Warta Pendidikan

Warta Pendidikan (69)

Kumpulan Berita dan Artikel yang terkait Dunia Pendidikan

Arsip Berita

Jakarta, Kemendikbud --- Mempertimbangkan kebutuhan pembelajaran, berbagai masukan dari para ahli dan organisasi serta mempertimbangkan evaluasi implementasi SKB Empat Menteri, Pemerintah melakukan penyesuaian keputusan bersama Empat Menteri terkait pelaksanaan pembelajaran di zona selain merah dan oranye, yakni di zona kuning dan hijau, untuk dapat melaksanakan pembelajaran tatap muka dengan penerapan protokol kesehatan yang sangat ketat.

“Prioritas utama pemerintah adalah untuk mengutamakan kesehatan dan keselamatan peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, keluarga, dan masyarakat secara umum, serta mempertimbangkan tumbuh kembang peserta didik dan kondisi psikososial dalam upaya pemenuhan layanan pendidikan selama pandemi COVID-19,” jelas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim dalam taklimat media Penyesuaian Kebijakan Pembelajaran di Masa Pandemi COVID-19, di Jakarta, Jumat (07/08).

Bagi daerah yang berada di zona oranye dan merah dilarang melakukan pembelajaran tatap muka di satuan pendidikan dan tetap melanjutkan Belajar dari Rumah (BDR). Berdasarkan data per 3 Agustus 2020 dari http://covid19.go.id terdapat sekitar 57 persen peserta didik masih berada di zona merah dan  oranye. Sementara itu, sekitar 43 persen peserta didik berada di zona kuning dan hijau.

Mendikbud mengatakan kondisi Pandemi COVID-19 tidak memungkinkan kegiatan belajar mengajar berlangsung secara normal. Terdapat ratusan ribu sekolah ditutup untuk mencegah penyebaran, sekitar 68 juta siswa melakukan kegiatan belajar dari rumah, dan sekitar empat juta guru melakukan kegiatan mengajar jarak jauh.

Beberapa kendala yang timbul dalam pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) diantaranya kesulitan guru dalam mengelola PJJ dan masih terfokus dalam penuntasan kurikulum. Sementara itu, tidak semua orang tua mampu mendampingi anak-anak belajar di rumah dengan optimal karena harus bekerja ataupun kemampuan sebagai pendamping belajar anak. “Para peserta didik juga mengalami kesulitan berkonsentrasi belajar dari rumah serta meningkatnya rasa jenuh yang berpotensi menimbulkan gangguan pada kesehatan jiwa,” ujar Mendikbud.

Untuk mengantisipasi kendala tersebut, Pemerintah mengeluarkan penyesuaian zonasi untuk pembelajaran tatap muka. Dalam perubahan SKB Empat Menteri ini, izin pembelajaran tatap muka diperluas ke zona kuning, dari sebelumnya hanya di zona hijau. Prosedur pengambilan keputusan pembelajaran tatap muka tetap dilakukan secara bertingkat seperti pada SKB sebelumnya. Pemda/kantor/kanwil Kemenag dan sekolah memiliki kewenangan penuh untuk menentukan apakah daerah atau sekolahnya dapat mulai melakukan pembelajaran tatap muka. “Jadi bukan berarti ketika sudah berada di zona hijau atau kuning, daerah atau sekolah wajib mulai tatap muka kembali ya,” Mendikbud menjelaskan.

Mendikbud juga menekankan, bahwa sekali pun daerah sudah dalam zona hijau atau kuning, pemda sudah memberikan izin, dan sekolah sudah kembali memulai pembelajaran tatap muka, orang tua atau wali tetap dapat memutuskan untuk anaknya tetap melanjutkan belajar dari rumah.

Penentuan zonasi daerah sendiri tetap mengacu pada pemetaan risiko daerah yang dilakukan oleh satuan tugas penanganan COVID-19 nasional, yang dapat diakses pada laman https://covid19.go.id/peta-risiko. Berdasarkan pemetaan tersebut, zonasi daerah dilakukan pada tingkat kabupaten/kota. “Dikecualikan untuk pulau-pulau kecil, zonasinya menggunakan pemetaan risiko daerah yang dilakukan oleh satgas penanganan COVID-19 setempat,” tambah Mendikbud.

Tahapan pembelajaran tatap muka satuan pendidikan di zona hijau dan zona kuning dalam SKB Empat Menteri yang disesuaikan tersebut dilakukan secara bersamaan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah dengan pertimbangan risiko kesehatan yang tidak berbeda untuk kelompok umur pada dua jenjang tersebut. Sementara itu untuk PAUD dapat memulai pembelajaran tatap muka paling cepat dua bulan setelah jenjang pendidikan dasar dan menengah.

“Selain itu, dengan pertimbangan bahwa pembelajaran praktik adalah keahlian inti SMK, pelaksanaan pembelajaran praktik bagi peserta didik SMK diperbolehkan di semua zona dengan wajib menerapkan protokol kesehatan yang ketat,” ucap Mendikbud.

Madrasah dan sekolah berasrama di zona hijau dan zona kuning dapat membuka asrama dan melakukan pembelajaran tatap muka secara bertahap sejak masa transisi. Kapasitas asrama dengan jumlah peserta didik kurang dari atau sama dengan 100 orang pada masa transisi bulan pertama adalah 50 persen, bulan kedua 100 persen, kemudian terus dilanjutkan 100 persen pada masa kebiasaan baru. Untuk kapasitas asrama dengan jumlah peserta didik lebih dari 100 orang, pada masa transisi bulan pertama 25 persen, dan bulan kedua 50 persen, kemudian memasuki masa kebiasaan baru pada bulan ketiga 75 persen, dan bulan keempat 100 persen.  

“Evaluasi akan selalu dilakukan untuk mengutamakan kesehatan dan keselamatan. Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan Provinsi atau Kabupaten/Kota, bersama Kepala Satuan Pendidikan akan terus berkoordinasi dengan gugus tugas percepatan penanganan COVID-19 untuk memantau tingkat risiko COVID-19 di daerah,” imbuh Mendikbud.

“Apabila terindikasi dalam kondisi tidak aman, terdapat kasus terkonfirmasi positif COVID-19, atau tingkat risiko daerah berubah menjadi oranye atau merah, satuan pendidikan wajib ditutup kembali,” tegas Mendikbud.

 


Unduh Paparan Penyesuaian Kebijakan Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19 di sini.

Unduh Salinan Kepmendikbud Nomor 719/P/2020 tentang Pedoman Pelaksanaan Kurikulum pada Satuan Pendidikan dalam Kondisi Khusus di sini.

Jakarta, 07 Agustus 2020
Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Pontianak,03/09/2020 - LPMP Kalimantan Barat - Dalam rangka koordinasi dengan berbagai instansi terkait, LPMP Provinsi Kalimantan Barat melakukan kunjungan ke Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat dan di terima langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Drs Sugeng Hariadi, MM.
Kunjungan ini bertujuan untuk menigkatkan tali silahturahmi dan koordinasi antara LPMP Provinsi Kalimantan Barat dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dalam melakukan sinergitas pembahasan mengenai sistem atau kebijakan pendidikan dan program-program kegiatan, dalam pertemuan yang penuh dengan suasana keakraban ini LPMP Provinsi Kalimantan Barat mengucapkan selamat bertugas kepada Drs. Sugeng Hariadi, M.M sebagai Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat yang telah resmi dilantik Gubernur Kalbar, H. Sutarmidji.

Jakarta, Kemendikbud --- Di tengah pandemi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) terus berupaya dalam penuntasan buta aksara. Untuk itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim menyampaikan agar peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) ke-55 tahun 2020 menjadi momentum perubahan paradigma pendidikan melalui pembelajaran literasi di masa pandemi COVID-19.

“Saya mengapresiasi luar biasa, meski tengah mengalami berbagai keterbatasan akibat pandemi COVID-19, kita tetap bersemangat untuk mengingat pentingnya melek huruf bagi setiap manusia, komunitas, dan masyarakat, untuk melakukan komunikasi sehingga kita dapat mengembangkan ilmu pengetahun dan teknologi,” disampaikan Mendikbud saat memberikan sambutan pada Peringatan HAI Tahun 2020 secara daring, di Jakarta, Selasa (08/09).

Tema Hari Aksara Internasional ke-55 yang diusung UNESCO pada tahun ini adalah “Literacy Teaching and Learning in the COVID-19 Crisis and Beyond’ with a Particular Focus on The Role of Educators and Changing Pedagogies”. Berkaitan dengan tema tersebut, Kemendikbud bersama Kementerian Dalam Negeri memastikan kebijakan pembelajaran literasi di tengah pandemi terlaksana dengan baik di daerah.

Mendikbud mengatakan, dalam penuntasan buta aksara berbagai strategi dilakukan Kemendikbud, seperti pemutakhiran data buta aksara, memperluas layanan program pendidikan keaksaraan, mengembangkan sinergi dalam upaya penuntasan buta aksara dan pemeliharaan kemampuan keberaksaraan warga masyarakat, serta mengakselerasi inovasi layanan program pada daerah terpadat buta aksara.

“Kita harus mengambil hikmah dari pandemi ini. Saat pandemi selesai, kita harus yakin akan keluar menjadi pemenang yang terus memiliki harapan dan cita-cita untuk mengentaskan buta aksara dari negara kita tercinta dan bersama-sama menghadirkan pendidikan yang berkualitas bagi Indonesia maju,” ujar Mendikbud.

Senada dengan itu, Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Menengah, Kemendikbud, Jumeri mengatakan strategi penuntasan buta aksara beberapa tahun terakhir difokuskan pada daerah tertinggal, terdepan, terluar (3T) karena daerah tersebut sulit dijangkau terutama di masa pandemi.


Jumeri berharap, masa krisis ini menjadi momentum bagi seluruh pihak untuk menunjukkan keberpihakannya terhadap peningkatan literasi. “Daerah 3T adalah bagian dari NKRI yang harus diperjuangkan, kolaborasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah sangat diperlukan untuk menyukseskan pemberantasan buta aksara di Indonesia,” imbuhnya.

Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) Biro Pusat Statistik tahun 2019, jumlah penduduk buta aksara telah mengalami penurunan yang cukup signifikan. Persentase buta aksara tahun 2011 sebanyak 4,63 persen, dan pada tahun 2019 turun menjadi 1,78 persen.

“Artinya, angka buta aksara di Indonesia terus mengalami penurunan setiap tahunnya seiring dengan terlaksananya berbagai strategi yang inovatif dan menjawab kebutuhan belajar masyarakat,” kata Jumeri.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Kantor UNESCO di Jakarta, Shahbaz Khan mengatakan, Indonesia telah menjadi salah satu contoh negara yang mampu memastikan perkembangan literasi di seluruh penjuru negeri. Namun demikian, di dunia masih memiliki tantangan global yang nyata yaitu 773 juta penduduk usia remaja dan dewasa tidak memiliki kemampuan literasi dasar.

“Hal yang sama juga dihadapi oleh 617 juta anak dan remaja yang belum mampu mencapai kemampuan minimal bidang membaca dan Matematika. Terdapat banyak tantangan baru yang telah memengaruhi sekolah dan pembelajaran sepanjang hayat kita, terutama remaja atau orang dewasa yang tidak atau kurang memiliki kemampuan literasi dasar,” tutur Shahbaz Khan.

Di akhir sambutannya, Shahbaz mengapresiasi upaya Kemendikbud yang tetap memastikan terciptanya pembelajaran dan budaya literasi di masa pandemi COVID-19. “Terima kasih untuk kepemimpinan Indonesia dalam upaya meningkatkan literasi di seluruh dunia. Indonesia memiliki pemimpin yang baik untuk meningkatkan literasi,” tutup Shahbaz.

Daftar Penerima Penghargaan Pada HAI ke-55 Tahun 2020

Pada kesempatan ini, melalui Keputusan Mendikbud Nomor 786/P/2020, Kemendikbud memberikan penghargaan kepada 48 orang/lembaga yang telah berkonstribusi dalam bidang keaksaraan dan telah memberdayakan masyarakat melalui pendidikan keaksaraan dan layanan program pendidikan nonformal lainnya. Berikut adalah daftar penerima penghargaan pada HAI ke-55 Tahun 2020.

1.    Anugerah Aksara bagi pemerintah kabupaten/kota

a.    Kabupaten Situbondo Jawa Timur sebagai penerima Anugerah Aksara Madya
b.    Kota Serang Banten sebagai penerima Anugerah Aksara Pratama
c.    Kabupaten Ogan Komering Ulu Sumatera Selatan sebagai penerima Anugerah Aksara Pratama


2.    Pegiat Pendidikan Keaksaraan bagi tokoh masyarakat/pengelola/tutor

a.    Yanti Lidiati dari Kabupaten Bandung, Jawa Barat
b.    Lilik Indahyani dari Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur
c.    Setiawan Adi Subagiyo dari Kabupaten Blitar, Jawa Timur
d.    I Gusti Ayu Pt. Darmayanti dari Kota Denpasar, Bali
e.    M. Arfah dari Kabupaten Mamuju Tengah, Sulawesi Barat
f.    M. Yusuf dari Kota Serang, Banten
g.    Beti Selvia dari Kabupaten Lebak, Banten
h.    Yati Riyati dari Kota Serang, Banten
i.    Taslifan Miftah Safitrah dari Kabupaten Donggala Sulawesi Tengah


3.    Tokoh Adat Pendukung Pendidikan Keaksaraan pada Komunitas Adat Terpencil/Khusus

a.    Muhlis Paraja dari Komunitas Adat Pattallassang, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan
b.    Parlihan dari Komunitas Adat Dayak Pitap, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan
c.    Ateng Wahyudin dari Adat Kasepuhan Cirompang, Kabupaten Lebak, Banten
d.    Nuhung dari Suku Culambacu, Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara
e.    Juhana dari Masyarakat Adat Cikondang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat
f.    Budianto dari Komunitas Adat Terpencil Jamu Samawa, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat


4.    Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Kreatif/Rekreatif

a.    TBM Sukamulya Cerdas dari Kota Bandung, Jawa Barat
b.    TBM PPLG (Paguy'uban Pemuda Literasi Global) dari Kota Serang, Banten
c.    TBM Lingkaran dari Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara
d.    TBM Panti Baca Ceria dari Kabupaten Sumedang, Jawa Barat
e.    TBM Rumah Belajar Ilalang dari Kabupaten Jepara, Jawa Tengah
f.    TBM Perpustakaan Umum Dusun Jlegongan dari Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta
g.    TBM Sarangge Baca Bima dari Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat
h.    TBM Hamfara Library dari Kabupaten Indragiri Hilir, Riau


5.    Publikasi Video Keaksaraan

a.    Fitri Fathia Paramitha Kinanti dari Kabupaten Gorontalo, Gorontalo
b.    PKBM Rumpin Inddas dari Kabupaten Situbondo, Jawa Timur
c.    Irham Yudha Permana dari Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat
d.    Juarita Manurung dari Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara
e.    Nur Jaya dari Kota Jayapura, Papua
f.    PKBM Amertha Yulia Ganesha dari Kabupaten Karangasem, Bali


6.    Publikasi Keaksaraan di Media Cetak

a.    Ichvan Sofyan dari Kota Bandar Lampung, Lampung
b.    Susanto dari Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah
c.    Gusnaldi Saman dari Kota Padang, Sumatera Barat
d.    Saiful Rohman dari Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah


7.    Foto Literasi Keaksaraan

a.    Riyanto dari Kabupaten Rembang, Jawa Tengah
b.    Muhammad Iqbal Muttaqin dari Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta
c.    Desrian Eristha dari Kota Padang, Sumatera Barat


8.    Video Keaksaraan

a.    Ekho Ardiyanto dari Kota Makassar, Sulawesi Selatan
b.    Budi Purwanto dari Kota Semarang, Jawa Tengah
c.    Rossy Nurhayati dari Kabupaten Ciamis, Jawa Barat


9.    Apresiasi Menulis Praktik Baik Literasi

a.    Apip Kurniadin dari Kabupaten Garut, Jawa Barat
b.    Zainal Abidin dari Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan
c.    Aris Munandar dari Kabupaten Sukabumi, Jawil Barat
d.    Nayla Lutfia Syach dari Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara
e.    Kurnia Khoirun Nisa dari Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur
f.    Fauzul Hanif Noor Athief dari Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah



PembaTIK, Wujud Merdeka Belajar dalam Pemanfaatan TIK untuk Pembelajaran

Jakarta, Kemendikbud --- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Pusat Data dan Teknologi Informasi Pendidikan dan Kebudayaan (Pusdatin) terus berupaya meningkatkan kompetensi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam pembelajaran. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim mengapresiasi program Pembelajaran berbasis TIK (PembaTIK) ini yang dinilai tidak hanya mensinergikan teknologi informasi dalam pembelajaran namun juga terus bersemangat mengembangkan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

Program Pembelajaran berbasis TIK (PembaTIK) khususnya Rumah Belajar merupakan inisiatif Pusdatin Kemendikbud yang telah menjadi wadah kita bersama untuk terus berinovasi dalam mengajar, tutur Nadiem ketika membuka Kuliah Umum Pembekalan Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (PembaTIK) Level 4: Berbagi yang berlangsung dalam jaringan (daring) di Jakarta, Senin (14/9/2020).

Dengan tajuk Berbagi Inovasi Pembelajatan Berbasis TIK Mewujudkan Merdeka Belajar acara ini diikuti oleh guru-guru calon Duta Rumah Belajar. Selama lima hari ke depan, para peserta akan dibekali wawasan yang berkaitan dengan kemampuan yang mereka miliki melalui tulisan, video, sosial media, video konferensi, serta membentuk guru-guru untuk memiliki kompetensi public speaking.

Pada kesempatan ini saya juga ingin mengapresiasi bapak dan ibu guru Duta Rumah Belajar yang tanpa pamrih menjadi contoh di daerah masing-masing dalam melakukan inovasi pembelajaran. Kami segenap jajaran di Kemendikbud terus mendukung inisiatif berinovasi bapak ibu guru semua, tutur Mendikbud.

Mendikbud mengapresiasi seluruh pihak yang telah memberikan dedikasinya terhadap pemanfaatan teknologi informasi di dunia pendidikan, tak terkecuali untuk Hendriawan S, yang menggawangi pengembangan Rumah Belajar. Sebagai bentuk penghormatan, Nadiem menyampaikan bela sungkawa atas wafatnya Alm. Hendriawan S. Kami bangga terhadap dedikasi beliau, mari kita bersama-sama mendoakan almarhum, semoga karya dan dedikasinya menjadi amal ibadah yang diterima di sisi-Nya, tutur Mendikbud.  

Saya ingin menyampaikan betapa bangganya saya ketika mengetahui program pelatihan guru PembaTIK tahun ini diikuti lebih dari 60000 guru, atau seribu persen peningkatannya dari pertama kegiatan ini diselenggarakan dua tahun lalu, lanjutnya.

Angka tersebut menurut Nadiem merupakan pencapaian yang luar biasa, dan juga penanda bahwa banyak guru yang ingin meningkatkan kemampuan mengimplementasikan teknologi ke dalam proses pembelajaran, terutama di masa pandemi COVID-19. Situasi saat ini memaksa kita supaya lebih lebih keras dan lebih cerdas sehingga pembelajaran dapat berlangsung. Oleh karena itu, kompetensi guru dalam penguasaan teknologi menjadi krusial, terang Nadiem.

Dijelaskan Mendikbud, guru adalah bibit penggerak pendidikan. Ia berharap, guru-guru dapat berinisiatif dan memiliki semangat tinggi untuk meningkatkan kompetensinya menghadapi tuntutan zaman. Tantangan di masa depan bukan berarti akan lebih mudah. Saya berharap semangat gotong royong yang semakin mantap di masa pandemi ini, bisa kita teruskan agar kita lebih siap beradaptasi, siap melakukan tindakan.  Tidak lagi menunggu perubahan itu terjadi, imbuhnya.

Kegiatan PembaTIK telah dilaksanakan sejak bulan Maret 2020 dan dilakukan secara berjenjang (levelling) dengan sistem seleksi dari Level 1: Literasi, Level 2: Implementasi, Level 3: Kreasi, hingga Level 4: Berbagi. Jumlah peserta yang mengikuti program PembaTIK pada tahun ini sendiri mencapai 70.312 guru hingga akhirnya terseleksi 1.020 guru per provinsi untuk mengikuti Level Berbagi yang akan dilaksanakan mulai tanggal 14 September 2020 hingga akhir Oktober 2020. Guru-guru peserta Level Berbagi nantinya merupakan calon Duta Rumah Belajar Nasional, guru-guru terlatih yang menjadi penggerak pemanfaatan TIK untuk pembelajaran, terutama dengan Platform Rumah Belajar.

Pelaksana tugas (Plt.) Pusdatin Kemendikbud, Hasan Chabibie mengungkapkan harapannya agar para peserta akan lebih komunikatif dalam berbagi kemampuan yang dimiliki, baik dalam bentuk menulis artikel, membuat video-video pembelajaran atau memfasilitasi komunikasi efektif. Duta inilah yang akan menjadi agen dalam pemanfaatan TIK yang ada di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Mereka akan secara kolaboratif dan sinergis berbagi ilmu, pengalaman dan bertukar wawasan dengan semua guru dari seluruh Indonesia, jelasnya.

Menurut Hasan, sejak tahun 2017-2019 para Duta Rumah Belajar yang terpilih mampu secara efektif melaksanakan tugas-tugas induknya dan penggerak inisiator implementator gagasan di tingkat lokal yang secara tidak langsung meningkatkan pemanfaatan TIK sebagai sarana pembelajaran secara nasional.  

Kegiatan Kuliah Umum PembaTIK Level 4: Berbagi ini, dimulai pada Senin, 14 September 2020 kemudian dilanjutkan dengan berbagai workshop seputar TIK dengan menghadirkan narasumber yang berkompeten seperti Charles Bonar Sirait yang akan membawakan materi terkait Kiat Sukses Bagi Para Pendidik untuk Berkomunikasi dengan Publik, Aktivis Pendidikan dan Pendiri Sokola Rimba, Butet Manurung untuk Motivasi Guru dalam Mengajar, penulis novel best seller Asma Nadia tentang Kiat Penulisan yang Menarik, influencer yang merupakan ex-jurnalis, Wicaksono atau biasa dikenal dengan @Ndorokakung yang akan membawakan Tips Sukses Menggunakan Sosial Media, serta Prof. Eko Indrajit yang akan menyampaikan Pemanfaatan Media Video Conference untuk Berbagi.

PembaTIK ini sendiri, tahun ini telah diikuti lebih dari 70 ribu guru dari pertama kali kegiatan ini diselenggarakan dua tahun lalu. Angka ini merupakan pencapaian yang luar biasa, terlebih hal ini juga menjadi indikator bahwa semakin banyak guru yang ingin meningkatkan kemampuannya untuk mengimplementasikan teknologi dalam mengajar di kesehariannya.

Para guru peserta kegiatan PembaTIK telah melewati level demi level yang tahun ini sepenuhnya dilaksanakan secara daring. Dari level Literasi TIK, para guru dibuka wawasannya terkait dasar-dasar teknologi pembelajaran, kemudian Level Impelementasi TIK, yang membekali para guru untuk terdorong dalam membangun strategi pengaplikasian teknologi dalam pembelajaran.

Setelah itu Level Kreasi TIK, guru diberikan kepercayaan diri untuk dapat menciptakan sendiri konten-konten pembelajaran. Di level terakhir adalah berbagi TIK, para guru peserta PembaTIK dibekali motivasi agar ilmu yang telah didapat selama ini tidak hanya berhenti di peserta, tapi dapat disebarluaskan ke rekan sejawat guru lainnya. Para guru inilah yang akan menjadi cikal dari guru-guru penggerak, guru-guru dengan inisiatif dan semangat tinggi untuk terus bekejar-kejaran dengan tuntutan zaman. Dari hasil kegiatan ini akan diambil lima wakil terbaik dari tiap provinsi yang layak menjadi wajah kementerian dalam hal pemanfaatan teknologi informasi aktivitas pembelajaran, tutur Hasan.

Akhir kata saya ucapkan selamat mengikuti pelaksanaan PembaTIK level 4 dengan tema berbagi inovasi pembelajaran mewujudkan Merdeka Belajar. Semoga tujuan kita untuk menciptakan kemerdekaan dalam belajar dan mengajar melalui inisiatif inovasi Bapak dan Ibu sekalian dapat segera tercapai, pungkas Mendikbud.


Jakarta, Kemendikbud – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim mengapresiasi Laporan Pemantauan Pendidikan Global (Global Education Monitoring Report) UNESCO Tahun 2020, pada Webinar Sosialisasi dan Respon terhadap Global Education Monitoring (GEM) Report 2020 dengan tajuk “All Means All”, secara daring di Jakarta (10/9/2020).
 
Laporan GEM tahun ini mencatat kesenjangan tingkat literasi orang dewasa dengan disabilitas di Indonesia mencapai 41%. Di sisi lain, tingkat kehadiran pelajar pendidikan menengah (usia 15 tahun) di Indonesia telah meningkat, walau perkembangannya masih di bawah syarat pencapaian Sustainable Development Goals yang telah disepakati oleh negara-negara anggota PBB pada tahun 2015, termasuk Indonesia.
 
Kemendikbud mengusung semangat inklusivitas dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan pendidikan sejak awal di tahap pembuatan kebijakan. “We never do anything alone. Seluruh kebijakan kita mendapatkan masukan, saran, dan nasihat dari berbagai pemangku kepentingan, ahli-ahli pendidikan, masyarakat, juga wakil pemerintah daerah dan pusat. Semuanya memberikan informasi pada Kemendikbud dalam membuat kebijakan. Sebab dalam pendidikan tidak ada satu jawaban tunggal. Education has the highest level of complexity. Semua butuh kolaborasi untuk mencapai hasil yang lebih baik,” tutur Mendikbud.
 
Tantangan pendidikan di Indonesia, menurut Mendikbud, tanpa pandemi Covid-19 pun sudah sangat besar. Baik secara geografi, budaya, maupun infrastruktur. Namun Kemendikbud tetap berupaya menyusun kebijakan terbaik untuk memastikan pembelajaran tetap berjalan. “PJJ bukanlah kebijakan Kemendikbud. Metode ini dipilih agar pendidikan tetap hadir, khususnya bagi anak-anak usia sekolah, dalam suasana yang menyenangkan dan aman,” katanya.
 
Desmond Lim, perwakilan Kementerian Pendidikan Negara Brunei Darussalam menyampaikan terima kasih atas paparan Mendikbud RI mengenai upaya-upaya luar biasa dan inspiratif yang dilakukan Indonesia untuk mencapai perubahan transformasional. “Terima kasih atas kesempatan ini,” ujarnya.
 
Di waktu yang sama, Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah Kementerian Dalam Negeri, Hani Nur Cahya Murni mengapresiasi upaya Kemendikbud dalam mendorong inklusivitas pembelajaran di tengah pandemi. Ia menyebut bahwa sesuai mandat UU No. 23 Tahun 2014, pemerintah daerah wajib menyelenggarakan pendidikan. Di tingkat kabupaten/kota untuk pendidikan dasar (SD-SMP), dan di tingkat provinsi untuk pendidikan menengah (SMA-SMK), sementara pendidikan tinggi ada di Kemendikbud. “Artinya, perlu bersama-sama,” tegasnya.
 
Staf Ahli Bidang Organisasi, Birokrasi, dan Teknologi Informasi Kementerian Keuangan, Sudarto menyampaikan hal senada. Ia mengatakan, butuh kerja bersama untuk meningkatkan kualitas pendidikan. “Pemerintah menjamin inklusivitas pendidikan, terutama bagi yang tidak mampu, misalnya lewat KIP, Beasiswa Bidikmisi, dan LPDP,” tuturnya.
 
 
Salah satu kebijakan inklusif Kemendikbud pada masa pandemi adalah relaksasi penggunaan Dana BOS, yang dalam masa pandemi ini dapat digunakan oleh kepala sekolah untuk mendanai kebutuhan sesuai dengan kekhasan sekolah masing-masing.
 
“Ada sekolah yang lebih butuh laptop untuk dipinjamkan kepada siswa, ada yang butuh kuota data, ada yang butuh untuk menggaji guru honorer, dan lain-lain. Ada keragaman kebutuhan yang dihadapi sekolah, sehingga kami memberikan keleluasaan penggunaan Dana BOS, tentunya dengan pertanggungjawaban dan akuntabilitas yang baik,” ujar Mendikbud.
 
Ditambahkan Mendikbud, Kemendikbud telah mengeluarkan kebijakan kurikulum di masa kondisi khusus sehingga sekolah diberikan hak untuk memakai kurikulum sesuai dengan kebutuhan sekolah. Apakah memilih kurikulum yang disederhanakan secara mandiri, kurikulum darurat yang disusun Kemendikbud, atau Kurikulum 2013.
 
“Secara dramatis, Kemendikbud telah menyederhanakan kurikulum agar peserta didik hanya mempelajari apa yang esensial saja untuk naik ke jenjang selanjutnya. Tidak mungkin guru mengajar seluruhnya, dengan keterbatasan yang ada,” tegas Mendikbud.
 
Mendikbud juga menegaskan bahwa orang tua memainkan peran penting, terutama pada pendidikan dasar dan anak usia dini (PAUD). Kemendikbud membuat modul-modul spesifik yang menyasar orangtua di rumah, lengkap dengan lembar kerja untuk orang tua. Kemendikbud juga memastikan bahwa penggunaan modul-modul ini di satuan pendidikan adalah legal sesuai dengan aturan yang ditetapkan. 
 
“Pada pandemi ini kita punya kesempatan membuat perubahan-perubahan fundamental pada penyelenggaraan pendidikan di Indonesia. Selain budgetary reform, banyak perubahan yang telah kita lakukan dalam dua-tiga bulan, yang biasanya butuh dua-tiga tahun,” kata Mendikbud.
 
Acara ini dihadiri perwakilan Kementerian Pendidikan negara-negara anggota ASEAN, perwakilan UNESCO, UNICEF, Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU) serta pejabat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Keuangan, dan Kementerian Dalam Negeri, dan Dinas Pendidikan seluruh Indonesia.
 
Ketua KNIU, Arief Rachman, berharap kegiatan ini menjadi tempat berbagi pengalaman, belajar bersama dan membangun kolaborasi untuk mengatasi tantangan pada pendidikan inklusif. “Praktik baik yang dilakukan Indonesia dapat menginspirasi negara lain untuk mengembangkan inovasi layanan pendidikan sesuai dengan karakteristik wilayahnya," demikian tutupnya di akhir acara.

Jakarta, Kemendikbud—Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Pusat Penguatan Pendidikan Karakter (Puspeka) menyelenggarakan Lomba Blog dan Vlog bertemakan Pembelajaran di Masa Pandemi COVID-19. Lomba ini merupakan rangkaian seri webinar yang diadakan Puspeka Kemendikbud pada bulan Agustus 2020.

Kepala Puspeka Kemendikbud, Hendarman, mengatakan, kompetisi ini menjadi wadah penyaluran kreativitas dan berekspresi bagi generasi milenial dan generasi Z dalam menulis serta membuat video. Hal tersebut diterangkan Hendarman melalui sambungan telepon di Jakarta, Sabtu (12/9/2020).

Diadakannya lomba ini bertujuan untuk memperluas publikasi dari substansi rangkaian webinar kurikulum kondisi khusus dan relaksasi pembelajaran tatap muka di zona kuning. Selain itu, lomba ini juga memberikan wadah berekspresi dan berkompetisi bagi para penulis blog dan pembuat vlog, serta memberikan variasi dan pemicu daya tarik agar peserta tetap setia mengikuti webinar selanjutnya. Dan yang tidak kalah penting lomba ini untuk menyampaikan pesan praktik baik terkait kebijakan pembelajaran di masa pandemi Covid-19.

Lomba akan digelar dalam enam kategori peserta, yaitu siswa SMP sederajat, siswa SMA/SMK sederajat, mahasiswa, pendidik, tenaga kependidikan, serta peserta umum. Hendarman mengajak para peserta didik, pendidik, dan masyarakat berbagi informasi dan cerita inspiratif mengenai pembelajaran di masa pandemi Covid-19. Dengan demikian, semua tripusat pendidikan yang mengikuti kegiatan ini dapat menyalurkan bakatnya dan menjawab kebutuhan zaman untuk meningkatkan peran seluruh elemen masyarakat dalam membangun karakter profil Pelajar Pancasila.

Berikut syarat dan ketentuan umum dari Lomba Blog dan Vlog ini. (1) Hasil karya bersifat orisinal, tidak melanggar hak kekayaan intelektual pihak manapun, dan belum pernah dipublikasi sebelumnya; (2) Apabila karya menggunakan musik yang memiliki hak cipta, peserta harus melampirkan izin dari pemilik hak cipta tersebut; (3) Karya yang diikutsertakan dalam lomba tidak sedang diikutsertakan dalam lomba sejenis; (4) Seluruh karya tidak mengandung unsur ujaran kebencian, SARA, pornografi, kekerasan, dan politik; (5) Seluruh peserta hanya boleh mengikuti salah satu lomba: blog atau vlog; (7) Peserta lomba blog bersifat individu; (8) Peserta lomba vlog dapat bersifat individu maupun tim; (9) Seluruh peserta tidak dipungut biaya dalam mengikuti lomba; (10) Kemendikbud berhak menggunakan seluruh karya yang diikutkan pada lomba; (11) Keputusan akhir juri tidak dapat diganggu gugat; dan (12) Peserta yang mengirimkan karya lebih dari satu kali, maka panitia akan menilai karya akhir yang dikirimkan.

Para peserta dapat mengirimkan karyanya untuk mengikuti lomba vlog dengan mengunggah ke media sosial Instagram dan memberikan tagar #CerdasBerkarakter, #VlogBerkarakter, #SeruBelajarKebiasaanBaru, dan #BahagiaBelajardiRumah.

Sedangkan untuk mengikuti lomba blog peserta dapat mengunggah karya ke laman Blogger, Wordpress, atau akun Facebook dengan mencantumkan tagar #CerdasBerkarakter, #BlogBerkarakter, #SeruBelajarKebiasaanBaru, dan #BahagiaBelajardiRumah.

Seluruh hasil karya peserta wajib diunggah melalui laman Puspeka Kemendikbud: cerdasberkarakter.kemdikbud.go.id. Pengiriman karya dapat dilakukan mulai tanggal 30 Agustus 2020 sampai dengan 17 September 2020. Seluruh karya yang masuk akan dikurasi dan diseleksi untuk menentukan pemenang masing-masing kategori yang akan diumumkan pada 26 September 2020. Enam pemenang akan mendapatkan hadiah gawai dan 20 karya terbaik pada masing-masing kategori akan mendapatkan hadiah menarik.

Jakarta, 8 Oktober 2020 – Setiap tahun tanggal 5 Oktober sejak tahun 1994, UNESCO merayakan Hari Guru Sedunia (World Teachers Day/WTD) untuk memperingati ulang tahun penandatanganan Rekomendasi ILO / UNESCO 1966 tentang Status Guru. Forum ini membahas seputar hak dan tanggung jawab guru, dan standar untuk persiapan awal mereka, pengembangan profesional berkelanjutan, pengerahan, pekerjaan, kondisi pengajaran dan pembelajaran. Melibatkan para pakar, kegiatan ini juga akan berisi dialog terkait rekomendasi para guru terhadap kebijakan di bidang pendidikan.

UNESCO melalui Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU) bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menggelar peringatan Hari Guru Sedunia dengan tema “Guru: Memimpin dalam krisis, menata masa depan pendidikan di Indonesia”.

Saat ini, permasalahan kepemimpinan guru menjadi sangat relevan untuk merespon krisis. Di tengah perjuangan melawan pandemi COVID-19, peran guru bertambah penting untuk berkontribusi dalam  menyediakan pembelajaran jarak jauh, memperhatikan dan mendukung kelompok rentan, pembukaan kembali sekolah, dan memastikan evaluasi hasil pembelajaran peserta didik yang efektif.

Tantangan lain di tengah proses pembelajaran yang berlangsung dalam jaringan (daring) untuk profesi guru dan tenaga kependidikan yaitu perkembangan teknologi. “Nilai utama dari proses pembelajaran adalah interaksi sosial dan ini tidak dapat digantikan oleh teknologi apa pun. Akan tetapi, kita perlu sadari bahwa teknologi telah mengubah cara hidup kita semua. Mari kita manfaatkan teknologi, maksimalkan kemampuan mengajar kita.,” ujar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim saat membuka Peringatan Hari Guru Sedunia (World Teachers Day), yang berlangsung secara virtual di Jakarta, Kamis (8/10).

“Kepemimpinan para guru di masa sulit ini terkait dengan kesanggupan para guru untuk tetap menyiapkan masa depan bagi murid-muridnya meski di tengah keterbatasan, bahkan untuk murid-murid yang termasuk pada kelompok rentan. Upaya tersebut patut kita berikan penghargaan yang setinggi-tingginya,” imbuhnya.

Para guru lanjut Mendikbud, tidak hanya bertugas untuk memastikan kelangsungan pembelajaran, tapi juga berperan mendukung kesehatan mental dan kesejahteraan murid mereka. Dalam berbagai kesempatan ia kerap menyampaikan bahwa fokus pendidikan adalah murid. Karena investasi yang paling berharga adalah investasi untuk sumber daya manusia.

“Terima kasih saya yang tak terhingga bagi Ibu dan Bapak guru. Yang telah mengorbankan waktu, tenaga, bahkan bagian dari hidupnya sendiri demi para murid,” ucap Mendikbud.

Selain berorientasi pada kebutuhan peserta didik, investasi yang tidak kalah pentingnya adalah guru atau pendidik. Kemendikbud terus memperjuangkan hak para pendidik melalui kebijakan rekrutmen, pengembangan pendidikan, peningkatan profesionalisme, dan peningkatan kesejahteraan guru.

Kemendikbud menghadirkan berbagai kebijakan dan program. Diantaranya, Program Guru Belajar untuk semua jenjang pendidikan. Program ini dirancang untuk membantu sebanyak mungkin guru dan tenaga kependidikan dalam melakukan pembelajaran jarak jauh yang sesuai dengan kondisi pandemi. Selain itu, Kemendikbud telah melatih 60 ribu guru dalam pelatihan ‘Pembelajaran Berbasis TIK’ agar para guru semakin mahir dalam memanfaatkan teknologi dalam mengajar.

Menambahkan strategi pengembangan guru, Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, Arief Rachman menjabarkan, ada lima bidang pekerjaan UNESCO yang dilakukan, yakni 1). Pemantauan instrumen normatif internasional tentang profesi guru; 2). Mendukung Negara anggota dalam pengembangan dan peninjauan kebijakan dan strategi guru; 3). Mengembangkan kapasitas untuk meningkatkan kualitas pengajaran dan pembelajaran; 4). Meningkatkan pengetahuan dan berbasis hasil kajian untuk implementasi dan pemantauan target guru di Pendidikan 2030; dan 5). Melakukan advokasi dan berbagi pengetahuan untuk mempromosikan pengajaran dan pembelajaran yang berkualitas.

Perlu diketahui, sebelumnya UNESCO sebagai tuan rumah Gugus Tugas Guru Internasional untuk Pendidikan 2030 telah aktif bekerja sama untuk mengatasi kesenjangan guru yang berkualitas dunia. “UNESCO secara khusus menyerukan anggota serikat untuk memastikan bahwa guru dan pendidik diberdayakan, direkrut secara memadai, terlatih dengan baik, berkualifikasi profesional, termotivasi dan didukung dalam sistem yang memiliki sumber daya yang baik, efisien dan diatur secara efektif”, urai Arief.

UNESCO menyebut, pelatihan, rekrutmen, retensi, status, dan kondisi kerja guru belum cukup ideal saat ini. Selain itu, di seluruh dunia masih terdapat kekurangan guru yang terlatih dengan baik. Data Institut Statistik UNESCO (UIS) menunjukkan bahwa sekitar 69 juta guru yang harus direkrut untuk memenuhi kebutuhan guru pada jenjang pendidikan dasar dan menengah di tahun 2030.

Oleh karena itu, pada kesempatan Peringatan Hari Guru Sedunia Tahun 2020 ini Mendikbud berharap padaseluruh insan pendidikan agar menjadikan situasi pandemi ini sebagai laboratorium bersama untuk menemukan solusi-solusi serta inovasi-inovasi..

“Saya mengajak kita semua untuk melanjutkan kolaborasi yang telah terbentuk di masa pandemi ini. Karena sekarang saatnya kita menata ulang pendidikan. Sekarang saatnya kita melihat lebih jauh apa yang sebenarnya paling dibutuhkan para guru, murid, dan bangsa ini agar mampu melakukan lompatanlompatan kemajuan,” pesannya.

Director and Country Representative, UNESCO Office Jakarta, Shahbaz Khan menyampaikan rasa terima kasihnya karena selama beberapa tahun terakhir, Kemendikbud telah bekerja sama memperingati Hari Guru Sedunia. Hal ini adalah wujud perhatian pemerintah untuk meningkatkan kualitas guru dan mutu pendidikan di Indonesia.  
“Kita tarus memahami masa depan pendidikan bersumber dari guru yang memiliki jiwa kepemimpinan, pembelajar dan inovatif. Oleh karena itu semua pemangku kepentingan pendidikan mempunyai tanggung jawab untuk  membuat kesamaan qualty education for all, no one  left behind,” katanya.

Senada dengan itu, Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama, Muhammad Ali Ramdhani mengatakan, dibutuhkan eksistensi agar guru mampun menata masa depan. Kemampuan beradaptasi merupakan hal yang substansial, sementara itu kompetensi untuk menghadirkan teknologi menjadi hal yang fundamental. Oleh karenanya, guru harus tampil sebagai sosok dinamis dan kritis dalam menata suatu bangsa.

“Dia harus menjadi pemimpin teladan, inspirator, inovator, katalisator agar mampu mencetak generasi tangguh. Sikapi keterbatasan sebagai peluang untuk menyiapkan masa depan yang lebih baik. Semoga guru Indonesia mampu menjadi pemimpin yang kritis dalam rangka mewujudkan Indonesia, yang maju berdaulat adil dan makmur.

Apresiasi kepada Guru Berbagi dan Guru Belajar

Dalam kesempatan ini, Kemendikbud juga memberikan penghargaan kepada guru yang aktif dalam program guru berbagi dan guru belajar. Guru Berbagi merupakan gerakan kolaborasi pemerintah, guru, komunitas, dan penggerak pendidikan untuk bersama menghadapi COVID-19. Melalui Gerakan ini, guru saling berbagi ide dan praktik baiknya yang tertuang dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Hal ini dilakukan agar sebanyak mungkin guru terbantu dalam melakukan pembelajaran jarak jauh sehingga anak-anak Indonesia lebih mudah untuk belajar dari mana saja.

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK), Kemendikbud, Iwan Syahril pada kesempatan yang sama mengatakan saat ini banyak sekali konten pembelajaran yang kreatif buatan guru dari berbagai pelosok daerah. Sebagai bentuk apresiasi, Kemendikbud telah memilih masing-masing tiga guru dari tiap jenjangnya yang dinilai aktif menggunggah RPP di  laman Guru Berbagi dan Guru Belajar.

Harapannya, penghargaan ini bisa memantik motivasi guru lain untuk berbagi praktik baik dan berkolaborasi dalam penyusunan konten pembelajaran berbasis daring, luar jaringan (luring) dan hybrid. “Tidak masalah sedikit atau banyak karya yang dibuat, yang penting adalah sebagai guru harus terus berkontribusi menghidupkan pendidikan dan menjadi teladan bagi sekitarnya,” ucap Iwan.  

Berikut nama-nama yang penerima penghargaan: Suratiningsih dari TK Negeri Pembina Kawedanan, Magetan, Jawa Timur; Dadan Irsyada dari SDN 061 Cijerah, Bandung, Jawa Barat; Niken Eka Priyani dari SDN 29 IDAI, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat; Fajar Rudhiyanto dari SDN Wonosari II, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta; Zakki Fitroni dari SMPN 01 Batu, Kota Batu, Jawa Timur. Damayanti Nahampun dari Skh Santo Fransiskus Assisi, Balikpapan, Kalimantan Timur. Sri Handayani, S.Pd dari TK Muslimat NU 18 Malang, Jawa Timur. Samin, S.Pd dari SMPN 3 Slogohimo Wonogiri, Jawa Tengah.

Selanjutnya, Anton Setiawan, S.S., M.Pd dari SMP Negeri 26 Surabaya, Jawa Timur; Sugiyono, S.Si., M.Pd dari SMA Negeri 1 Talun, Pekalongan, Jawa Tengah. Preddy Silitonga, S.Si dari SMA Swasta Methodist Tanjung Morawa; Sylvi Noor Aini, S.Pd dari SLB Negeri Cicendo, Kota Bandung; Siti Madinatoen, S.E dari SMKS Berdikari Jember, Jawa Timur;  Rustianah, S.Pd dari SMK Negeri 1 Wirosari Grobogan, Jawa Tengah; Nur Ahita Widiastuti dari KB TK Persatuan Istri Guru Malang, Jawa Timur. Dra. Lifya dari SLB Negeri 1 Padang, Sumatera Barat; Astri Yuliani dari SMKN 1 Batang, Jawa Tengah; Ahmad Thohir Yoga, M.Pd, M.Ed dari MAN 2 Kota Malang, Jawa Timur.

Pada webinar peringatan Hari Guru Sedunia tingkat nasional ini, salah satu sesinya menghadirkan narasumber yang kompeten di tingkat PAUD/TK, SD, SMP, SMA, SMK, dan SLB. Para narasumber tersebut berbagi praktik baik dan pengalaman seputar pembelajaran di masa pandemi.

Mereka adalah Zatiyah Lesyani, S.Pd dari RA/TK Istiqlal Jakarta; Agung Rahmanto, S.H., M.Pd dari SD Muhammadiyah Sapen, Yogyakarta; Taufik Nufantoro, S.Pd dari SMPN 1 Permata Kecubung; Dr. Harti Suprihatin dari SMAN 4 Bekasi; Sry Mulya Kurniati, M.Pd dari SMKN 6 Palembang; dan Mohamad Hikmat, S.Pd dari SLB N, Batang.

Ditambahkan Mendikbud, belajar dan berbagi merupakan kunci agar dapat menghadapi tantangan bersama. Tanpa adanya belajar dan berbagi, akan mustahil untuk dapat mengatasi semua masalah yang kita dihadapi. Terutama di masa pandemi ini.

“Saya mengajak seluruh insan pendidikan. Untuk menjadikan situasi pandemi ini sebagai laboratorium bersama. Untuk menemukan solusi-solusi serta inovasi-inovasi. Karena sekarang adalah saatnya kita menata ulang pendidikan untuk melihat lebih jauh apa yang sebenarnya paling dibutuhkan para guru dan murid. Apa yang sebenarnya dibutuhkan bangsa ini. Agar mampu melakukan lompatan-lompatan kemajuan,” pungkas Nadiem.







Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
Sekretaris Jenderal
Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Yogyakarta, Kemendikbud --- Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Wikan Sakarinto, mengapresiasi kolaborasi yang melibatkan Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) dalam rangka mendukung terwujudnya link and match antara pendidikan vokasi dengan dunia usaha dunia industri. Gerakan ini merupakan gerakan perubahan dari akar rumput bersama guru dan masyarakat untuk mentransformasi sekolah menjadi tempat yang ideal bagi siswa.
 
“Sinergitas antara pemerintah dengan seluruh pemangku kepentingan termasuk pegiat pendidikan merupakan keniscayaan yang harus dilakukan untuk mendorong perubahan ekosistem pendidikan”, tutur Wikan dalam Workshop Penguatan Eksosistem SMK melalui “Gerakan Sekolah Menyenangkan” (GSM), di Yogyakarta, Rabu (30/9).
 
Workshop Penguatan Eksosistem SMK melalui “Gerakan Sekolah Menyenangkan” (GSM) yang diikuti oleh Kepala BBPPMPV/BPPMPV dan Kepala SMK terpilih merupakan program yang digagas oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi bersama dengan Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan.
 
Program ini bertujuan untuk menginternalisasi tugas dan tanggung jawab Kepala BBPPMPV/BPPMPV sebagai pemimpin lembaga yang berfungsi untuk mencetak dan meningkatkan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan vokasi. Dengan harapan, peran Kepala SMK dapat dimaksimalkan untuk menyiapkan lulusan yang memiliki karakter budaya kerja yang baik dan berkompetensi unggul.
 
Workshop ini dilaksanakan pada 30 September hingga 2 Oktober 2020 di Kaliurang, Yogyakarta. Workshop diikuti oleh 28 orang perwakilan dari Balai Besar/balai PPMPV, 28 orang perwakilan SMK, perwakilan Direktorat Mitras DUDI dan 66 orang perwakilan pendidikan tinggi mitra Ditjen Pendidikan Vokasi.
 
Pendiri “Gerakan Sekolah Menyenangkan” Muhammad Nur Rizal pada kesempatan yang sama berharap, semangat perubahan yang diusung GSM berikut praktiknya mendorong terciptanya ekosistem pendidikan yang positif. “Diharapkan siswa dapat juga menerapkan di SMK masing-masing,” imbuhnya.  
 
Kerja sama antara gerakan akar rumput dan pemangku kepentingan yang telah dirintis ini harapannya tidak berhenti di kegiatan atau permukaan saja, tetapi dapat memantik proses perubahan yang lebih mendasar, yakni mengubah haluan kebijakan, budaya dan sistem pendidikan kita.
 
"Dunia sudah berubah dengan cepat dan tak pasti, maka kita juga harus berubah, dan perubahan itu tidak bisa berjalan sendirian. Kita bersama tak rela anak kita menjadi buruh di negerinya sendiri”, pungkas Rizal.

Jakarta, Kemendikbud --- Dalam rangka memperingati Hari Kesaktian Pancasila Tahun 2020, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim, menerbitkan Surat Edaran (SE) Nomor 86491/MPK.F/TU/2020 tentang penyelenggaran upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila Tahun 2020. Dalam SE yang terbit tanggal 28 September 2020 itu disebutkan, untuk mencegah penyebaran pandemi Covid-19, penyelenggaraan upacara dipusatkan di Monumen Pancasila Sakti Jakarta dengan memperhatikan protokol kesehatan.
 
“Upacara dilaksanakan secara sederhana dan khidmat, sangat minimalis dan mematuhi protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran Covid-19,” ujar Mendikbud di Jakarta, pada Selasa (29/09/2020).
 
Sementara itu, Menteri, Pimpinan Lembaga Negara/Instansi Pusat beserta Pimpinan Tinggi Madya atau sederajat, Kepala Daerah/Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkompinda), kantor/lembaga yang ada di daerah wajib mengikuti upacara yang dilaksanakan di Monumen Pancasila secara virtual dari kantor masing-masing.
 
Pokok selanjutnya yang disebutkan dalam SE tersebut adalah setiap kantor instansi pusat dan daerah, kantor perwakilan Republik Indonesia di luar negeri serta seluruh komponen masyarakat Indonesia, pada tanggal 30 September 2020 diimbau untuk mengibarkan bendera setengah tiang. “Pada tanggal 1 Oktober 2020 pukul 06.00 waktu setempat, bendera berkibar satu tiang penuh,” tutur Mendikbud.
 
Adapun komposisi petugas upacara di Monumen Pancasila Sakti terdiri atas Komandan upacara sebanyak satu orang dan cadangan satu orang, pasukan upacara sebanyak 20 orang dan cadangan delapan orang, Korps musik sebanyak 35 orang serta pembaca susunan acara sebanyak satu orang dan cadangan satu orang.
 
Pada pelaksanaan upacara yang terpusat di Monumen Pancasila Sakti, akan dihadiri Presiden Joko Widodo sebagai inspektur upacara, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat RI sebagai pembaca teks Pancasila, Ketua Dewan Perwakilan Daerah RI sebagai pembaca naskah UUD Tahun 1945, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat RI sebagai pembaca dan penandatangan ikrar, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan sebagai pembaca doa,  Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Panglima TNI serta Kepala Kepolisian Republik Indonesia. ***

 

 

Halaman 5 dari 5