Teknologi Pendidikan

Teknologi Pendidikan (26)

konten yang terkait dengan teknologi pendidikan

Jakarta, Kemendikbud --- Melalui kebijakan Merdeka Belajar Episode 3, peningkatan transparansi dan akuntabilitas dana bantuan operasional sekolah (BOS) salah satunya dilakukan dengan mengubah skema transfer daerah. Mulai tahun 2020, dana BOS ditransfer oleh Kementerian Keuangan langsung ke rekening sekolah, sehingga tidak lagi melalui Rekening Kas Umum Daerah (RKUD) Provinsi. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) juga tengah menyiapkan platform teknologi untuk perencanaan, penyaluran, dan pelaporan dana BOS dengan tujuan meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dana BOS.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mengatakan platform teknologi penting digunakan untuk transparansi penggunaan dana BOS. “Ke depannya yang akan kami lakukan juga, yang saat ini sedang dalam proses perencanaan, yaitu bagaimana kita bisa menggunakan teknologi untuk meningkatkan transparansi dari penggunaan dana BOS. Dan teknologi inilah yang akan kami gunakan untuk meningkatkan kualitas transparansi pengadaan dana BOS untuk semua sekolah di Indonesia,” ujarnya saat konferensi pers di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (10/2/2020).

Menurut Mendikbud, platform teknologi menjadi solusi terbaik dalam meningkatkan transparansi dan akuntabilitas penggunaan dana BOS. “Tapi masih kami rancang. Akan memakan waktu lebih lama untuk mendesainnya,” tuturnya.

Ia menambahkan, sekolah juga harus memublikasikan penerimaan dan penggunaan dana BOS di papan informasi sekolah yang mudah diakses masyarakat. Menurutnya, hal tersebut menjadi bagian dari kebijakan Merdeka Belajar Episode 3.

“Jadi bukan hanya Kemendikbud yang bisa melihat hasil laporannya, tapi masyarakat sekitar sekolah, komunitas, dan orang tua, bisa melihat dana BOS itu digunakan untuk apa saja. Ini untuk meningkatkan transparansi,” kata Mendikbud Nadiem Makarim.

Ia berharap, dengan diberikannya fleksibilitas dan kebebasan untuk kepala sekolah dalam menggunakan dana BOS, pelaporannya pun harus lebih akurat. “Apa yang dilaporkan untuk apapun harus lebih akurat. Jadi kita bisa menganalisis, mengevaluasi, dan melakukan kebijakan lain dengan cara yang lebih baik,” katanya.

Selain kebijakan penyaluran dan penggunaan, tahun ini pemerintah juga meningkatkan harga satuan BOS per peserta didik untuk jenjang sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), dan sekolah menengah atas (SMA) sebesar Rp100.000 per peserta didik. Untuk SD yang sebelumnya Rp800.000 per siswa per tahun, sekarang menjadi Rp900.000 per siswa per tahun. Begitu juga untuk SMP dan SMA masing-masing naik menjadi Rp1.100.000 dan Rp1.500.000 per siswa per tahun. Besaran BOS untuk SMK pada tahun ini sama dengan tahun lalu, yakni Rp1.600.000. BOS untuk SMK sudah dinaikkan pada tahun 2019, yaitu dari Rp1.400.000 di tahun 2018 menjadi Rp1.600.000 per siswa per tahun mulai 2019.

Jakarta, Kemendikbud --- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) meluncurkan layanan Sikoper atau Sistem Integrasi Koleksi Perpustakaan Kemendikbud, Senin (25/11/2019). Peluncuran dilakukan oleh Sekrataris Jenderal Kemendikbud, Didik Suhardi, didampingi Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat (BKLM), Ade Erlangga Masdiana di Ruang Perpustakaan Dikbud, Gedung A, Senayan, Jakarta.

Sikoper merupakan layanan yang dikembangkan Perpustakaan Kemendikbud berupa kemudahan mengakses seluruh koleksi perpustakaan dan bahan publikasi yang tersebar di seluruh unit utama dan satuan kerja di lingkungan Kemendikbud. Melalui Sikoper, seluruh koleksi tersebut terintegrasi dengan baik dan dapat diakses degan mudah oleh seluruh pemustaka.   

“Melalui sikoper, pemustaka di seluruh Indonesia dapat memeroleh informasi mengenai koleksi perpustakaan Kemendikbud,” ujar Ade Erlangga saat ditemui usai pembukaan Pekan Perpustakaan Kemendikbud 2019.

Ia menambahkan, kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) memungkinkan pengintegrasian koleksi perpustakaan Kemendikbud yang jumlahnya lebih dari ratusan ribu koleksi. Di dalam Sikoper terdiri atas kolaborasi koleksi perpustakaan, mulai dari koleksi perpustakaan tercetak yang terhimpun dalam katalog induk perpustakaan Kemendikbud dengan menggunakan sistem otomasi perpustakaan Slims (Senayan Library Management System), koleksi dalam bentuk digital yang dikelola oleh 120 satuan kerja di dalam Repositori Institusi Kemendikbud, dan koleksi ribuan artikel di dalam 46 jurnal ilmiah terbitan Kemendikbud yang dikelola menggunakan Open Journal System (OJS).

“Dengan layanan ini tentu dapat memudahkan bagi mereka yang ingin melakukan riset di bidang pendidikan, kebudayaan, bahasa, atau arkeologi, karena semua jurnal yang diterbitkan Kemendikbud dapat ditemukan di Perpustakaan Kemendikbud,” tutur Ade Erlangga.

Lebih lanjut Ade Erlangga mengungkapkan bahwa perpustakaan masa depan bisa jadi berbeda dari perpustakaan saat ini. Masyarakat akan dimudahkan untuk berselancar buku hanya dengan memanfaatkan gawai yang dimiliki. Pola masyarakat dalam mencari koleksi perpustakaan juga sudah mulai dipermudah dengan hanya memasukkan kata kunci yang diinginkan. “Dulu modelnya masih manual, belum ada koding-koding atau semacamnya yang memudahkan dalam pencarian koleksi perpustakaan yang diinginkan. Saat ini pencairan dapat dilakukan dengan sangat mudah,” katanya.

Fungsi perpustakaan, tambah Ade Erlangga, juga berkembang. Bukan saja sebagai tempat mencari dan membaca buku yang diinginkan, tetapi juga sebagai tempat hiburan, diskusi, bahkan bisnis. “Keberadaan perpustakaan juga saat ini tidak melulu di perkantoran, tetapi di tempat publik lainnya, seperti rumah makan, stasiun, bandara, dan tempat-tempat lainnya,” imbuhnya.

Jakarta, Kemendikbud --- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy meresmikan penggunaan Aplikasi Elektronic Learning Management System (eLMS) yang dikembangkan oleh Asosiasi Auditor Intern Pemerintah Indonesia (AAIPI), Komite Telaah Sejawat, hari ini, di kantor Kemendikbud, Senayan, Jakarta. eLMS merupakan sarana yang dibentuk untuk membangun knowledge management system dengan metode pembelajaran yang baik dengan memanfaatkan teknologi digital.

“Saya menyambut baik dengan adanya eLMS yang dikembangkan oleh AAIPI. Semoga aplikasi tersebut dapat dimanfaatkan dengan baik untuk membangun semangat belajar para auditor intern pemerintah,” demikian disampaikan Mendikbud pada peresmian penggunaan eLMS, sekaligus membuka Diskusi Umum Dewan Pengurus Nasional AAIPI, di kantor Kemendikbud, Jakarta, Rabu (21/03/2018).

Mendikbud berharap, para auditor pada pengembangan profesinya dapat merujuk pada tiga hal, yakni berkeahlian (expert), memiliki tanggungjawab sosial, dan korporatif atau berkesejawatan. “Tiga hal tersebut yang harus bisa ditanamkan. Auditor harus expert atau ahli, dan bisa didapat dengan pendidikan yang membutuhkan waktu yang cukup lama dengan tingkat kesulitan yang cukup tinggi, kemudian juga memiliki tanggunjawab sosial dengan mengabdikan karyanya, dan korporatif. Auditor penting untuk saling mengasah pengalaman. Disitulah tempat belajar orang profesional ketika bersama-sama saling bersinergi di dalam korps itu,” jelas Mendikbud.

Pada kesempatan ini Inspektur Jenderal Kementerian Keuangan, Sumiyati, selaku Ketua AAIPI, mengatakan, dengan memanfaatkan era digital dalam mendorong semangat belajar para auditor dan menjangkau seluruh wilayah di Indonesia, maka dibangunlah eLMS. “Dengan aplikasi ini diharapkan dapat membangun para auditor untuk terus bersemangat belajar, karena aplikasi tersebut akan menjadi sarana pembelajaran yang efisien, dan mudah diakses oleh seluruh anggota di seluruh Indonesia dimanapun dia berada,” tutur Sumiyati.

Ia juga mengucapkan terima kasih kepada Inspektorat Jenderal Kemendikbud yang telah menjadi tuan rumah penyelenggaraan Diskusi Umum Dewan Pengurus Nasional AAIPI dan peluncuran eLMS. “Saya apresiasi dan berterima kasih kepada Itjen Kemendikbud. Pak Daryanto menjadi host yang baik menyediakan tempat untuk kita dapat bertemu. AAIPI ke depan bisa berfungsi sebagaimana harusnya suatu asosiasi profesi yang memberikan manfaat tidak hanya kepada anggotanya, namun juga memberikan manfaat untuk bangsa dan negara kita,” tutur Sumiyati.

KILAS TENTANG AAIPI

Dalam laporannya, Inspektur Jenderal Kemendikbud, Daryanto, mengatakan AAIPI adalah organisasi profesi yang beranggotakan perorangan dan unit kerja Aparat Pengawas Intern Pemerintah (APIP) yang telah memenuhi persyaratan keanggotaan. “AAIPI didirikan di Jakarta pada tanggal 30 November 2012 melalui rapat pleno pembentukan AAIPI dan sebagai Ketua Umum adalah Inspektur Jenderal Kementerian Keuangan,” jelas Daryanto.

“AAIPI diperlukan dalam rangka meningkatkan profesionalisme auditor pemerintah, turut memberikan kontribusi dalam pembinaan jabatan fungsional dan untuk menyamakan persepsi terkait profesi auditor di bidang pengawasan intern pemerintah,” terang Daryanto. *


AAIPI terdiri dari empat komite, yaitu Komite Kode Etik, Komite Standar Audit, Komite Telaah Sejawat, dan Komite Pengembangan Profesi. “Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bertugas di Komite Telaah Sejawat,” jelas Daryanto.

Friday, 05 January 2018 11:04

Aplikasi SLiMS Kemendikbud Dilirik Perpustakaan Malaysia

Written by

Jakarta, Kemendikbud – Aplikasi Senayan Library Management System (SLiMS) yang dimiliki Perpustakaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menjadi daya tarik bagi Perpustakaan Awam Melaka (Perpustam), Malaysia. Aplikasi perpustakaan itu digunakan Perpustakaan Kemendikbud dalam mengelola berbagai koleksi yang dimilikinya.

Berbagai penjelasan tentang aplikasi SLiMS tersebut diberikan oleh pustakawan Perpustakaan Kemendikbud kepada Perpustam dalam kunjungan ketiganya di Indonesia, Kamis (4/1/2018). Fitur-fitur aplikasi SLiMS, mulai dari aktifitas manajemen koleksi, keanggotaan, penelusuran katalog, manajemen terbitan berkala, dan lainnya dijelaskan secara terperinci dan mampu memikat Perpustam.

Selain itu, dalam kunjungannya, Perpustam juga memperoleh penjelasan berbagai fasilitas dan keunggulan Perpustakaan Kemendikbud. Misalnya, buku sekolah elektronik yang dapat dimanfaatkan secara cuma-cuma oleh siswa, lokakarya daring (dalam jejaring) bagi pustakawan sekolah, dan lainnya.

Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat Kemendikbud, Ari Santoso, menyambut baik kegiatan kunjungan Perpustam ke Indonesia khususnya Perpustakaan Kemendikbud. Perpustakaan Kemendikbud, kata dia, merupakan perpustakaan khusus di bidang kebijakan pendidikan dan kebudayaan yang saat ini fokus pada literasi sekolah.

“Kami merasa bahagia dan terhormat mendapatkan kunjungan dari Perpustakaan Awam Melaka Malaysia,” ujar Ari dalam sambutannya pada Kegiatan Kunjungan Perpustam ke Perpustakaan Kemendikbud tersebut.

Senada hal itu, Kepala Perpustam, Datuk Amirudin mengatakan, tujuan dari kegiatan kunjungan ini adalah untuk melihat perkembangan perpustakaan-perpustakaan di Indonesia. “Perpustakaan Kemendikbud (fasilitas-fasilitasnya,-) bisa diadopsi untuk diterapkan ke Perpustam,” tuturnya.

Jakarta - Quipper, platform untuk edukasi teknologi yang telah beroperasi di Indonesia berhasil menjangkau 5.000 sekolah di Indonesia untuk meningkatkan kualitas belajar mengajar melalui pemanfaatan teknologi dan literasi digital.

Platform bebas biaya Quipper School dirancang khusus bagi guru dan siswa untuk membantu dan meningkatkan kualitas belajar mengajar. Hingga Maret 2017, Quipper School telah digunakan oleh 2,5 juta pelajar, 200.000 guru. Di tahun 2015, Quipper meluncurkan platform premiumnya yakni Quipper Video sebagai solusi belajar online bagi siswa kelas 9-12 yang telah digunakan 50.000 pelajar di Indonesia.

PR & Marketing Manager Quipper Tri Nuraini Quipper telah menjangkau 5.000 sekolah dan mengantarkan 58% penggunanya lulus Ujian Nasional (UN) 2016 dan 50% diantaranya lulus SBMPTN dan diterima di perguruan tinggi negeri terbaik di Indonesia. Di mana, Quipper juga mendapat dukungan dari 45 dinas pendidikan tingkat kota/kabupaten dan provinsi.

"Kami sangat menjaga kualitas baik itu konten, tutor maupun teknologi yang digunakan karena ketiga hal tersebut sangat dibutuhkan oleh guru dan pelajar," ujar Tri Nuraini.

Dia menambahka Quipper bergerak dalam bidang edukasi teknologi di mana tantangannya meyakinkan masyarakat, guru, siswa untuk dapat memanfaatkan teknologi yanga da dalam memudahkan kegiatan belajar mengajar.

"Quipper mendorong pemanfaatan teknologi untuk mencapai tujuan akademik mereka. Sudah ada 11 cabang yang terus melakukan sosialisasi. Edukasi menjadi tantangan, bagaimana pemanfaatan teknologi ini digunakan untuk membuat proses belajar lebih menyenangkan," ujarnya.

Dia menambahkan Quipper juga memilik tim konten lokal, untuk mengembangkan konten untuk menyesuaikan standar yang ada di Indonesia.

"Ada proses produksi yang terus berjalan, kami fokus pada konten berkualitas," ujarnya.

Selain itu, dia mengatakan Quipper juga fokus pada teknologi karena Quipper merupakan perusahaan teknologi pendidikan dengan terus meningkatkan teknologi.

"Quipper bisa diakses lewat berbagai gadget melalui bermacam-macam gadget, sehingga perlu terus meningkatkan teknologi yang ramah untuk digunakan," katanya.

Dia menambahkan strategi Quipper ke depan secara produk akan terus dikembangkan diantaranya try out online, di mana sudah ada 70.000 siswa dari 800 sekolah yang mengikuti.

"Tentunya Quipper juga ingin membantu meningkatkan literasi digital dan membantu melancarkan untuk UNBK," pungkasnya.

Sementara itu, Pakar Pendidikan Itje Chodijah mengatakan pengaruh teknologi dalam pembelajaran yakni anak-anak pelajar bisa menjangkau dari daerah yang jauh sekalipun.

"Teknologi jika dimanfaatkan dengan benar dan berbasis pada pembelajaran, saya yakin akan cepat memberikan pengaruh pada kualitas. Teknologi dipakai untuk kepentingan apapun, untuk pendidikan berbicara dari pembelajaran itu sendiri, untuk manusianya, konten yang tepat dan baik menjadi yang utama, bukan hanya akses teknologinya," katanya.

Sumber : http://www.bisnis.com

 

Page 1 of 6