Pontianak - Kegiatan penjaminan mutu pendidikan merupakan salah satu agenda utama yang akan dilakukan oleh LPMP Kalimantan Barat pada tahun 2109.  Atas dasar tersebut, LPMP Kalimantan Barat melaksanakan kegiatan Rapat Koordinasi dan Sosialisasi Penjaminan Mutu Pendidikan Provinsi Kalimantan Barat yang dilaksanakan di Hotel Ibis Pontianak tanggal 28-30 Maret 2019.

Kepala LPMP Kalbar Drs. Aristo Rahadi, M.Pd dalam kata sambutannya menyatakan bahwa kegiatan ini sangat penting dilaksanakan karena pada tahun 2018 progress pengiriman Pemetaan Mutu Pendidikan (PMP) Kalimantan Barat berada pada posisi ke tujuh terendah se-Indonesia.  Untuk itu koordinasi dan sosialisasi kepada pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten/Kota dilaksanakan dalam upaya meningkatkan progress pengiriman PMP agar lebih baik lagi.  “Target kita progress PMP tahun 2019 harus mencapai setidaknya di angka 95%, bila perlu urutan 10 besar se-Indonesia” ujar Kepala LPMP Kalbar.

Kegiatan yang melibatkan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan beserta pejabat yang terlibat dalam PMP ini juga membahas tentang kesiapan dalam menghadapi beberapa agenda diantaranya PPDB dengan sistem zonasi, Gala Siswa Indonesia, dan gebyar Hari Pendidikan Nasional 2019.  Hasil akhir dari kegiatan ini adalah terwujudnya komitmen bersama dalam menyukseskan kegiatan Penjaminan Mutu Pendidikan Provinsi Kalimantan Barat tahun 2019. (Irfan)

 

Published in Penjaminan Mutu

Di penghujung tahun 2018 ini LPMP Kalimantan Barat kembali menggelar kegiatan Bimbingan Teknis Kurikulum 2013 bagi guru PJOK jenjang Sekolah Dasar. Bimbingan teknis diselenggarakan dalam rangka mengakomodir permintaan dari Kabupaten/Kota terkait dengan implementasi kurikulum 2013 khususnya bagi guru PJOK jenjang Sekolah Dasar (SD).  Hal ini dikarenakan bahwasannya guru PJOK belum pernah berkesempatan untuk diberikannya bimbingan Teknis terkait dengan implementasi Kurikulum 2013 tersebut dan mereka sangat menanti-nantikan bimbingan teknis ini sehingga kesulitan dan kendala yang mereka hadapi terkait dengan implementasi Kurikulum 2013 di daerah masing-masing dapat minimalisir.

Dalam kegiatan tersebut terungkap bahwasannya implementasi kurikulum 2013 ternyata tidaklah sesulit yang mereka bayangkan, hal ini diungkapkan oleh para narasumber dimasing-masing kelas, “sebelumnya mereka sama sekali belum familiar dengan konsep pembelajaran di kurikulum 2013, akan tetapi setelah mereka di bimbing dan dipandu secara seksama dari mulai tahap perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran, baru lah mereka menyadari bahwasannya implementasi Kurikulum 2013 itu tidaklah sulit.”

Selama 4 (empat) hari dari tanggal 4 s/d 7 Desember 2018  sejumlah 84 (delapan puluh empat) peserta menerima materi yang disampaikan oleh narasumber dengan penuh semangat dan antusiasme yang tinggi, bagaimana tidak  semangat mensana in conpore sano masih melekat di jiwa masing-masing peserta karena mereka beranggapan bahwa segala tujuan itu hanya bisa dicapai dengan tubuh dan pikiran yang sehat.

Kepala LPMP Kalimantan Barat  Drs. Aristo Rahadi berkesempatan menyampaikan arahannya di acara pembukaan “Guru olah raga jangan hanya memfokuskan kegiatan belajar mengajar dilapangan saja akan tetapi juga harus menanamkan  pendidikan karakter kepada anak didik, kegiatan ini tentunya dalam rangka meningkatkan kompetensi bagi guru khususnya guru PJOK,” ujarnya. 

Kasi Fasilitasi Peningkatan Mutu Pendidikan LPMP Kalimantan Barat, Bapak Iwan Kurniawan, S.Si, M.Si menambahkan bahwasannya sebanyak 175 (seratus tujuh puluh lima) guru PJOK disiapkan untuk mengikuti kegiatan ini, masih tersisa 80 (delapan puluh) orang peserta lagi yang akan mengikuti kegiatan Bimtek Tahap II  yang akan dilaksanakan pada tanggal 17 s/d 20 Desember 2018 mendatang. Salam Olah Raga………………

Published in Penjaminan Mutu
Thursday, 15 November 2018 07:33

Info Verval PTK ( NUPTK )

Dikarenakan akan dilakukan penataan sistem beserta database pengelolaan NUPTK di vervalptk, maka mulai tanggal 1 Desember 2018 sampai dengan waktu ditentukan berikutnya (setelah data master referensi PTK dan sistem kondisi stabil), pengajuan penerbitan bagi calon penerima NUPTK akan di tutup sementara. Proses penerbitan NUPTK bagi guru yang telah melakukan pengajuan NUPTK sebelum tanggal 1 Desember 2018 tetap berjalan seperti biasa. Operator sekolah diharapkan segera melakukan pengajuan penerbitan NUPTK bagi calon penerima NUPTK.

 

Proses Aproval Perbaikan Data Master dilakukan oleh Dinas setempat bukan oleh Pusat, jika belum dilakukan aproval silahkan kordinasi dengan operator Dinas. Perbaikan data master hanya dapat diajukan sebanyak 2 (dua) kali, setelah itu tidak dapat mengajukan perbaikan data master.

 

Petunjuk Pengajuan NUPTK

Published in Pengumuman

Yogyakarta, Kemendikbud —- Memasuki era milenium, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy, mengimbau para guru untuk terus mengembangkan belajar mengajar di sekolah dengan model cara berpikir tinggi/higher order thinking skills (HOTS).

Dengan pengembangan model tersebut dapat menghasilkan anak-anak berkemampuan berpikir kritis, keterampilan berkomunikasi yang baik, berkolaborasi, berpikir kreatif, dan percaya diri. Hal tersebut disampaikan Mendikbud saat membuka kegiatan Pembekalan Guru Inti Program Peningkatan Kompetensi Pembelajaran Berorientasi pada HOTS, di Yogyakarta, Jumat (09/11/2018).

“Dalam menyiapkan peserta didik yang siap bersaing menghadapi era milenium dan revolusi industri 4.0, guru harus mampu mengarahkan peserta didik untuk mampu berpikir kritis, analistis, dan mampu memberikan kesimpulan atau penyelesaian masalah,“ jelas Mendikbud.

Mendikbud mengatakan, belajar pada hakekatnya adalah perubahan tingkah laku. Perubahan tersebut mencakup cara berpikir, bersikap, dan bertindak. “Dalam berbuat sesuatu, pertama yang dilakukan adalah berpikir dahulu. Bersikap dipengaruhi cara berpikir. perilaku atau tindakan, suatu langkah konkrit berdasarkan sikap. Itulah belajar,” terang Mendikbud.

Mendikbud mengajak para guru untuk memperkuat perilaku siswa dengan komponen berpikir, bersikap, dan bertindak. “Ajak siswa kita untuk berpikir kreatif dan kritis, membangun kerja sama atau berkolaborasi. Mohon guru inti jangan berikan pendidikan yang tidak kreatif. Kita harus memberikan yang terbaik untuk anak-anak kita,“ pesan Mendikbud.

Mendikbud juga berharap para guru inti dapat menularkan ilmu yang didapat selama kegiatan pembekalan kepala guru lain. Tugas guru inti tidak boleh pilih kasih dalam memberikan pencerahan kepada sesama guru. Bagi pengalaman yang didapat.

Kegiatan Pembekalan Guru Inti Nasional Program Peningkatan Kompetensi Pembelajaran (PKP) berorientasi pada Keterampilan Berpikir Tinggi yang diselenggarakan pada tanggal 8 hingga 13 November 2018, diikuti oleh 240 peserta dari Provinsi Aceh, Bengkulu, Lampung, Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta, Kalimantan Utara, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Papua Barat.

Tujuan diselenggarakannya kegiatan pembekalan guru ini adalah untuk menyiapkan guru inti dalam zonasi Program Peningkatan Kompetensi Pembelajaran berorientasi pada Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi sesuai dengan mata pelajaran yang diampu guru. Selain itu, untuk meningkatkan pemahaman dan kompetensi guru inti dalam program peningkatan kompetensi, meliputi konsep, strategi penggunaan perangkat, dan strategi pelaksanaan PKP dalam pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan berpikir tinggi.

“Sehingga dapat meningkatkan kualitas peserta didik yang pintar dan sukses,” pungkas Mendikbud. *

Published in Penjaminan Mutu
Saturday, 13 October 2018 10:16

Persiapan Pelaksanaan PPG Dalam Jabatan Tahun 2019

Penetapan peserta PPG Dalam Jabatan 2019 diawali dengan seleksi administrasi.  Seleksi dilakukan melalui verifikasi dan validasi berkas persyaratan administrasi oleh Dinas pendidikan Kabupaten/provinsi dan LPMP . Persyaratan peserta dan jadwal pelaksanaan  sebagaimana Lampiran Surat Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan No. 23677/B.B4/GT/2018 dapat disampaikan sebagai berikut

Published in Pengumuman

Jakarta, Kemendikbud -- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) menyampaikan bahwa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terus berupaya mengangkat kembali posisi guru sebagai profesi terhormat. Selain terus berupaya memenuhi hak dan memperbaiki kesejahteraan para guru, pemerintah juga mendorong agar guru semakin berdaya sesuai dengan profesinya.

"Saat ini kita sedang berusaha keras menjadikan guru sebagai pekerjaan profesional. Sehingga tidak sembarang orang menangani pekerjaan guru," disampaikan Mendikbud Muhadjir Effendy dalam sambutannya pada Lokakarya Hari Guru Sedunia Tahun 2018, di kantor Kemendikbud, Jakarta, Selasa (2/10).

Guru, menurut Mendikbud, adalah 'akar rumput' pendidikan nasional. Perannya sangat penting, meski seringkali dianggap remeh karena posisinya. "Tidak akan ada pendidikan yang 'menghijau' jika tidak ada guru. Dan juga pendidikan tidak akan subur kalau gurunya, tidak 'subur'. Karenanya, sebelum bicara tentang pendidikan yang berkualitas, sejahterakan guru. Dan beri dia status yang membikin dia bangga, sehingga dia memiliki self-dignity," tuturnya.

Ditambahkannya, saat ini Kemendikbud terus berupaya memberikan hak-hak guru agar memiliki martabat dan kepercayaan diri. Diyakini Mendikbud, hal tersebut dapat mendorong kualitas proses pembelajaran yang lebih baik.

Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah adalah mendorong jelasnya status guru. Namun, dengan keterbatasan kemampuan pemerintah, pengangkatan guru tidak bisa dilakukan serta merta, tetapi bertahap. "Setelah tes CPNS ini, masih ada peluang untuk guru yang usianya sudah 35 tahun untuk mengikuti tes calon pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja," ujar Muhadjir.

Menjadi guru profesional

Sekarang ini, menurut Mendikbud, tugas Kemendikbud adalah mendorong para guru dapat menjadikan peserta didiknya cerdas dan berkarakter. Untuk itu, pola pelatihan guru akan diubah agar semakin memberdayakan dan memperkuat posisi guru sebagai tenaga profesional.

Setidaknya terdapat tiga hal yang menjadikan guru sebagai profesi yang terpandang. Yang pertama adalah kompetensi inti (keahlian). Hal ini mencakup kecakapan pedagodis dan juga kepribadian (karakter) pendidik. Kedua, adalah kesadaran dan tanggung jawab sosial.

"Dia abdikan dirinya untuk kepentingan keahliannya, dan manfaat keahliannya dia persembahkan untuk kepentingan masyarakat. Kalau tidak, maka pekerjaan profesional itu justru bisa membahayakan banyak orang," kata Mendikbud.

Dan yang ketiga adalah adanya semangat kesejawatan dan kebanggaan terhadap korpsnya. Salah satu ciri profesi, menurut Mendikbud, adalah adanya asosiasi profesi.

"Asosiasi profesi itu untuk saling mengasah kemahiran, kecakapan, bersama-sama. Saling tukar menukar pengalaman tentang ilmu dan keahliannya. Seharusnya asosiasi guru juga demikian," ujar Muhadjir.

Peningkatan Kualitas Proses Pembelajaran

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK), Supriano, mengajak guru meningkatkan kualitas pembelajaran untuk menghadapi tantangan abad 21. Guru diharapkan menghadirkan pembelajaran yang mendorong aktivitas (belajar untuk mempraktikkan) dan kompetensi. Serta pembelajaran yang mengasah keterampilan berfikir tingkat tinggi/high order thinking skills.

Menurut Dirjen Supriano, fokus pelaksanaan program Ditjen GTK di tahun 2019 adalah mendorong peningkatan kualitas pembelajaran di kelas. Pengembangan kompetensi guru akan merujuk pada potret mutu yang sudah cukup spesifik, seperti analisis hasil ujian nasional. Dicontohkannya, jika nilai matematika pada ujian nasional di suatu zona masih rendah, maka para guru di dalam zona tersebut akan berdiskusi tentang strategi peningkatan mutu mata pelajaran matematika di zona tersebut.

"Ada masalah apa? Geometri atau Aljabarnya atau Kalkulusnya? 'Kan ada guru di zona itu yang pintar materi itu, nanti didiskusikan di MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) di zona itu. Jadi namanya peningkatan kompetensi proses pembelajaran," jelas Dirjen GTK.

Melalui pendekatan sistem zonasi, pemerintah akan mendorong pelatihan guru profesional oleh MGMP dan Kelompok Kerja Guru (KKG). "Yang menyiapkan guru inti dan instruktur kabupaten/kota itu Ditjen Dikdasmen (Pendidikan Dasar dan Menengah). Kami di Ditjen GTK yang menyiapkan model pembelajarannya, kemudian unit-unit pembelajaran, bukan modul. Guru inti menjadi fasilitator bersama guru-guru di zona itu," tuturnya.

Paradigma guru masa kini hendaknya menjawab empat tantangan besar, di antaranya revolusi industri 4.0, globalisasi, kebutuhan domestik terkait daya saing dan penyediaan tenaga kerja, serta mendidik generasi Z. Perubahan dunia yang begitu cepat dan tidak linear ini mengubah cara bekerja dan belajar. Untuk itu, pendidikan masa depan, menurut Dirjen GTK, harus berpusat pada siswa, baik secara aspek akademis, juga kepribadian/karakter.

Menyoal posisi guru di era revolusi industri 4.0, Dirjen Supriano mengingatkan agar para guru tidak melupakan perannya sebagai pendidik. Guru harus mampu menjadi teladan agar bisa menjalankan pendidikan karakter yang sangat penting di masa depan. "Dengan perkembangan teknologi, mengajar bisa dilakukan tanpa guru. Kalau cuma mengajar saja, guru bisa digantikan. Sebagai pendidik, guru masih akan dibutuhkan sampai kapanpun," katanya.

Lokakarya Nasional Hari Guru Sedunia

Hari Guru Sedunia dirayakan tanggal 5 Oktober setiap tahun di seluruh dunia dengan mengikutsertakan pemerintah dan lembaga pemerintah, organisasi multi-dan bilateral, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), sektor swasta, akademisi dan perguruan tinggi, guru dan ahli di bidang pendidikan. Dengan diadopsinya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama SDG- 4 tentang Pendidikan Berkualitas, dan target khusus (SDG 4.c) yang mengakui bahwa Guru sebagai kunci pencapaian Agenda Pendidikan pada tahun 2030. Hari Guru Sedunia menjadi kesempatan meraih pencapaian SDG-4 dan juga memberikan langkah-langkah nyata untuk mengatasi tantangan dalam bidang pendidikan, terutama terkait dengan profesi dan profesionalisme guru.

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud menjadi salah satu penerima Penghargaan UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization)-Hamdan bin Rashid Al-Maktoum untuk Praktik Luar Biasa dan Kinerja dalam Meningkatkan Efektivitas Guru tahun 2018. Penghargaan UNESCO-Hamdan bin Rashid Al-Maktoum akan diserahkan oleh Direktur General UNESCO kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada tanggal 5 Oktober 2018, di Kantor Pusat UNESCO, Paris, Perancis.

Lokakarya Nasional Hari Guru Sedunia Tahun 2018 diselenggarakan atas kerja sama Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Kantor UNESCO Jakarta, dan Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU). Mengangkat tema “Hak Atas Pendidikan berarti Hak Untuk Guru dan Tenaga Kependidikan Berkualitas”, lokakarya nasional dihadiri 350 peserta yang mewakili unsur guru dan tenaga kependidikan, kementerian dan lembaga (KL), universitas, sekolah internasional, lembaga internasional dan UN agencies, dan pemerhati, dan pakar pendidikan

Published in Warta Pendidikan
Monday, 01 October 2018 20:49

Romansa Purnatugas Ratna Farida

Pontianak - Tiga puluh delapan tahun sudah ibu Ratna Farida mengabdi sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN). September 2018 adalah bulan terakhir beliau mengabdi. Sebuah perjalanan panjang pengabdian tanpa henti. Dengan semangat dan tanggung jawab beliau jalani sepenuh hati.

Beliau adalah salah satu staf senior semenjak LPMP bernama BPG (Balai Penataran Guru). Generasi pertama yang turut serta menjalankan dan membesarkan LPMP. Beliau diterima sebagai CPNS pada tahun 1980 di Kanwil Pendidikan Provinsi Kalimantan Barat. Pada tahun 1993 beliau pindah ke BPG Pontianak. Hampir selama dua puluh dua tahun beliau mengabdi di subbagian umum di bagian kepegawaian. Pada tahun 2015 beliau pindah ke seksi Fasilitasi dan Peningkatan Mutu Pendidikan. Emak adalah panggilan akrab rekan dan sejawat. Karena memang beliau adalah salah satu staf yang mudah akrab.

Beberapa staf merasa kehilangan. Namun aturan harus berkata demikian. Tak ada ASN yang abadi. Pada suatu saat setiap ASN juga akan mengikuti. Ketegasan beliau akan selalu dikenang. Disiplin beliau menjadi tauladan. Kepedulian sesama rekan kerja menjadi panutan.

Tiba saatnya LPMP Kalimantan Barat melepas secara resmi. Melalui acara yang dikemas rapi nan happy. Acara pelepasan dan perpisahan membuat kolega, rekan dan pimpinan tergugah hati. Merelakan salah satu staf yang baik senantiasa bekerja dengan nurani. Acara pelepasan dikemas semi-formal. Kesan dan pesan disampaikan dengan canda dan kenangan. Selain juga menghadirkan hiburan yang menghangatkan dan penuh kekeluargaan.

Para pimpinan dan sejawat menyampaikan sambutan dan menghadirkan lantunan. Sebagai hiburan agar beliau meninggalkan LPMP Kalimantan Barat dengan kebanggaan. Di acara ini kepala LPMP Kalimantan Barat turut menghadirkan lagu spesial. LPMP Akustik, yang merupakan grup musik LPMP Kalimantan Barat, pun menyuguhkan lagu-lagu kesayangan ibu Ratna.

Ibu Ratna Farida mengakhiri karir dengan bahagia. Buktinya di usia 58 tahun beliau masih sehat, bugar dan segar. Tanpa sakit dan maladministratif. Bukankah itu yang diidamkan para ASN? Sukses ibu. Dunia baru menanti pengabdianmu.

Published in LPMP Inside

Pontianak - Pelaksanaan kurikulum 2013 telah memasuki proses implementasi di satuan pendidikan sasaran tahun 2018. Berbagai permasalahan tak lepas dalam Implementasi kurikulum 2013 ini. Untuk itu perlu dilakukan evaluasi untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan implementasi kurikulum 2013 di sekolah sasaran.
Sebagai langkah awal persiapan sebelum dilakukannya Monitoring dan Evaluasi (Monev) Implementasi Kurikulum 2013 di Induk Klaster dilakukanlah kegiatan Review Instrumen Monev Implementasi Kurikulum 2013. Kegiatan ini melibatkan Widyaiswara LPMP Kalimantan Barat dan beberapa Instruktur Kurikulum 2013 Tingkat Provinsi dari Jenjang SD, SMP, SMA dan SMK. Waktu Pelaksanaan selama 1 Hari  yaitu pada 26 September 2018.
Produk yang akan dihasilkan dari kegiatan ada dua. Pertama adalah instrumen dan aplikasi monev, digunakan untuk pengumpulan Data Monitoring Implementasi K-13 di Induk Klaster yang dilengkapi dengan aplikasi pengolahan data. Produk yang kedua adalah bahan penguatan yang akan digunakan petugas monev pada saat memberi penguatan kepada Guru yang mengimplementasi K-13 terkait dengan permasalahan yang dialami.
Monev akan dilaksanakan selama dua hari dengan rincian hari pertama akan dilakukan Review Dokumen Program dan RPP Guru oleh petugas monev. Setelah itu dari hasil review dokumen dilakukanlah diskusi dan penguatan kepada Guru. Hari kedua petugas monev akan melakukan observasi di Kelas Melihat Guru Mengajar di Kelas Berdasarkan Instrumen Supervisi dan dilanjutkan dengan Penguatan Kembali/ Feed Back Pembelajaran.

Published in Penjaminan Mutu
Monday, 03 September 2018 22:31

LPMP Kalimantan Barat Semakin Instagramable

Pontianak - Istilah Instagramable muncul seiring pesatnya perkembangan media sosial berbasis gambar, Instagram. Instagramable identik dengan tempat atau lokasi unik, eksentrik dan cantik untuk dijadikan background swafoto.
Aktualisasi diri di lokasi yang Instagramable diyakini menaikkan gengsi, kebanggaan dan nilai tawar seseorang. Sehingga layak dibagikan bahkan "dipamerkan" untuk mendapatkan pujian.
Kini LPMP KalBar terus berbenah untuk menambah lokasi yang Instagramable tersebut. Spot-spot baru di sekitar kompleks terus ditambah dan dipercantik seperti ruang kelas A, wisma Handayani dan area auditorium Ki Hajar Dewantara.
Menjadi lembaga yang Instagramable juga merupakan pencitraan positif untuk dikenang dan dikenal oleh para stakeholder. Banyak dari mereka hanya bisa bermimpi namun kita sudah memiliki. Tak sedikit dari mereka baru bisa merasakan namun kita sudah bisa mewujudkan. Sebagian besar dari mereka merasa bangga bisa menggunakan/ menyinggahinya namun kita telah bisa mendayagunakannya.
Ada nilai lebih setelah berkegiatan. Selain pengalaman dan pengetahuan, para stakeholder mempunyai kenang-kenangan gambar di lokasi yang membetahkan, menyenangkan dan penuh kehangatan.
Dimanakah itu? Di LPMP Kalbar. (Kim)

Published in LPMP Inside

Jakarta, Kemendikbud --- Perubahan yang sangat cepat menghadirkan tantangan dalam dunia pendidikan. Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) memegang peranan penting dalam penyiapan generasi muda yang mampu menghadapi berbagai tantangan zaman. Melalui Pemilihan GTK Beprestasi dan Berdedikasi tahun 2018, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mendorong semakin banyak guru yang mampu menyiapkan peserta didik menjadi generasi emas Indonesia.

"Pendidik dan tenaga kependidikan adalah agen perubahan di daerah. GTK berprestasi dan berdedikasi inilah yang akan menjadi role model (teladan) di daerahnya masing-masing," disampaikan Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Supriano, pada pembukaan Pemilihan GTK Beprestasi dan Berdedikasi tahun 2018, di Jakarta, Minggu (12/8).

Menurut Dirjen GTK, Kemendikbud telah menggulirkan tiga kebijakan besar dalam rangka menyiapkan generasi emas penerus bangsa di era yang semakin global. Pertama adalah gerakan literasi nasional. Literasi bukan hanya terkait baca tulis saja, tetapi juga terkait informasi
literasi teknologi, khususnya digital. "Negara yang mampu bersaing adalah yang mampu menguasai teknologi, informasi, sumber daya, dan bisnis," kata Supriano.

Kedua, pembelajaran abad 21 yang salah satunya diupayakan melalui Kurikulum 2013. Menurut Dirjen GTK, terdapat 4 kompetensi dasar yang wajib dimiliki setiap peserta didik, yakni kompetensi untuk berfikir kritis (critical thinking). Kemudian kemampuan berkomunikasi, baik melalui media maupun secara interaksi langsung. Setelah itu, kemampuan berkolaborasi dan kerja sama. Dan yang terakhir adalah kreativitas untuk menghasilkan inovasi.

Masa depan yang serba tidak pasti dan ditandai dengan perubahan yang sangat cepat di berbagai bidang mendorong pemerintah melakukan pengembangan kurikulum. Selain kompetensi, menurut Dirjen GTK, pemerintah memandang perlu menguatkan karakter peserta didik yang merupakan generasi penerus bangsa. "Ketiga, yang paling penting adalah karakter. Banyak orang cerdas, tetapi gagal karena tidak memiliki karakter yang baik. Dalam panduan kita jelas, nasionalis, religius, mandiri, gotong royong, dan kejujuran (integritas)," ungkap Supriano.

Dilanjutkan Supriano, bahwa pendidikan karakter tidak bisa diceramahkan saja, tetapi harus ditumbuhkan dan dibiasakan melalui contoh dan teladan bapak dan ibu guru. Untuk itulah, pendidik menjadi kunci keberhasilan program penguatan pendidikan karakter (PPK) yang digulirkan pemerintah melalui Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017.

Kegiatan Pemilihan GTK Berprestasi dan Berdedikasi Tahun 2018 diikuti 914 peserta dari berbagai jenjang pendidikan mulai Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sampai Pendidikan Menengah, termasuk perwakilan Sekolah Indonesia di Luar Negeri (SILN). Pengumuman pemenang untuk setiap kategori akan dilakukan pada tanggal 15 Agustus 2018.

Menutup sambutannya, Dirjen GTK berpesan agar kompetisi yang akan dilalui dapat dipandang sebagai pembelajaran, dan bukan sekadar kompetisi yang menghasilkan juara saja. Perwakilan yang hadir dari berbagai provinsi di tanah air diharapkan dapat menjalin komunikasi dan semangat saling berbagi wawasan serta pengetahuan agar mempercepat pemerataan mutu pendidikan. "Tujuan kita, bagaimana mengeratkan bangsa ini melalui pendidikan," pesan Dirjen GTK.

Sinergi Peningkatan Kualitas Pendidikan

Mendatang, program peningkatan kompetensi guru akan difokuskan pada perbaikan proses pembelajaran. Kemendikbud mendorong guru untuk dapat membantu peserta didik menguasai kompetensi abad 21 dan karakter yang baik. "Jadi, kita akan berfokus pada proses pembelajaran yang menyenangkan dan bisa mendorong pencapaian empat kompetensi abad 21 (critical thinking, creativity, collaboration, communication)," kata Dirjen GTK.

Supriano mengajak guru untuk tidak mudah puas dan terus meningkatkan kompetensinya. Praktik baik berbagi pengetahuan dan pengalaman melalui kelompok profesi sangat diharapkan. Dan bagi guru yang telah mendapatkan tunjangan profesi agar dapat mengalokasikan sebagian dana tersebut untuk pengembangan diri.

"Praktik peningkatan kompetensi dari guru belajar dari sesama guru itu sangat penting. Untuk itu, kita harapkan, tunjangan profesi guru itu juga dapat dimanfaatkan untuk peningkatan kompetensi," ujarnya.

Sinergi antara unit-unit utama di Kemendikbud akan diperkuat. Saat ini, apa yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal (Ditjen) GTK diarahkan untuk dapat melengkapi kebijakan yang dilaksanakan oleh Ditjen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) yang mengelola pembinaan satuan pendidikan. Penyelarasan program antara Ditjen GTK dan Ditjen Dikdasmen terkait pembenahan sekolah akan disinkronkan dan diperkuat lagi.

"Apa yang menjadi program Dikdasmen akan kita dukung dari sisi gurunya. Pendidikan kita bangun secara komprehensif, tidak parsial dan berjalan sendiri-sendiri. Ketika zonasi diterapkan, kita akan 'keroyok' bersama-sama," pungkasnya. 

Published in Penjaminan Mutu
Page 3 of 4