Tuesday, 25 September 2018 20:47

Gala Siswa Indonesia (GSI) Jenjang SMP

Pontianak - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) terus menerus mendorong Program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) bagi peserta didik sebagai wujud revolusi mental. Kali ini Program PPK dihadirkan melalui Liga Sepak Bola (Gala) Siswa Indonesia, ajang kompetisi sepak bola bagi siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang akan diselenggarakan pada Tahun 2018.
Untuk wilayah Propinsi Kalimantan Barat penyelenggaraan Gala Siswa Indonesia (GSI) Jenjang SMP berlangsung tanggal 11-14 September 2018 di Lapangan Sepak Bola Sultan Syarif Abdurahman Pontianak. Even ini diikuti oleh tujuh (7) kabupaten/kota di Propinsi Kalimantan Barat, yaitu : Kabupaten Kubu Raya, Kota Singkawang, Kabupaten Landak, Kabupaten Bengkayang, Kabupaten Kapuas Hulu, Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara. Namun, di detik-detik akan dimulainya even ini, tiba-tiba Kabupaten Bengkayang mengundurkan diri tanpa alasan yang jelas dan akhirnya even ini hanya diikuti oleh enam (6) kabupaten/kota saja dari empat belas (14) kabupaten/kota di Propinsi Kalimantan Barat.
Penyelenggara kegiatan Gala Siswa Indonesia (GSI) Jenjang SMP Propinsi Kalimantan Barat adalah Dinas Pendidikan Propinsi Kalimantan Barat, Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Kalimantan Barat dan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Propinsi Kalimantan Barat. Untuk informasi tambahan, Kontingan Kapuas Hulu dan Kontingan Kabupaten Landak menginap di LPMP Kalimantan Barat selama empat (4) hari. Hasil dari GSI Propinsi Kalimantan Barat adalah: Juara 1 yaitu Kabupaten Landak, juara 2 yaitu Kabupaten Ketapang dan Juara 3 yaitu Kabupaten Kayong Utara.

Published in Warta Pendidikan

Jakarta - Mayoritas peserta Ujian Nasional Perbaikan (UNP) masih belum berhasil memperbaiki nilai, atau tidak berhasil memperoleh nilai di atas rata-rata 55. Hal ini diketahui dari hasil UNP yang diumumkan hari ini, Sabtu, 17 September 2016.

 

Kepala Pusat Penilaian Pendidikan, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Nizam menjelaskan, total terdapat 5 ribu-an peserta yang mengikuti UNP 2016 ini. Peserta UN Perbaikan terbanyak adalah lulusan SMA dengan jumlah 30.621 orang, kemudian SMK berjumlah 19.769 peserta, dan Pendidikan Kesetaraan Paket C 19 peserta.

 

Namun hanya 32 persen atau 9.821 peserta SMA memperoleh hasil nilai di atas rata-rata. Sementarapeserta SMK yang nilainya di atas rata-rata hanya 23% (4.309), dan peserta ujian Paket C 53 persen (10 peserta).

 

"Meskipun belum memuaskan, hasil tersebut jauh lebih baik dibanding UNP sebelumnya dimana hanya 17% peserta yg capaiannya melampaui standar," ujarnya di Jakarta, Sabtu (17/9/2016).

 

Pengumuman hasil UNP dapat diketahui secara online (daring) atau melalui sekolah-sekolah tempat penyelenggaran UNP.

 

Peserta UNP menempuh ujian antara 1-6 mata pelajaran, yang capaian nilanya saat UN sebelumnya kurang dari 55. UNP memang tidak diwajibkan, namun disediakan bagi siswa lulusan SMA/SMK sederajat yang ingin memperbaiki capaian nilainya.

Nizam menuturkan, peserta yang mengikuti UNP membutuhkan nilai perbaikan karena adanya keinginan untuk mencapai persyaratan untuk masuk le Akademi Militer, Akademi Polisi, maupun perguruan tinggi.

Published in Warta Pendidikan

Jakarta - Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) ditutup, Kamis (24/10), di Gedung D Kemdikbud, Jakarta. Penutupan dilakukan oleh Direktur Pembinaan SMA, Harris Iskandar. OPSI, kata Harris, diselenggarakan untuk mewadahi bakat-bakat penelitian mulai jenjang sekolah hingga nasional dan internasional.

 

“Ini bukan hanya berguna bagi adik-adik sekalian dalam pengembangan kapasitas, tapi juga bagi Indonesia. Indonesia butuh peneliti, inovator, penemu, karena ke depan luar biasa keadaannya,” kata Harris dalam sambutannya.

 

Atas hasil kerja keras yang dilakukan oleh peserta OPSI hingga ke tingkat nasional ini, Harris mengatakan, setiap peserta akan memperoleh penghargaan.

 

OPSI menjaring pemenang dalam tiga bidang lomba, sains dasar, sains terapan, dan IPS/Humaniora. Untuk masing-masing bidang ditetapkan lima belas pemenang yang terdiri dari peraih medali emas, perak, perunggu, penghargaan makalah, penghargaan display, penghargaan presentasi, dan penghargaan khusus.

 

Menurut koordinator juri bidang lingkungan, Hasroel Thayib, penelitian para siswa ini luar biasa. Ide-ide kreatif yang ditelurkan melalui OPSI ini bisa menjadi bahan penelitian lebih lanjut bagi peneliti-peneliti sesungguhnya. “Jangan dilihat penelitian iini seolah mereka doktor. Ini SMA. Tapi ada hal-hal yang harus kita nilai, dan ini bagus, walaupun belum sempurna. Idenya anak-anak ini oleh perguruan tinggi mari kita kembangkan lebih lanjut, diilmiahkan benar-benar,” katanya.

 

Guru besar ilmu lingkungan pasca sarjana Universitas Indonesia ini menambahkan, anak-anak SMA peneliti-peneliti muda ini hanya perlu dibimbing untuk merangsang keingintahuan mereka. Ia mengakui, penelitian yang berbasis keingintahuan di Indonesia masih kurang. Untuk itu, penting bagi Kemdikbud untuk mengembangkan keingintahuan siswa. “Ini tinggal kita lecut sedikit saja tentang keingintahuan mereka, tugas kita sebagai juri dan pembimbing adalah merangsang agar keingintahuan secara akademis meningkat,” katanya.

 

Sumber : http://kemdikbud.go.id

Published in Warta Pendidikan
Wednesday, 23 October 2013 14:02

Potret Pendidikan Indonesia Timur

NTT - Akses untuk mendapatkan pendidikan, adalah salah satu kendala bagi siswa - siswi di desa terpencil, itu juga yang dialami anak-anak yang ada di  Desa Mocok Kecamatan Satar Mese Kabupaten Manggarai Propinsi Nusa Tenggara Timur.

Published in Warta Video

Jakarta - Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan bidang Pendidikan (Wamendik) Musliar Kasim, membuka Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) tahun 2013. Pembukaan dilakukan di Gedung D Kemdikbud, Rabu (23/10). OPSI akan berlangsung 21-27 Oktober 2013.

 

Wamendik Musliar menyampaikan kebanggaannya kepada seluruh peserta OPSI. Menurut dia, poster dan materi penelitian para siswa tersebut tidak kalah dengan poster dan materi penelitian mahasiswa, bahkan dosen. Penelitian, kata Dia, harus ditumbuhkembangkan sedini mungkin. “Tidak ada temuan yang berarti kalau tidak dimulai dengan penelitian,” katanya.

 

Musliar juga menyinggung kurikulum 2013 yang telah diluncurkan Juli lalu. Dalam kurikulum tersebut, kata Dia, tujuan utamanya adalah menciptakan generasi yang kreatif, afektif, kognitif, dan inovatif. Untuk inovatif, perlu dikembangkan dengan penelitian.

 

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Pendidikan Menengah, Ahmad Jazidie melaporkan, OPSI merupakan kegiatan yang secara rutin dilakukan. Kegiatan ini, kata Dia, sebagai bagian dari ikhtiar Kemdikbud untuk membangkitkan kecintaan para peserta didik dalam dunia penelitian. “Pada akhirnya, kecintaan meneliti tersebut akan membawa kemajuan untuk negeri yang kita cintai ini,” tuturnya.

 

OPSI kali ini diikuti oleh 204 peserta, 66 guru pendamping, 25 tim juri, dan 40 panitia. Adapun bidang penelitian yang dilombakan adalah sains dasar yang terdiri dari matematika, fisika, kimia, dan biologi; sains terapan yang terdiri dari elektronika/mesin, pertanian, kesehatan, lingkungan, informatika/komputer; dan IPS/humaniora yang terdiri dari ekonomi, bahasa, psikologi/pendidikan, sejarah, budaya, dan humaniora.

 

Musliar menegaskan, setiap peserta harus menjunjung sportivitas dalam OPSI. Demikian pula dalam hal penilaian, Ia yakin tim juri akan menilai secara jujur dan adil. Karena juara OPSI ini akan menjadi wakil Indonesia di tingkat internasional. “Kalau nanti anda merasa pede sekali, poster saya bagus, presentasi saya bagus, tapi tidak menang, jangan juri disalahkan. Karena mereka akan memilih yang terbaik. Sportivitas harus kita junjung,” tegasnya.

Sebelum dibuka oleh Wamendik Musliar Kasim, peserta dan juri telah mengucapkan ikrar OPSI. Isi dari ikrar tersebut di antaranya adalah untuk menjunjung tinggi sportivitas, baik dalam bertanding maupun penilaian.

 

Sumber : http://kemdikbud.go.id

Published in Warta Pendidikan

Jakarta – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) seperti tahun-tahun sebelumnya akan menggelar Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) 2013 pada tanggal 16-22 Juni 2013, di Medan, Sumatera Utara (SUMUT). “Tujuan dari penyelenggaraan FLS2N ini adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui budaya belajar, berkarya, dan mengembangkan potensi diri, serta sikap kompetitif,” kata Thamrin Kasman, Ketua Panitia Kegiatan tersebut, di Jakarta beberapa hari yang lalu. "Selain itu untuk memperkokoh rasa persaudaraan, persatuan, dan kesatuan bangsa."

Dengan tema ”Karya Prestasi Siswa Untuk Kemilau Budaya Nusantara” dunia pendidikan dan kebudayaan diharapkan dapat memotivasi dan mengoptimalisasi segala aspek kehidupan, termasuk sumber daya manusia. Kesenian adalah merupakan salah satu kelompok mata pelajaran yang strategis dan merupakan salah satu wahana bagi siswa untuk berekspresi sehingga memunculkan karya yang dapat di banggakan oleh bangsa Indonesia.

Peserta FLS2N ini adalah siswa sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), siswa berkebutuhan khusus (PPLK), sekolah menengah atas (SMA) dan Siswa Tingkat Sekolah Kejuruan (SMK) baik negeri maupun swasta. Jumlah peserta tahun ini sebanyak 2.838 siswa terdiri dari SD 264; SMP 627; PKLK Dikdas 198; SMA 594; PKLK Dikmen 198 dan SMK 957.  Kali ini akan dipertandingkan lomba menyanyi, pidato, mendongeng, seni tari kreasi daerah, melukis, baca puisi, story telling, seni baca Alqur’an dan lain-lain. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh direncanakan membuka secara resmi acara tersebut.

Panitia daerah yang berkunjung ke Jakarta untuk melakukan koordinasi dengan panitia pusat mengatakan bahwa Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujo Nugorho menyambut gembira terpilihnya daerahnya sebagai penyelenggara kegiatan penting ini. Gubernur berharap penyelenggaraan FLS2N 2013 ini berdampak positif bagi pengembangan dunia pendidikan dan kebudayaan di Sumatera Utara. "Semoga berkontribusi juga dalam mendukung Kunjungan Wisatawan datang ke  Sumatera Utara 2013." Ujarnya.

 

Sumber : http://kemdikbud.go.id

Published in Warta Pendidikan