones Anderson dari SMAS Sutomo 2 Sumatera Utara, Callysta Angelina Limneus dari SMAS Sutomo 2 Sumatera Utara, dan Jennifer Kava dari Sampoerna Academy Medan, Sumatera Utara. Juara 2 diraih Mattheus Bryan Djahtranto dari SMAS 1 Kristen BPK Penabur DKI Jakarta, Nathan Tedjakusuma dari SMAS 1 Kristen BPK Penabur DKI Jakarta, dan  Aiko dari SMAN 2 Jakarta DKI Jakarta. Juara 3 Bersama diraih Keisha Devana Sugiyanto dari SMA Budi Utama, Yogyakarta, Aldo Fernando Salakay dari SMA Kolese De Britto, Yogyakarta, Ghania Akila Rafa dari SMAN 8 Yogyakarta, Arabel Ganeshia Rachman dari SMAS Darma Yudha Riau, Clement Jason dari SMAS Darma Yudha Riau, dan Rayhan Aulia Makarim dari SMA Negeri 1 Pekanbaru Riau.

Kepala Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Muhammad Abdul Khak mengapresiasi partisipasi para peserta. “Kalian pelajar hebat yang berani untuk tampil dengan persiapan argumentasi dengan data yang valid. Ini ciri Pelajar Pancasila, karena pelajar yang mengikuti debat ini adalah pelajar yang hebat dalam banyak hal,” tutur Khak.

Diyakin Khak, berpikir kritis merupakan proses membangun kecerdasan lewat cara berpikir ilmiah dan menghindari hal yang sifatnya spekulatif dan berasumsi. “Jadi dalam konteks lebih luas, debat adalah bagian dari tradisi keilmuan secara umum. Debat itu harus melihat peserta lain sebagai lawan, bukan musuh. Karena lawan itu mitra dalam mencapai sesuatu dalam berkompetisi, sedangkan musuh saling meniadakan. Debat ini harus berlanjut ke tahun depan, semoga lahir Pelajar Pancasila yang kita inginkan,” jelas Khak.

Senada dengan itu, Anggota Dewan Juri NSDC, Uphie Abdurrahman, memaparkan, “Berpikir kritis adalah sesuatu yang positif. Kadang ada yang mengira berpikir kritis ini melawan, sesuatu yang subversif dan sesuatu yang negatif. Padahal sebenarnya berpikir kritis lebih mengarah pada cara mendalami akar masalah. Apakah yang kita dengar ini benar adanya atau harus kita investigasi lebih jauh,” tutur Uphie.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Puspresnas, Asep Sukmayadi, mengungkapkan LDBI dan NSDC bertujuan melatih kemampuan berpikir kreatif, kritis, analitis, dan konstruktif. “Saya bangga melihat bakat adik-adik berkembang, bahwa ajang ini bisa menjadi arena membangun kepercayaan diri dan memperkuat kompetensi,” ungkap Asep dalam pidatonya secara virtual.
 
"Ini adalah salah satu tujuan penting Merdeka Belajar, yaitu kemerdekaan berpikir dan kemerdekaan mengaktualisasikan potensi dan bakatnya yang positif dengan kekuatan berpikir yang kuat," lanjut Asep.

Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Endang Aminudin Aziz, dalam kesempatan yang sama mengapresiasi geliat LDBI dan NSDC yang terus mendorong para siswa mengembangkan kemampuan literasi. “Ini ajang menumbuhkan sikap berpikir kritis, kolaborasi, dan kreativitas,” ungkap Aminudin.

“Berpikir kritis, kolaborasi, komunikasi, dan kreativitas tinggi adalah empat kecakapan mutlak untuk menghadapi revolusi industri yang tengah dan akan terus kita hadapi dengan dinamika yang cepat. Ajang ini turut melahirkan para pemikir cerdas dan berkarakter. Para peserta debat akan menjadi bagian yang akan mewarnai kehidupan bangsa kita di masa mendatang,” ucap Aminudin.

Aminudin meyakini, sehebat apa pun perkembangan teknologi, manusia tetap menjadi faktor penentu. “Metode dan strategi berdebat perlu keterampilan dan kecakapan tingkat tinggi, bukan hanya bertanya dan mendefinisikan masalah, tetapi juga melakukan analisis dan sintesis data,” ungkapnya.  

Salah satu Pemenang LDBI dari MAN Insan Cendekia Gorontalo, mengaku dirinya mempersiapkan mental yang kuat. “Apabila kita tidak siap mental, kita akan kalah dari persiapan mental peserta lain,” ujar dia. Namun, dirinya pun mengaku senang mendapatkan teman-teman baru dari berbagai daerah.   

Peserta NSDC dari SMA Pelita Cemerlang, Valensia Angeli Tandeas, mengungkapkan kegugupannya dalam mengikuti lomba. “Saya lega lombanya berakhir, tapi juga sedih karena banyak kenangan dan pengalaman baru,” ucap Valensia yang berharap kedua lomba ini dapat digelar luring.

Sebagai informasi, Daftar Pembicara Terbaik LDBI dan Best Speakers NSDC dan informasi lain terkait lomba dan kompetisi siswa dapat diakses pada laman pusatprestasinasional.kemdikbud.go.id dan media sosial Pusat Prestasi Nasional.







Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

Bengkulu, Kemendikbudristek --- Untuk melindungi bahasa daerah sebagai aset bangsa Indonesia, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui unit pelaksana teknis (UPT) balai atau kantor bahasa melakukan upaya perlindungan bahasa-bahasa daerah. Di Bengkulu, Kemendikbudristek melalui Kantor Bahasa Bengkulu menyusun kamus bahasa Enggano sebagai salah satu upaya perlindungan bahasa daerah.

Kegiatan ini merupakan pelaksanaan amanat Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 57 Tahun 2014 tentang Pengembangan, Pembinaan, dan Pelindungan Bahasa dan Sastra, serta Peningkatan Fungsi Bahasa Indonesia. Peraturan ini merupakan dasar dilaksanakannya pengembangan, pembinaan, dan pelindungan bahasa daerah.

Bahasa daerah tidak sekadar mencerminkan kehidupan budaya suatu kelompok masyarakat, unsur-unsur kebahasaan dalam bahasa daerah berfungsi sebagai pengenal atau identitas suatu kelompok masyarakat. Tataran ini menggambarkan fungsi bahasa daerah sebagai alat komunikasi yang hidup dan dihidupkan dalam kehidupan masyarakat. Selain itu, masyarakat menjadikan bahasa daerah sebagai wadah untuk menyampaikan pesan-pesan dan nilai-nilai karakter.

Provinsi Bengkulu juga memiliki bahasa dan sastra  daerah yang banyak dan beragam. Menurut laporan penelitian Pemetaan Bahasa-Bahasa Daerah di Indonesia yang dilakukan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa bersama seluruh balai dan kantor bahasa, Provinsi Bengkulu memiliki tiga bahasa yaitu bahasa Rejang, bahasa Melayu Bengkulu, dan bahasa Enggano.

Penelitian tentang bahasa Enggano belum banyak dilakukan, oleh karena itu Kantor Bahasa Bengkulu mulai melakukan sejumlah upaya, salah satunya menyusun kamus. Bahasa Enggano dituturkan oleh sekitar 1.500 jiwa masyarakat suku Enggano yang mendiami sebuah pulau kecil di lepas pantai barat Pulau Sumatra, tepatnya di Samudra Hindia yang berjarak sekitar 156 km atau 90 mil laut dari ibukota Provinsi Bengkulu.

Secara administratif, Pulau Enggano termasuk dalam wilayah Kabupaten Bengkulu Utara. Saat ini, perjalan ke Pulau Enggano dapat ditempuh dengan kapal laut atau kapal feri selama 12 sampai 20 jam perjalanan. Posisi pulau yang berada jauh di tengah Samudra Hindia dan relatif jauh dari ibukota provinsi membuat masyarakat Enggano cukup terisolasi.

Tujuan penyusunan Kamus Bahasa Enggano di Provinsi Bengkulu yaitu: 1. mengumpulkan entri bahasa Enggano; 2. mendefinisikan secara leksikal, konseptual dan operasional setiap entri ke dalam bahasa Indonesia; dan 3. memberikan tambahan atau keterangan untuk memperjelas dan melengkapi definisi konseptual entri bahasa Enggano di Provinsi Bengkulu.

Tahun 2021 ini, hasil yang telah dicapai oleh tim Penyusunan Kamus Bahasa Enggano yaitu mendapatkan 1.600 lema dan sublema bahasa Enggano. Dari hasil rekaman wawancara dengan informan, selanjutnya hasil transkripsi, dideskripsikan maknanya, dan dianalisis secara leksikografi dengan melibatkan pakar kamus dari Badan Bahasa. Proses selanjutnya dilokakaryakan dengan melibatkan para pemimpin adat suku Enggano, pemerintah daerah provinsi dan kabupaten, akademisi, sastrawan, budayawan, pemerhati, dan penutur bahasa Enggano sendiri. Langkah berikutnya adalah mencetaknya menjadi sebuah kamus

Puspresnas hadir untuk mengembangkan prestasi sekolah & siswa! Puspresnas hadir untuk mengembangkan prestasi sekolah & siswa. Bagi seluruh siswa Indonesia, tetaplah menjaga mimpi, terus belajar berimajinasi, mengasah kreatifitas, dan mengaktualisasikan diri untuk tetap terus berprestasi. #JujurituJuara #BeraniBelajarBerubah #MerdekaBelajar

Jakarta, 12 Oktober 2021 --- Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) kembali menyalurkan bantuan kuota data internet kepada 26,6 juta pendidik dan peserta didik di periode Oktober 2021. Bantuan ini dimaksudkan untuk mendukung kelancaran pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas yang masih dikombinasikan dengan pembelajaran jarak jauh (PJJ).

“Bantuan kuota data internet kembali disalurkan di bulan Oktober ini kepada sejumlah 26,6 juta penerima untuk menunjang pembelajaran baik bagi yang sudah PTM terbatas, maupun yang masih PJJ,” ungkap Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim di Jakarta, Selasa (12/9).

Pada periode Oktober 2021, bantuan kuota data disalurkan ke nomor 24,9 juta peserta didik jenjang PAUD hingga pendidikan tinggi serta 1,73 juta pendidik jenjang PAUD hingga pendidikan tinggi. “Kuota data disalurkan kepada nomor-nomor ponsel yang telah berhasil diverifikasi dan divalidasi sehingga dipastikan akan menerima bantuan,” jelas Nadiem.

Sebelumnya, Menteri Nadiem menjelaskan, pada September 2021, Kemendikbudristek telah menyalurkan bantuan data kuota internet kepada 24,4 juta pengguna. “Bulan ini ada penambahan kuota sebanyak 2,2 juta penerima dibanding pada September lalu, karena ada pemutakhiran nomor ponsel yang sudah diverifikasi dan divalidasi,” ungkapnya.

Keseluruhan bantuan kuota data internet di tahun 2021 merupakan kuota umum yang dapat digunakan untuk mengakses seluruh laman dan aplikasi kecuali yang diblokir oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), dan yang tercantum pada situs resmi bantuan kuota data internet Kemendikbudristek: http://kuota-belajar.kemdikbud.go.id. “Jangan mudah terpancing informasi tidak benar yang beredar. Informasi tepercaya hanya dikeluarkan oleh portal atau media sosial resmi Kemendikbudristek,” pesan Nadiem.

Lebih lanjut, Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi (Kapusdatin) M. Hasan Chabibie kembali mengingatkan agar kepala sekolah dan pimpinan perguruan tinggi dapat memutakhirkan data nomor ponsel peserta didik dan pendidik pada sistem data pokok pendidikan (Dapodik) dan pangkalan data pendidikan tinggi (PD Dikti). Serta, tidak lupa mengunggah Surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak (SPTJM) pada portal http://vervalponsel.data.kemdikbud.go.id untuk PAUD, pendidikan dasar dan menengah, atau http://kuotadikti.kemdikbud.go.id untuk jenjang pendidikan tinggi.

"Agar semua peserta didik dan tenaga pendidik mendapatkan bantuan data kuota internet ini, kami harap kepala sekolah dan pimpinan pendidikan tinggi dapat memutakhirkan data nomor ponsel pada Dapodik dan PDDikti, agar semua warga pada satuan pendidikan dapat menerima bantuan ini,” terang Hasan Chabibie.

Sebelumnya, pada September 2021, Kemendikbudristek telah menyalurkan bantuan data kuota internet kepada 24,4 juta pengguna. “Bantuan ini akan disalurkan secara bertahap oleh penyedia jasanya pada setiap tanggal 11 sampai 15 pada bulan September, Oktober, dan November 2021, dengan masa berlaku selama 30 hari sejak kuota data diterima,” ujar Kapusdatin.
 
Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

Laman: kemdikbud.go.id    
Twitter: twitter.com/Kemdikbud_RI
Instagram: instagram.com/kemdikbud.ri
Facebook: facebook.com/kemdikbud.ri
Youtube: KEMENDIKBUD RI
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemdikbud.go.id

#MerdekaBelajar
#BersamaHadapiKorona
Sumber : Siaran Pers Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor : 597/sipres/A6/X/2021

Kamis, 14 Oktober 2021 10:57

GURU BELAJAR DAN BERBAGI

Semakin banyak berbagi,Semakin banyak inspirasi! GURU BERBAGI #darimanasaja Bagikan Rancangan Program Pembelajaran (RPP) yang Sahabat Guru miliki melalui laman Guru Belajar & Berbagi atau cari referensi yang dibutuhkan. Tentu saja, Sahabat Guru juga bisa melakukan modifikasi dari RPP yang ada untuk disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Inilah #saatnyaguruberbagi #darimanasaja. RPP Melestarikan Makhluk Hidup RPP ini dikembangkan oleh Husni Malik selaku Guru Mata Pelajaran Tematik di SDIT Nur Hidayah, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah mengajak peserta didik untuk memahami tahapan perkembangbiakan makhluk hidup serta mampu menentukan ide pokok dari sebuah paragrap dalam bacaan. RPP Persebaran Flora dan Fauna di Indonesia RPP yang dikembangkan oleh Seli Yulianti Guru Mata Pelajaran IPS di SMPN 1 Cigeulis, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten mengajak peserta didik untuk mengidenfitikasi persebaran flora dan fauna di Indonesia. RPP Lingkunganku RPP ini dikembangkan oleh Sulasmini Guru Temati di TK Kartika IX-37, Kabupaten Bondowoso, Provinsi Jawa Timur. Anak dapat melaksanakan kegiatan keseharian sesuai dengan tema yang telah dibuat, Percaya adanya Tuhan, Bersyukur, Berperilaku Baik, tahu nama anggota keluarga, Menyelesaikan kegiatan dengan berbagai cara untuk menyelesaikan masalah, dan sikap tanggung jawab. MARI BERGERAK BERSAMA. Semakin banyak berbagi, Semakin banyak inspirasi! Ajak para guru dan penggerak pendidikan lainnya untuk ikut berbagi di sini dan menciptakan ruang kelas yang interaktif #darimanasaja. #saatnyaguruberbagi #guruberbagi #darimanasaja

Jakarta, 12 Oktober 2021 --- Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) meluncurkan Guru Belajar dan Berbagi Seri Guru Merdeka Belajar. Peluncuran program ini dilakukan sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Guru Sedunia yang jatuh pada tanggal 5 Oktober 2021 yang lalu.

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Iwan Syahril mengatakan bahwa dalam hal pengembangan profesional, Kemendikbudristek terus mendukung guru-guru untuk meningkatkan praktik baik, mempercayai penilaian pedagogi dari guru yang terlatih dan berpengalaman, serta membekali para guru dengan keterampilan menggunakan teknologi pendidikan untuk mendukung pembelajaran dan pergeseran paradigma ke pembelajaran hibrida. Selain itu juga mendorong guru mengadaptasi konten pembelajaran dan praktik pedagogi.

“Upaya ini diwujudkan untuk memulihkan ancaman putus sekolah, adaptasi dan kontekstualisasi pendidikan guru untuk mengajar pada level yang tepat (teaching at the right level), dan menyesuaikan kurikulum terhadap setiap perbedaan kebutuhan guru dalam pembelajaran,” terang Iwan Syahril dalam sambutannya secara virtual di Jakarta, Selasa (12/10).

Selain itu, dalam hal tata kelola dan partisipasi, perlu diciptakan wadah untuk keterlibatan guru dan organisasi profesi dalam pengambilan keputusan pendidikan, serta wadah untuk berbagi pengetahuan dan praktik baik secara daring ataupun luring.

Selanjutnya, Dirjen GTK meluncurkan secara resmi program Guru Belajar dan Berbagi Seri Guru Merdeka Belajar. “Saya berharap dengan adanya program Guru Belajar dan Berbagi Seri Guru Merdeka Belajar, para guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah dapat memperoleh pemahaman serta meningkatkan kesadaran untuk terus menjadi seorang pembelajar, untuk menjadi seorang Guru Merdeka Belajar,” pesan Dirjen Iwan.

Sebelumnya, Direktur Guru Pendidikan Dasar, Rachmadi Widdiharto mengatakan bahwa program Guru Belajar dan Berbagi Seri Guru Merdeka Belajar merupakan kerja sama Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan dengan Yayasan Guru Belajar. Program ini bertujuan untuk mengembangkan program peningkatan kompetensi guru terutama dalam upaya mendorong guru agar menjadi guru yang merdeka dalam pembelajaran. Kemudian, agar guru mengenali konsep pengembangan guru merdeka belajar sehingga bisa mengakselerasi, melejitkan karir dan berkontribusi terhadap pendidikan.

“Harapannya, program ini mampu menjadi sarana penguat guru dalam upaya meningkatkan kompetensi dan pengembangan dirinya,” kata Direktur Rachmadi dalam laporannya.

Selain itu, mengacu pada model kompetensi guru, keikutsertaan guru dalam program ini diharapkan dapat meningkatkan pembiasaan mereka dalam melakukan refkeksi praktik pebelajaran dan pendidikan. Dengan begitu, mereka dapat menemukan aspek kelemahan dan kekuatan sebagai guru, menetapkan tujuan dan rencana pengembangan diri, serta menentukan cara dan beradaptasi dalam melakukan pengembangan diri.

“Dengan partisipasi aktif dalam jejaring guru maupun organisasi profesi maka guru juga dapat mengembangkan karir, melakukan eksplorasi yang beragam melalui pengalaman belajar, menghasilkan karya atau memberikan layanan yang bermakna,” terang Rachmadi.

Program bimbingan teknis ini dilaksanakan secara sinkronus dan asinkronus melalui berbagai media belajar yaitu infografik, video, asesmen, pendampingan belajar berkelanjutan bagi para guru dan kepala sekolah yang terlibat serta forum diskusi di kanal telegram.

“Seri belajar ini terdiri dari 32 jam pelajaran (JP), dan bagi yang telah menyelesaikan pembelajaran, akan menerima sertifikat. Pesertanya adalah guru dan pemimpin sekolah  yang telah memiliki akun SIMPKB dan dapat mendaftar melalui Portal Guru Belajar dan Berbagi melalui laman gurubelajardanberbagi.kemdikbud.go.id,” jelas Rachmadi.

Masih dalam rangkaian peluncuran, hadir secara virtual beberapa guru yang menceritakan dampak positif dari program-program peningkatan kompetensi guru yang diselenggarakan Kemendikbudristek, khususnya Program Guru Belajar dan Berbagi. Dampak positif yang dirasakan oleh para guru di antaranya adalah pengembangan potensi diri yang dapat mendorong pemulihan pendidikan nasional sehingga nantinya semangat Merdeka Belajar juga dirasakan oleh para siswa.

Disampaikan Yulia Rahmawati, guru SDN Krejengan Probolinggo, Jawa Timur bahwa pengembangan Guru yang Merdeka Belajar bukan hanya sekadar pengembangan portal, tetapi juga merupakan pilar vital untuk menjaga arah pendidikan nasional. Dalam pengembangan konsep guru Merdeka Belajar terdapat tiga kunci. Pertama, adalah komitmen terhadap tujuan belajar. “Artinya guru memahami mengapa perlu mengajarkan suatu materi atau suatu keterampilan tertentu, guru bisa berkomitmen atas suatu ketercapaian pada dirinya sendiri bukan dari atasan tapi dari dalam dirinya sendiri,” ungkap Yulia.

Kedua, adalah guru mandiri. Guru mandiri kata Yulia, selalu bergantung pada dirinya untuk mengatasi tantangan dan tidak mudah menyerah untuk menghadapi tantangan dan tidak menyalahkan keadaan tertentu dan orang lain, melainkan mencari cara dan berinovasi. Ketiga, adalah guru yang reflektif, artinya guru memahami kekuatannya dan menggali area yang perlu dikembangkan dan terus menerus memantau proses belajarnya sebagai upaya melakukan pengembangan yang berkelanjutan.

Senada dengan itu, Andrian Nur Rizki dari Sekolah Indonesia Johor Bahru, Malaysia menyampaikan bahwa program Guru Belajar dan Berbagi membawa dampak positif terhadap iklim pembelajaran. “Guru Belajar dan Berbagi Seri Guru Merdeka Belajar bukan hanya sekadar wadah tapi juga pilar untuk menjaga arah pendidikan nasional. Harapannya, dengan program ini, semua bisa turut berpatisipasi dan membuka diri untuk mulai menerima paradigma baru sesuai dengan gerak zaman,” ucapnya.

Sebelum mengakhiri, Ida Rahma Ibrahim, guru SMAN 11 Pinrang, Sulawesi Selatan mengatakan, “Kami sadar bahwa sebelum bermimpi untuk mewujudkan Merdeka Belajar, terlebih dahulu kitalah guru yang memiliki semangat Merdeka Belajar. Mari ikuti program Guru Belajar dan Berbagi Seri Merdeka Belajar,” ajak Ida.





Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

Laman: kemdikbud.go.id    
Twitter: twitter.com/Kemdikbud_RI
Instagram: instagram.com/kemdikbud.ri
Facebook: facebook.com/kemdikbud.ri
Youtube: KEMENDIKBUD RI
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemdikbud.go.id

#MerdekaBelajar
#GuruBelajardanBerbagi
Sumber : Siaran Pers Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor: 600/sipres/A6/X/2021

Jakarta, 13 Oktober 2021 --- Seiring dengan semangat peningkatan mutu pendidikan dan kebudayaan, serta mengembangkan inovasi untuk bergerak serentak mewujudkan Merdeka Belajar, perayaan Hari Ulang Tahun ke-17 Televisi Edukasi dimeriahkan dengan tayangan siniar spesial ulang tahun TV Edukasi. Turut hadir dalam siniar tersebut Sekretaris Jenderal (Sesjen) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Suharti; Kepala Pusat Data Statistik Pendidikan (Kapusdatin), M. Hasan Chabibie; dan peserta KIHAJAR STEM 2021.

Dalam pelaksanaan siniar spesial ulang tahun TV Edukasi, peserta KIHAJAR STEM 2021 diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan untuk dijawab secara langsung oleh narasumber. Pada kesempatan pertama, Sesjen Suharti diminta untuk menjawab pertanyaan terkait inovasi yang akan dilakukan dalam bidang pendidikan setelah nanti pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas akan diberlakukan. Suharti meyakini bahwa pembelajaran jarak jauh (PJJ) dan PTM terbatas sejatinya dapat dilakukan bersinergi untuk menghasilkan sesuatu yang lebih baik untuk para siswa.

“Kita ingin nantinya tetap ada pembelajaran jarak jauh secara virtual, jadi teknologi yang digunakan selama pandemi ini masih tetap diharapkan memberikan manfaat untuk adik-adik dalam mengikuti pembelajaran kedepan dimasa yang sudah mulai normal,” jawabnya secara virtual yang disiarkan secara langsung melalui kanal Youtube Televisi Edukasi, pada Selasa (12/10).

GEN KIHAJAR menurut Sesjen Kemendikbudristek adalah individu yang memiliki kemampuan dan pengetahuan luar biasa dan menguasai permasalahan Science, Technology, Engineering, Math (STEM) sejak tingkat sekolah dasar. “Dengan belajar terus menerus, saya optimis mereka akan menjadi pemimpin bangsa Indonesia di masa depan,” ucap Suharti menambahkan.

Selanjutnya, Kapusdatin, M. Hasan Chabibie menyatakan komitmen Pusdatin untuk terus berupaya meningkatkan teknologi dan memperkaya konten digital agar semakin banyak dan mudah diakses oleh para peserta didik. “Ini sekaligus memberi pilihan kepada peserta didik dalam pemanfaatan bantuan kuota data internet yang telah diberikan oleh pemerintah dalam hal ini Kemendikbudristek,” ungkapnya.

“Harapannya agar semangat, proses, dan gaya yang sudah dilakukan selama tiga bulan ini dalam pelaksanaan KIHAJAR dapat ditularkan kepada peserta didik maupun guru lainnya. Merdeka Belajar, TV Edukasi Medianya,” tekan Hasan.

Masih dalam rangkaian siniar, Fathannisa selaku pembawa acara mengajak para peserta untuk berbagi pengalaman mereka dalam memanfaatkan konten serta tayangan Televisi Edukasi, baik saat proses KIHAJAR maupun saat proses belajar rutin sehari-hari.

Eva, salah satu peserta KIHAJAR STEM 2021, mengaku sangat terbantu proses belajarnya dengan adanya tayangan Televisi Edukasi dan sangat menyukai konten sains. “Adanya konten-konten yang bervariasi di Televisi Edukasi memungkinkan para siswa dapat belajar lintas jurusan, tidak hanya pelajaran yang berkaitan dengan pelajaran di sekolahnya,” ucap Eva.

Berikutnya peserta KIHAJAR STEM tingkat SD yang bernama Lingga berbagi pengalamannya dalam memanfaatkan tayangan Televisi Edukasi saat proses KIHAJAR berlangsung. Lingga mengaku sangat terbantu dalam tahap pemecahan masalah, karena di dalamnya tidak hanya menyajikan materi pembelajaran tetapi siswa juga dapat melihat tutorial pembuatan pupuk kompos.

“Sistem pengelompokkan konten Televisi Edukasi sangat memudahkan untuk mencari materi-materi yang dibutuhkan,” tambah Lingga.

Masyarakat dapat menyaksikan kembali siaran yang digelar pada Selasa (12/10), melalui melalui kanal YouTube Televisi Edukasi: https://youtu.be/PvaLu-728bA dan Radio Suara Edukasi: http://suaraedukasi.kemdikbud.go.id/

Sekilas tentang TV Edukasi
 
12 Oktober merupakan momen penting yang dirayakan setiap tahunnya oleh Televisi Edukasi. Tepat pada tanggal 12 Oktober 2004 Televisi Edukasi pertama kali mengudara, dan pada tanggal 12 Oktober 2021 Televisi Edukasi telah memasuki usia yang ke-17 tahun.

Televisi Edukasi, sebagai salah satu televisi di Indonesia hadir untuk memfasilitasi proses pembelajaran, mulai dari jenjang PAUD hingga perguruan tinggi. Setiap tahunnya TV Edukasi terus memproduksi konten-konten pembelajaran dan bekerja sama dengan berbagai institusi penyedia konten, seperti Kementerian Agama (Kemenag), Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo), Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dan beberapa direktorat di lingkup Kemendikbudristek.

Di usia ke-17 ini, Televisi Edukasi terus melebarkan sayap ke berbagai perangkat teknologi dan siaran pada berbagai platform seperti Over The Top, satelit, kabel, jaringan dan televisi lokal. Semua itu dilakukan dalam rangka memberikan fasilitas terbaik pada masyarakat pendidikan Indonesia agar Televisi Edukasi dapat terus disaksikan kapan pun dan di mana pun.







Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

Laman: kemdikbud.go.id    
Twitter: twitter.com/Kemdikbud_RI
Instagram: instagram.com/kemdikbud.ri
Facebook: facebook.com/kemdikbud.ri
Youtube: KEMENDIKBUD RI
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemdikbud.go.id

#MerdekaBelajar
Sumber : Siaran Pers Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor: 601/sipres/A6/X/2021