Thursday, 24 October 2013 07:53

Indonesia Digital School

Pontianak - IndiSchool adalah kependekan dari Indonesia Digital School, program TELKOM Indonesia untuk Indonesia cerdas, yang dilakukan dengan pemberian internet wifi gratis.

Untuk mengakses konten edukasi bagi komunitas pendidikan di zona edukasi, Layanan IndiSchool merupakan layanan akses internet wifi di lokasi zona edukasi sebagai bagian dari layanan Indonesia wifi atau dikenal @wifi.id

Program myindischool.com ini disesuaikan untuk mendapatkan akses Internet cepat dan murah. Khusus anak sekolah dan guru, Telkom menyediakan voucher harian dan bulan dengan harga mulai dari 1.000 rupiah.

Lewat akses internet cepat, pengajaran jarak jauh bisa berjalan efektif dan interaktif. Telkom berupaya memperluas pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) untuk menghasilkan kegiatan pendidikan berkualitas.

Pada tahap awal, Telkom memberi akses internet dengan kecepatan 1 Mbps untuk digunakan guru dan murid mengakses konten edukasi seperti Portal Rumah Belajar atau TV Edukasi dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

Layanan ini dapat juga dilengkapi dengan adanya Welcome Page Sekolah yang content di dalamnya dapat disesuaikan di setiap sekolah.

Published in Warta Video

Merauke - Yohannes atau biasa disapa Annes merupakan salah seorang murid di SMP 11 Merauke, Sota. Tempatnya bersekolah, Sota adalah sebuah distrik di kabupaten Merauke yang terletak persis di perbatasan negara. Masyarakat Merauke biasa menyebutnya daerah perbatasan Papua – PNG. Mungkin untuk memudahkan komunikasi karena di wilayah tersebut dua negara berbeda sama-sama menggunakan kata Papua.

Seperti kebanyakan pelajar di negeri ini, setiap hari Annes disibukkan dengan kegiatan belajarnya di kelas dan ekstrakurikuler. Demikian pula teman-temannya yaitu Moses, Petrus, Realino, Margareth, Elisabeth dan Indah. Setiap kali tiba waktunya ekstrakurikuler komputer, kegembiraan mereka tak dapat ditutup-tutupi.

Meski kondisi ruang komputer sekolah sangat sederhana, hanya terdiri dari 20 meja kursi kayu dan 5 laptop, namun tidak mengurangi antusias Annes dan kawan-kawan. Sebab, laptop sekolah kini sudah dilengkapi dengan akses internet. Annes dan kawan-kawan jadi memiliki akses terhadap informasi dan ilmu pengetahuan yang lebih luas.

“Betapa anak-anak SMP ini sangat senang setiap kali pintu ruang komputer dibuka. Anak-anak seringkali berlarian berebut untuk dapat posisi tepat di depan komputer. Memang 1 komputer harus digunakan untuk bertiga atau berempat dengan teman-temannya. Inilah antusiasme anak-anak di sini,” kata Pak Munandar, guru TIK di SMP 11 Merauke.

Pak Munandar sendiri merupakan pria asli Jawa lulusan Universitas Cendrawasih – Jayapura yang ditempatkan sebagai guru di daerah perbatasan Sota. “Dengan segala keterbatasan yang ada, anak-anak SMPN 11 Merauke di Sota ini sangat antusias memanfaatkan akses internet di sekolah,” imbuh Pak T.H. Sopacua, Kepala Sekolah SMP 11 Merauke.

Meskipun sangat sederhana, akses internet yang disediakan Telkom Indonesia di SMP 11 Merauke ini memberi harapan baru bagi Annes dan kawan-kawan untuk menggapai cita-cita lebih tinggi. Ya, itulah gambaran yang kini terjadi. Setelah puluhan tahun merdeka, kini dunia pendidikan Indonesia melaju tanpa ragu.

Dengan semangat membangun asa di seluruh negeri, satu demi satu cahaya, detak usaha dan karya kini perlahan hadir menerangi setiap mimpi. Membuka jendela pengetahuan bagi anak bangsa melalui jaringan internet terbaik, terluas dan terjangkau.

Tak kenal lelah dan tanpa keraguan, terus berupaya mempelopori gerakan digitalisasi pendidikan. Demi tercapainya impian dimana seluruh anak Indonesia dapat menikmati kualitas pendidikan yang sama dan 100.000 sekolah se-Indonesia memiliki koneksi wi-fi. Semoga berhasil.

 

Sumber : http://detik.com

Published in Teknologi Pendidikan
Tuesday, 18 June 2013 13:05

Bantu Sekolahku

Pontianak - Sejak tahun 2012, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) dengan dukungan dari Bank Dunia, Uni Eropa dan Kerjaan Belanda mengembangkan sebuah sistem online yang dinamakan dengan "Bantu Sekolahku". Tujuan Kami adalah untuk mendorong anggota masyarakat dan komunitas sekolah/universitas termasuk juga pemerintah daerah dan anggota kementrian pendidikan dan kebudayaan untuk melaporkan kebutuhan-kebutuhan yang penting pada sekolah atau universitas sehingga kebutuhan-kebutuhan tersebtu dapat dicatat dan di selesaikan secara sistematis oleh sistem Pendidikan (termasuk Kemdikbud, propinsi, kabupaten/kota dan sekolah/universitas itu sendiri).

Pemerintah Indonesia dan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan berkomitmen kuat untuk meningkatkan sistem pendidikan dan sumber daya kependidikanan untuk memastikan lingkungan belajar yang optimal bagi anak-anak dan generasi muda. Filosofi dibalik Bantu Sekolahku adalah untuk menarik pengetahuan orang tua dan masyarakat, pengalaman dan keinginan untuk meningkatkan institusi kependidikanan dalam langkah konkrit. Kementrian Pendidikan dan Kebudyaan menyadari dan menghargai fakta bahwa orang tua dan anggota komunitas sering memiliki pengertian yang lebih baik mengenai kebutuhan sekolah dan oleh karena itu bersedia untuk bekerja sama dengan mereka untuk mengatasi kesenjangan dalam kualitas pendidikan pada tingkat sekolah.

Bantu Sekolahku adalah inisiatif unik pada bagian Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan untuk mengatasi tantangan pengiriman jasa dan kebutuhan akan transparansi dan akuntabilitas melalui penggunaan yang efektif dari ICT dan jaringan sosial.

Sistem Bantu Sekolahku akan diintegrasi secara mendalam pada sistem Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dan distrik-distrik supaya mengakselerasi waktu penyampaian respon dan mempromosikan akuntabilitas yang lebih besar melalui sistem. Desain sistem ini telah di setujui oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, dibawah kepemimpinan Bpk. Patdono Suwigno, Ketua UKMP3 & Staf Khusus Menteri untuk Pengawasan dan Pengembangan Organisasi.

Sistem Bantu Sekolahku akan didukung oleh Peraturan Menteri yang jelas atau setara yang memberi kewenangan tenaga kependidikan di semua tingkatan (pusat, provinsi, kabupaten, dll) untuk mendukung dan menggunakannya, baik utnuk mengecek kebutuhan dan untuk memastikan bahwa kebutuhan tsb terpenuhi. Sistem ini akan disosialisasikan secara luas, di semua tingkat sistem pendidikan (termasuk sekolah dan universitas).

Published in Teknologi Pendidikan
Thursday, 13 June 2013 11:17

Kemampuan IT Guru Masih Rendah

Jakarta - Rektor Universitas Terbuka, Tian Belawati, mengatakan kualitas guru secara umum tidak mengalami peningkatan cepat. Itu terbukti dari masih banyaknya guru yang tak mampu mengakses media pembelajaran modern.

“Dampaknya guru sering kali ketinggalan berbagai perkembangan. Termasuk metode pengajaran yang cepat dan lebih mudah,” ujar Tian Belawati dalam seminar Peningkatan Kualitas Guru Menuju Profesionalisme  di Jakarta, Selasa (11/6).

Ketidakmampuan guru beradaptasi dengan teknologi, sambung dia, membuat guru kehilangan berbagai kesempatan dan pengetahuan. Kenyataan tersebut menempatkan guru tidak ada perkembangan sedikit pun.

Menariknya, kata Tian tidak update-nya pengetahuan guru terjadi pada semua daerah. Mulai kota sampai desa. Guru-guru yang seharusnya mengembangkan pengetauan disibukkan pada kegiatan lain.

“UT pernah dipercaya untuk memberikan pelatihan bagi guru di daerah, ternyata banyak guru yang tak pernah lihat computer. Itu kan fakta yang sangat miris sekali,” paparnya dalam seminar yang digelar Tanoto Foundation.

Padahal, lanjut dia, pengetahuan dan keterampilan guru di era modern ini semakin tertantang. Bukan hanya laju pengetahuan yang cepat. Tapi juga anak didik menuntut guru memiliki pengetahuan yang lebih.

Dengan kondisi tersebut sepatutnya guru memiliki kesempatan menambah pengetahuannya. Melalui pemanfaatan teknologi yang ada, termasuk membangun jaringan dengan tenaga guru lainnya.

“Sudah banyak sekali pengetahuan yang mudah untuk disampaikan di jejaring social. Guru tak perlu lagi menggunakan metode yang lama untuk menjelaskan sesuatu,” paparnya.

Situs yang berkaitan dengan pengajaran juga sudah mudah diakses. Guru bisa mengambil materi pengajaran dari situs tersebut. Sehingga dalam penyampaian materi pada anak didik menjadi lebih cepat.

 

Sumber : http://www.jpnn.com

 

Published in Warta Pendidikan

Jakarta - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh, mencanangkan "Indonesia Digital School" (Indischool) ke 10 ribu, di Balai Kartini, (22/5). Indischool merupakan program PT. Telkom Indonesia memberi fasilitas koneksi internet nirkabel di sekolah-sekolah. Dengan pencanangan ini, berarti sebanyak 10 ribu sekolah telah menikmati fasilitas tersebut.

 

Disampaikan oleh Direktur Utama PT. Telkom, Arif Yahya,  pihaknya berkomitmen untuk menghubungkan 100 ribu sekolah pada akhir 2013 ini. Sedangkan target besar yang akan dicapai adalah terhubungnya 300 ribu sekolah pada 2015 mendatang. Untuk DKI Jakarta, koneksi nirkabel telah terpasang di 6.210 sekolah. "Untuk 2013 akhir, ada 100 ribu indischool. Baik melalui telkom maupun Kemdikbud," jelas Arif Yahya saat memberi sambutan.

 

Atas program tersebut, Mendikbud menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada PT. Telkom Indonesia. Menurutnya, perusahaan yang bergerak di bidang telekomunikasi ini merupakan perusahaan yang memiliki komitmen besar terhadap dunia pendidikan. "Pendidikan bisa mengantarkan bapak/ibu di PT. Telkom bisa seperti sekarang. Jadi ini bentuk darma bakti mereka kepada dunia pendidikan," jelas Menteri Nuh, saat menyampaikan alasan mengapa PT. Telkom peduli terhadap dunia pendidikan.

 

Mantan Rektor ITS ini juga mengatakan, pendidikan yang didukung dengan konektivitas seperti ini akan meningkatkan mutu pendidikan. Pendidikan bermutu akan menciptakan sumber daya manusia berkualitas dan berdaya saing. "Kualitas SDM yang memadai akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi," tuturnya. 

Disamping itu, mantan Menkominfo ini menegaskan bahwa pendidikan adalah vaksin sosial. Ibarat tubuh, supaya kuat dan tahan berbagai penyakit, harus divaksin. Ada 3 penyakit sosial yang mematikan yang harus divaksin, yaitu kemiskinan, ketidaktahuan atau kebodohan dan keterbelakangan peradaban. "Lantas apa vaksinnya? Pendidikan adalah vaksin sosialnya. Itulah mengapa adik-adik kita harus mendapat layanan pendidikan, agar mendapat vaksin sosial," pungkasnya.

 

Sumber : http://kemdikbud.go.id

Published in Teknologi Pendidikan

Jakarta - Didorong kesadaran akan pentingnya penyebaran akses internet demi pemerataan pendidikan di Indonesia, PT. Telekomunikasi Indonesia, TBK (Telkom) yang selalu berkomitmen memajukan pendidikan Indonesia meluncurkan IndiSchool sejak awal tahun ini.

IndiSchool atau Indonesia Digital School adalah sebuah program berupa akses internet murah yang diberikan kepada para siswa Indonesia di manapun berada. Melalui IndiSchool, Telkom akan membangun jaringan internet pita lebar (broadband) untuk 100 ribu sekolah di Indonesia. Dengan program ini, sekolah akan mendapatkan akses wifi sehingga para murid dan guru dapat berselancar di dunia maya secara nirkabel.

Setiap sekolah peserta program IndiSchool akan memperoleh akses internet sampai dengan 10 Mbps. Layanan internet tersebut dapat digunakan untuk mengakses berbagai konten edukasi, seperti Portal Rumah Belajar yang dikelola oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, maupun aplikasi manajemen sekolah (SIAP Online) yang disediakan oleh Telkom. Layanan TV Edukasi milik Kemendikbud pun dapat terhubung ke sekolah yang mengikuti program IndiSchool.

"Dengan pemerataan layanan infrastruktur melalui IndiSchool, diharapkan mutu pendidikan di Indonesia tidak tertinggal jauh dibandingkan sekolah di negara-negara lain." Ujar Direktur Enterprise & Wholesale Telkom, Muhammad Awaluddin.

Biaya yang harus dikeluarkan untuk mengikuti program ini pun terjangkau. Cukup dengan Rp 1.000, para siswa atau guru dapat memperoleh seribu ilmu dari Internet selama 24 jam. Jika ingin mengakses internet selama sebulan penuh, cukup dengan Rp 20.000 saja.

 

Sumber : http://kompas.com

Published in Teknologi Pendidikan
Wednesday, 22 May 2013 03:15

Digital Learning System Berbasis Android

Bandung - Sony Sugema merilis sistem pembelajaran digital terbaru Sony Sugema Digital Learning System (S2LDS) versi 5.0. Sistem ini memungkinkan siswa untuk mengakses seluruh kebutuhan belajarnya via smartphone atau gadget kesayangan mereka setiap saat.

S2LDS adalah sistem pembelajaran berbasis digital yang di dalamnya terdapat berbagai menu seperti video pembelajaran, e-book, terori singkat, arsip soal atau bank soal, try out dan berbagai aplikasi lainnya.

"Untuk versi terbaru, versi 5.0 ini lebih kompatibel dengan device yang saat ini ada. Bisa digunakan untuk berbagai gadget. Mulai dari Android, BlackBerry, iPad, Mac OS, Windows xp, Windows 7, Windows 8 dan Linux," ujar Direktur Utama sekaligus pendiri Sony Sugema Collage (SSC) dan SMA Alfa Centauri, Sony Sugema dalam acara launching di Kampus Alfa Centauri, Jalan Diponegoro, Bandung.

Ia mengatakan, pengembangan aplikasi ini setelah melihat begitu banyaknya peralatan canggih milik siswa. "Saya lihat anak-anak SMP saja sekarang gadgetnya canggih-canggih. Jadi kenapa itu tidak kita manfaatkan saja, supaya anak juga bisa belajar dan pintar lewat device yang dimilikinya," tuturnya.

Dalam demo yang ditunjukkan, siswa bisa mengakses video yang diberikan guru di kelas sesuai dengan materi yang diinginkan.

Arsip soal SNMPTN dari berbagai universitas bahkan arsip soal UN dari tahun 2005 pun bisa diakses dengan mudah. Sehingga siswa tak perlu lagi repot mencari untuk latihan soal.

Tingkat soal dan cara penyelesaiannya disusun sedemikian rupa sehingga mudah diikuti sesuai dengan kemampuan siswa. Bahkan, guru bisa memberikan bimbingan online via aplikasi online tersebut.

"Untuk mendukung aplikasi tersebut, kami menyiapkan bandwith 15 Gb. Itu untuk 700 siswa (Alfa Centauri)," kata Sony. Namun meski telah menerapkan sistem pembelajaran seperti ini, Sony menyatakan hal itu tak membuat jam belajar di sekolah jadi berkurang.

Program yang saat ini baru diaplikasikan di SMA Alfa Centauri dan SSC diharapkan Sony dapat diaplikasikan juga oleh sekolah lainnya yang membutuhkan. Bahkan Sony mengaku akan menghibahkan program S2LDS ini secara cuma-cuma untuk sekolah-sekolah yang tidak mampu dan membutuhkan.

"Untuk sekolah-sekolah di pelosok, saya gratiskan. Tapi kalau sekolah yang mampu, masa sih mau gratis?" katanya. Harapannya, dengan aplikasi ini guru-guru bisa lebih fokus dan memberikan perhatian lebih pada siswa.

Difaryadi Aziz (15) siswa kelas X SMA Alfa Centauri mengaku terbantu dengan aplikasi ini. Ia kerap mengerjakan PR yang diberikan gurunya dengan bahan-bahan yang ada di program tersebut.

"Kan di situ ada bahannya. Jadi bisa mengerjakan PR di mana aja. Buat latihan soal juga bisa," tutur Difar yang menyebut kerap membuka program tersebut via ponsel Android miliknya.

 

Sumber : http://detik.com

Published in Teknologi Pendidikan
Sunday, 12 May 2013 16:17

Ruang Kelas Masa Depan

Pontianak - Teknologi interaktif terbaru kini hadir di ruang kelas, dan kegiatan belajar mengajar benar-benar berubah total. Papan tulis dan kapur, bahkan pena dan pensil sudah dianggap kuno, kini digantikan dengan laptop, proyektor digital, tablet, eBoard, dan ada yang tahu ada apa selanjutnya?
Selama beberapa dekade, sekolah modern telah mengalami evolusi menjadi gabungan antara metode tradisional dan format pengajaran baru yang dibantu dengan teknologi digital. Salah satu kemajuan di bidang pendidikan berdampak besar terhadap lingkungan kelas yaitu Digital eBoard. Dengan menyempurnakan saluran komunikasi antara guru dan murid, dengan bentuk media baru dan teknik interaktif, siswa mendapatkan pendidikan yang lebih beragam dan menyeluruh.
Tapi bagaimana caranya? mungkin Anda bertanya-tanya.
Sekarang guru dapat menayangkan gambar berkualitas tinggi, artikel atau video dengan berbagai link ke eBoard untuk mendukung materi pelajaran. Dengan menggunakan sumber eksternal, seperti internet, tugas di kelas tidak terbatas hanya pada buku teks atau pengalaman guru, namun dari sumber informasi tanpa batas yaitu Web. Selain itu, dengan panduan dari guru, sumber acuan seperti Web dapat digunakan sebagai sarana mengajar yang efektif.
Tugas di kelas dapat dibagikan ke laptop para siswa dari eBoard melalui streaming nirkabel, untuk memastikan lingkungan yang kolaboratif. Fitur berbagi ini juga memuungkinkan guru mengontrol apa yang dibuka para siswa di layar, misalnya agar mereka tidak membuka situs web pribadi selama jam pelajaran. Hal ini akan menciptakan cara baru dalam ujian dan tugas-tugas, memberikan kuis dan ujian secara digital yang dapat didownload ke layar dan otomatis ditransfer kembali kepada guru.
Teknologi layar sentuh menjadikan pembelajaran tersebut melibatkan partisipasi siswa. Dengan menggunakan pena atau jari, siswa dan guru dapat mendemonstrasikan ide yang rumit menggunakan gambar yang dapat digerakkan di layar. Hal ini juga membantu menggali elemen kreatif selama pembelajaran, yang merupakan metode penting untuk menciptakan hubungan dengan dan mendidik para siswa.
Beberapa eBoard yang lebih mutakhir dilengkapi dengan paket perangkat lunak yang menyediakan alat tambahan bagi guru. Misalnya, eBoard Interaktif 650TS dari Samsung memiliki perangkat lunak dasar untuk menggambar, perpustakaan konten dan Classroom Management Software – sehingga guru dapat memberikan lebih banyak sumber acuan bagi siswa.
Hambatan utama menghadirkan perangkat baru di ruang kelas adalah mempertahankan nilai-nilai tradisional yang diharapkan dari sistem pendidikan, seperti interaksi dan panduan sosial, sekaligus mencetak generasi penerus dengan sumber daya, kesempatan, dan alat yang belum pernah ada sebelumnya.

 

Sumber : http://www.samsung.com

Published in Teknologi Pendidikan

Seiring dengan revolusi kedua Internet yang salah satunya dengan semakin menjamurnya website dengan konsep Jejaring sosial, situs jejaring sosial buatan Indonesia satu demi satu mulai bermunculan. Setelah BukuQ, kini  jejaring sosial berbasis pendidikan hadir kembali dengan nama: FodBoo. Ciri khas FodBoo terletak pada fitur dimana para member bisa saling berbagi mata pelajaran dengan cara mengunggah, melihat, serta mengunduhnya. Selain itu, karena berbasis tema pendidikan, para member diklasifikasikan sesuai asal sekolah serta asal provinsi sekolah tersebut.

Tentu saja sebagaimana jejaring sosial pada umumnya, maka para member pun bisa juga terhubung dengan sesama member baik satu sekolah maupun diluar sekolah, bisa berbagi aktivitas, bahkan ini yang menjadi kekuatan FodBoo bahwa secara lebih khusus lagi member bisa berbagi mata pelajaran terbaru.

Banyak cara agar pendidikan menjadi menyenangkan di mata para peserta didik. Besar harapanya FodBoo dapat membantu meningkatkan prestasi belajar para peserta didik di Indonesia yang bermuara pada peningkatan Mutu Pendidikan.

Published in Teknologi Pendidikan

Pontianak - Sebagai bangsa Indonesia, setiap tanggal 2 Mei kita merayakan Hari Pendidikan Nasional. Tanggal tersebut dipilih karena bertepatan dengan hari lahir Ki Hadjar Dewantara, pahlawan nasional yang berjasa di bidang pendidikan. Salah satu nilai yang ditanamkan oleh Ki Hadjar Dewantara adalah pentingnya pendidikan bagi anak-anak sejak usia sedini mungkin.

Seiring dengan perkembangan zaman, pendidikan anak tidak semata bisa diberikan di bangku sekolah. Salah satu bentuk saluran pendidikan yang semakin marak di Indonesia adalah homeschooling. Homeschooling kian menarik orang tua karena dinilai lebih tepat dalam mengembangkan bakat dan minat buah hati mereka. Sebenarnya sejarah homeschooling di Indonesia sudah tergolong lama.

Cara belajar seperti ini sejak dahulu telah banyak dijalani oleh para pedagang dengan sistem magang dan para santri dengan pesantrennya. Bahkan, menurut Kak Seto, pakar pendidikan anak Indonesia dalam bukunya yang berjudul “Homeschooling Keluarga Kak Seto” menyebutkan bahwa Bapak Pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara, Buya Hamka dan KH.

Agus Salim adalah para tokoh tokoh nasional yang pernah mengenyam pendidikan lewat homeschooling. Di masa kini, gagasan homeschooling dipelopori oleh John Cadwell Holt, pendidik asal Amerika Serikat, semenjak tahun 1960-an. Kemudian konsep homeschooling semakin menyebar luas ke Eropa dan Asia, sehingga akhirnya disambut oleh Indonesia.

Bagi para orang tua yang memilih jalur pendidikan homeschooling untuk buah hati mereka dengan mengambil peran langsung sebagai pengajar, ada beberapa langkah yang bisa dijadikan pedoman:

  1. Persiapkan diri. Sebelum memulai pembelajaran, orang tua lebih baik mempersiapkan diri dengan meyakini bahwa Anda-lah yang paling memperhatikan pendidikan anak melebihi siapa pun. Orang tua harus yakin bahwa ia sanggup dan mampu menjadi seorang pengajar sekaligus guru homeschooling untuk sang buah hati. Homeschooling memang memerlukan sebuah tanggung jawab yang besar, namun apabila Anda menyesuaikannya dengan gaya hidup keluarga, maka semua akan menjadi lebih mudah.
  2. Tetapkan metode khusus ketika mendidik anak di rumah. Kaji niat dan motivasi Anda terlebih dahulu. Mengapa Anda memilih homeschooling sebagai cara yang tepat? Seperti apa kah pendidikan yang ‘baik’ menurut Anda? Apa yang menurut Anda paling baik dalam hal anak-anak, pengajaran, serta pembelajaran? Apa cara termudah bagi anak-anak Anda dalam mempelajari sesuatu? Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat membantu orang tua dalam menentukan pendekatan mana yang paling tepat serta dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif bagi keluarga maupun anak-anak Anda. Perlu dipertimbangkan pula bahwa pendekatan yang sama belum berarti tepat untuk karakter anak yang berbeda-beda.
  3. Rencanakan kurikulum Anda. Banyaknya materi dan metode yang tersedia dapatmenjadi membingungkan bagi para orang tua yang mengajar homeschooling. Identifikasi pendekatan Anda terlebih dahulu agar lebih mudah menentukan kurikulum yang paling tepat untuk digunakan. Hal apa yang paling merangsang sang buah hati untuk dipelajari? Anda bisa mulai dari sana. Banyak sekali sumber ide yang dapat dimanfaatkan. Internet, misalnya, menyediakan sumber informasi tanpa batas yang sangat berguna dalam mengajar di lingkungan rumah: informasi-informasi mendasar mengenai berbagai mata pelajaran, artikel mengenai metodologi, komunitas pengajar homeschoolers, bahkan bahan edukasi gratis bagi para pengajar homeschoolers dari guru sekolah atau pengajar lainnya. Yang penting adalah Anda harus terus membaca, meneliti dan merencanakan mengenai apa yang ingin Anda ajarkan dan bagaimana cara mengajarkannya.

Setelah mengikuti pedoman tersebut, saatnya menentukan alat bantu belajar mengajar homeschooling. Untuk para orang tua atau pengajar homeschoolers, perlu diingat bahwa di masa kini sulit memisahkan pendidikan dengan teknologi, termasuk dalam hal homeschooling. Pengajar homeschoolers yang tidak hanya diuntungkan oleh lingkungan pembelajaran yang telah amat familiar dengan sang anak, melainkan juga oleh teknologi yang terdapat di sekitar lingkungan rumah.

Perangkat teknologi  pun dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu kegiatan belajar mengajar agar menjadi jauh lebih ringan dan menyenangkan, apalagi mengingat anak-anak telah banyak mengakrabi perangkat teknologi seperti laptop, tablet, smartphone dan sebagainya sejak usia yang sangat muda. Salah seorang pengajar homeschool merangkap ibu rumah tangga, Anita, mengatakan bahwa ia sudah terbiasa memanfaatkan iPad untuk membantu proses belajar mengajar anaknya, Darren, yang kini menginjak usia 5 tahun.

“Agar materi lebih mudah ditangkap Darren, saya menggunakan iPad dan berbagai aplikasi pembantu belajar,” papar Anita. “Saya juga memanfaatkan benar laptop dan televisi di rumah untuk menayangkan video-video edukasi sebagai perantara Darren untuk mempelajari alam semesta dan isinya. Dengan begini, sensor audio visual Darren semakin terasah, dan dia pun tidak akan mudah merasa bosan.”

Satu hal yang sangat erat kaitannya dengan pembelajaran menggunakan perangkat teknologi adalah di mana sebaiknya menyimpan semua konten edukatif yang ingin diajarkan. Seringkali data digital dengan kapasitas yang besar sekali tidak selalu dapat ditampung oleh memori perangkat yang bersangkutan. Oleh karena itu, perangkat penyimpanan konten digital akan sangat membantu pengajar homeschoolers dengan menyingkirkan kerepotan dalam menyimpan data di berbagai perangkat yang terpisah. Dengan mengumpulkannya di satu storage device yang dipakai khusus untuk kegiatan homeschooling, kegiatan belajar mengajar di rumah pun akan menjadi semakin kondusif.

Salah satu perangkat teknologi yang dapat menunjang kegiatan belajar mengajar homeschooling adalah Seagate Central Shared Storage. Seagate Central adalah sebuah perangkat penyimpanan (storage device) yang tidak hanya hadir dengan kapasitas luar biasa besar (4 TB),  namun juga  dapat memancarkan data yang tersimpan ke dalamnya untuk diakses oleh perangkat teknologi apa pun yang dapat terhubung ke jaringan Wi-Fi.

Materi pengajaran dalam bentuk apa pun, baik gambar, musik, video dan dokumen dapat dimuat di dalam Seagate Central yang berbentuk horizontal ramping ini. Seagate Central akan mengorganisir konten tersebut sesuai dengan tipe media, untuk kemudian di-streaming ke alat teknologi perantara belajar favorit buah hati. Konten yang dipancarkan tidak hanya bisa diakses oleh perangkat genggam, namun juga oleh Samsung Smart TV dan perangkat Apple. Dengan fitur-fitur tersebut, perangkat storage ini dapat menjadi partner tepat untuk para pengajar homeschoolers sekaligus penunjang kemudahan pembelajaran anak.

Sumber : http://www.chip.co.id/

Published in Teknologi Pendidikan
Page 2 of 3