Teknologi Pendidikan

Teknologi Pendidikan (28)

konten yang terkait dengan teknologi pendidikan

Jakarta - Buku pegangan Kurikulum 2013 nantinya dapat juga diakses melalui laman Rumah Belajar dengan alamat http://belajar.kemdikbud.go.id. "Naskah buku pegangan sudah siap, setelah nanti diserahkan ke percetakan, akan dipublikasikan juga di Rumah Belajar," ujar Kepala Unit Implementasi Kurikulum Pusat Tjipto Sumadi, di Jakarta, Senin (10/6/2013).

Dalam implementasi Kurikulum 2013 ini pemerintah akan mencetak buku dan membagikan secara gratis, sebanyak jumlah peserta didik sasaran implementasi. Buku pegangan terdiri dari buku pegangan untuk siswa dan buku pegangan guru dan naskah buku-buku tersebut telah selesai, kata Tjipto.

 

Seperti telah diberitakan sebelumnya, untuk jenjang SD kelas 1 disiapkan sebanyak 10 buku untuk dua semester. Untuk kelas 1 ada sebanyak delapan buku tema ditambah dengan buku agama. Namun, buku yang dicetak saat ini baru untuk semester 1 sebanyak 5 buku masing-masing terdiri atas satu buku agama dan empat buku tema.

 

Adapun buku untuk jenjang SMP meliputi agama, PKN, bahasa Indonesia, matematika, IPA, IPS, seni budaya, prakarya, bahasa Inggris, serta pendidikan jasmani, olah raga, dan kesehatan. Sementara untuk jenjang SMA ada sembilan mata pelajaran yang wajib, tetapi yang dicetak baru tiga mata pelajaran yaitu sejarah, bahasa Indonesia, dan matematika.

Terkait dengan dokumen Kurikulum 2013, Tjipto mengatakan bahwa segera setelah ditandatangani oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, dapat dipublikasikan ke masyarakat luas. "Standar Isi Jumat (7/6) kemarin sudah ditandatangani BSNP (badan Standar Nasional Pendidikan -red), dokumen Kurikulum 2013 segera akan dipublikasikan setelah ditandatangani Pak Menteri," ujar dosen dosen Universitas Negeri Jakarta tersebut.

 

Sumber : http://kemdikbud.go.id

SEPIK adalah Sistem Elektronik Pementauan Implementasi Kurikulum. Sistem ini dikelola oleh Unit Implementasi Kurikulum 2013, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Fungsi utama SEPIK adalah :

  1. Menampilkan Informasi untuk Publik secara detil mengenai 6.325 Sekolah Sasaran, 74.289 PTK Sasaran, Jadwal dan Lokasi Pelatihan di 6 Region dan 31 LPMP.
  2. Memantau Status Distribusi Paket Buku ke LPMP dan sekolah sasaran Kurikulum 2013 sebagai e-livereport.
  3. Memantau Status Keterlaksanaan Pelatihan Instruktur Nasional, PTK Inti dan PTK Sasaran di LPMP sebagai e-livereport.

SEPIK dioperasikan oleh 7 Kelompok Operator sebagaimana gambar disamping.

SEPIK berada di server fasilitas awan (Clouds) Jardiknas Pustekkom dengan nama sub-domain kurikulum.kemdikbud.go.id. SEPIK dapat diakses oleh kelompok operator dengan tingkat dan hak akses (Privilage) yang telah diatur oleh Administrator.

Sumber : http://kurikulum.kemdikbud.go.id

Thursday, 23 May 2013 10:39

10 Ribu Sekolah Terhubung Koneksi Internet Nirkabel

Written by

Jakarta - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh, mencanangkan "Indonesia Digital School" (Indischool) ke 10 ribu, di Balai Kartini, (22/5). Indischool merupakan program PT. Telkom Indonesia memberi fasilitas koneksi internet nirkabel di sekolah-sekolah. Dengan pencanangan ini, berarti sebanyak 10 ribu sekolah telah menikmati fasilitas tersebut.

 

Disampaikan oleh Direktur Utama PT. Telkom, Arif Yahya,  pihaknya berkomitmen untuk menghubungkan 100 ribu sekolah pada akhir 2013 ini. Sedangkan target besar yang akan dicapai adalah terhubungnya 300 ribu sekolah pada 2015 mendatang. Untuk DKI Jakarta, koneksi nirkabel telah terpasang di 6.210 sekolah. "Untuk 2013 akhir, ada 100 ribu indischool. Baik melalui telkom maupun Kemdikbud," jelas Arif Yahya saat memberi sambutan.

 

Atas program tersebut, Mendikbud menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada PT. Telkom Indonesia. Menurutnya, perusahaan yang bergerak di bidang telekomunikasi ini merupakan perusahaan yang memiliki komitmen besar terhadap dunia pendidikan. "Pendidikan bisa mengantarkan bapak/ibu di PT. Telkom bisa seperti sekarang. Jadi ini bentuk darma bakti mereka kepada dunia pendidikan," jelas Menteri Nuh, saat menyampaikan alasan mengapa PT. Telkom peduli terhadap dunia pendidikan.

 

Mantan Rektor ITS ini juga mengatakan, pendidikan yang didukung dengan konektivitas seperti ini akan meningkatkan mutu pendidikan. Pendidikan bermutu akan menciptakan sumber daya manusia berkualitas dan berdaya saing. "Kualitas SDM yang memadai akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi," tuturnya. 

Disamping itu, mantan Menkominfo ini menegaskan bahwa pendidikan adalah vaksin sosial. Ibarat tubuh, supaya kuat dan tahan berbagai penyakit, harus divaksin. Ada 3 penyakit sosial yang mematikan yang harus divaksin, yaitu kemiskinan, ketidaktahuan atau kebodohan dan keterbelakangan peradaban. "Lantas apa vaksinnya? Pendidikan adalah vaksin sosialnya. Itulah mengapa adik-adik kita harus mendapat layanan pendidikan, agar mendapat vaksin sosial," pungkasnya.

 

Sumber : http://kemdikbud.go.id

Jakarta - Didorong kesadaran akan pentingnya penyebaran akses internet demi pemerataan pendidikan di Indonesia, PT. Telekomunikasi Indonesia, TBK (Telkom) yang selalu berkomitmen memajukan pendidikan Indonesia meluncurkan IndiSchool sejak awal tahun ini.

IndiSchool atau Indonesia Digital School adalah sebuah program berupa akses internet murah yang diberikan kepada para siswa Indonesia di manapun berada. Melalui IndiSchool, Telkom akan membangun jaringan internet pita lebar (broadband) untuk 100 ribu sekolah di Indonesia. Dengan program ini, sekolah akan mendapatkan akses wifi sehingga para murid dan guru dapat berselancar di dunia maya secara nirkabel.

Setiap sekolah peserta program IndiSchool akan memperoleh akses internet sampai dengan 10 Mbps. Layanan internet tersebut dapat digunakan untuk mengakses berbagai konten edukasi, seperti Portal Rumah Belajar yang dikelola oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, maupun aplikasi manajemen sekolah (SIAP Online) yang disediakan oleh Telkom. Layanan TV Edukasi milik Kemendikbud pun dapat terhubung ke sekolah yang mengikuti program IndiSchool.

"Dengan pemerataan layanan infrastruktur melalui IndiSchool, diharapkan mutu pendidikan di Indonesia tidak tertinggal jauh dibandingkan sekolah di negara-negara lain." Ujar Direktur Enterprise & Wholesale Telkom, Muhammad Awaluddin.

Biaya yang harus dikeluarkan untuk mengikuti program ini pun terjangkau. Cukup dengan Rp 1.000, para siswa atau guru dapat memperoleh seribu ilmu dari Internet selama 24 jam. Jika ingin mengakses internet selama sebulan penuh, cukup dengan Rp 20.000 saja.

 

Sumber : http://kompas.com

Wednesday, 22 May 2013 03:15

Digital Learning System Berbasis Android

Written by

Bandung - Sony Sugema merilis sistem pembelajaran digital terbaru Sony Sugema Digital Learning System (S2LDS) versi 5.0. Sistem ini memungkinkan siswa untuk mengakses seluruh kebutuhan belajarnya via smartphone atau gadget kesayangan mereka setiap saat.

S2LDS adalah sistem pembelajaran berbasis digital yang di dalamnya terdapat berbagai menu seperti video pembelajaran, e-book, terori singkat, arsip soal atau bank soal, try out dan berbagai aplikasi lainnya.

"Untuk versi terbaru, versi 5.0 ini lebih kompatibel dengan device yang saat ini ada. Bisa digunakan untuk berbagai gadget. Mulai dari Android, BlackBerry, iPad, Mac OS, Windows xp, Windows 7, Windows 8 dan Linux," ujar Direktur Utama sekaligus pendiri Sony Sugema Collage (SSC) dan SMA Alfa Centauri, Sony Sugema dalam acara launching di Kampus Alfa Centauri, Jalan Diponegoro, Bandung.

Ia mengatakan, pengembangan aplikasi ini setelah melihat begitu banyaknya peralatan canggih milik siswa. "Saya lihat anak-anak SMP saja sekarang gadgetnya canggih-canggih. Jadi kenapa itu tidak kita manfaatkan saja, supaya anak juga bisa belajar dan pintar lewat device yang dimilikinya," tuturnya.

Dalam demo yang ditunjukkan, siswa bisa mengakses video yang diberikan guru di kelas sesuai dengan materi yang diinginkan.

Arsip soal SNMPTN dari berbagai universitas bahkan arsip soal UN dari tahun 2005 pun bisa diakses dengan mudah. Sehingga siswa tak perlu lagi repot mencari untuk latihan soal.

Tingkat soal dan cara penyelesaiannya disusun sedemikian rupa sehingga mudah diikuti sesuai dengan kemampuan siswa. Bahkan, guru bisa memberikan bimbingan online via aplikasi online tersebut.

"Untuk mendukung aplikasi tersebut, kami menyiapkan bandwith 15 Gb. Itu untuk 700 siswa (Alfa Centauri)," kata Sony. Namun meski telah menerapkan sistem pembelajaran seperti ini, Sony menyatakan hal itu tak membuat jam belajar di sekolah jadi berkurang.

Program yang saat ini baru diaplikasikan di SMA Alfa Centauri dan SSC diharapkan Sony dapat diaplikasikan juga oleh sekolah lainnya yang membutuhkan. Bahkan Sony mengaku akan menghibahkan program S2LDS ini secara cuma-cuma untuk sekolah-sekolah yang tidak mampu dan membutuhkan.

"Untuk sekolah-sekolah di pelosok, saya gratiskan. Tapi kalau sekolah yang mampu, masa sih mau gratis?" katanya. Harapannya, dengan aplikasi ini guru-guru bisa lebih fokus dan memberikan perhatian lebih pada siswa.

Difaryadi Aziz (15) siswa kelas X SMA Alfa Centauri mengaku terbantu dengan aplikasi ini. Ia kerap mengerjakan PR yang diberikan gurunya dengan bahan-bahan yang ada di program tersebut.

"Kan di situ ada bahannya. Jadi bisa mengerjakan PR di mana aja. Buat latihan soal juga bisa," tutur Difar yang menyebut kerap membuka program tersebut via ponsel Android miliknya.

 

Sumber : http://detik.com

Page 4 of 6