Potret Pendidikan

Potret Pendidikan (66)

Kumpulan Berita dan Artikel yang terkait Potret Realita Pendidikan

Bogor, Kemendikbud --- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim, meninjau proses pembelajaran pada Tahun Ajaran Baru 2020/2021 di Kota Bogor dan Kabupaten Bogor, Jawa Barat untuk mendengarkan aspirasi dari para guru.

Dalam kesempatan itu, Mendikbud mengungkapkan bahwa sejak April lalu Kemendikbud telah melakukan relaksasi Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk membantu sekolah dalam melaksanakan prioritas, termasuk menunjang pembelajaran jarak jauh (PJJ).

“Kami menyadari bahwa pelaksanaan pembelajaran jarak jauh bukan hal yang mudah. Apalagi dengan segala keterbatasan, baik infrastruktur berupa sinyal dan listrik, biaya, dan sebagainya. Oleh karena itu, silakan kepala sekolah membeli kebutuhan yang menjadi prioritas sekolah, misalnya pembelian pulsa untuk guru maupun siswa, hand sanitizer, dan lain-lain,” jelas Mendikbud dalam audiensi dengan guru di SDN 1 Polisi, Kota Bogor, pada Kamis (30/7).

Rhiska Rachmawati, guru kelas 6 di SDN 1 Polisi Kota Bogor yang beraudiensi dengan Mendikbud menuturkan bahwa mereka sudah mendapatkan panduan pembelajaran, baik daring maupun luring dari Dinas Pendidikan Kota Bogor serta bantuan inspirasi konten dari sesama guru.

“Untuk proses pembelajaran sendiri tidak ada kendala yang berarti. Semua kami sesuaikan dengan kondisi siswa dan orang tua mereka. Kami membuat konten yang menyenangkan untuk siswa dan tugas yang diberikan juga kita usahakan agar tidak membebani siswa. Kami juga banyak mendapatkan contoh praktik baik dari konten sesama guru di media sosial,” jelas Rhiska.

Untuk standar kualitas pembelajaran, kata Rhiska, para guru mengedepankan literasi, numerasi, pendidikan karakter, pemahaman akan pandemi COVID-19, dan pola hidup bersih sehat.

Mendengar penjelasan dari guru tersebut, Mendikbud mengapresiasi inovasi dan kreativitas yang telah dilakukan para guru. Menurut Mendikbud, pandemi COVID-19 ini membawa pemahaman baru bahwa dengan komunikasi dan gotong-royong maka proses pembelajaran jarak jauh akan dapat dilaksanakan dengan baik.

“Dengan adanya pandemi ini guru-guru menjadi sangat kreatif dengan menggunakan berbagai platform sehingga mencari mana yang cocok bagi mereka. Demikian pula dengan partisipasi guru penggerak yang memberikan konten gratis bagi sesama guru juga luar biasa,” pungkas Mendikbud. (*)   


Bogor, 30 Juli 2020
Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Laman: kemdikbud.go.id
Twitter: twitter.com/Kemdikbud_RI
Instagram: instagram.com/kemdikbud.ri
Facebook: facebook.com/kemdikbud.ri
Youtube: KEMENDIKBUD RI

Jakarta, Kemendikbud --- Di hari pertama bekerja setelah hari raya Idulfitri, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim, membaca tiga surat dari siswa siswi terpilih. Surat-surat tersebut merupakan hasil seleksi dari 6.689  surat yang dikirimkan oleh siswa SD dan guru se-Indonesia pada 11-17 Mei 2020 lalu.
 
Surat pertama yang dibaca oleh Mendikbud datang dari Rivaldi R. Yampata, siswa kelas IV SD 016 Tanjung Redeb, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Dalam surat tersebut, Rivaldi menceritakan bagaimana dia harus hidup terpisah dari keluarganya untuk menetap sementara di rumah kerabat  agar bisa tetap mengikuti pembelajaran selama masa pandemi Covid-19. Hal ini disebabkan kondisi keluarga Rivaldi yang tidak memiliki fasilitas pembelajaran memadai seperti gawai maupun internet.
 
“Tahun ini saya dititipkan Mama dengan seorang guru yang sudah lama dikenal. Alhamdulillah selama saya di sini semua tugas yang diberikan guru, bisa saya selesaikan dengan baik karena dibimbing dengan kakak-kakak di rumah saya, Kak Abi dan Kak Tiara. Saya tidak punya HP jadi kalau buat video belajar mereka berdua yang merekam. Saya diberi teks yang harus saya hafal kan lalu mereka merekam saya melafalkan pelajaran itu misalnya bacaan salat dan kosakata bahasa Inggris beserta artinya,” demikian sepenggal surat yang ditulis Rivaldi untuk Mendikbud.
 
Rivaldi yang bercita-cita ingin menjadi polisi itu juga menguraikan kesehariannya beternak lele menggunakan media drum dan berkebun selama ia tinggal di keluarga barunya. Mengomentari hal ini Nadiem sangat terkesan karena Rivaldi dan keluarganya tetap produktif melakukan kegiatan di rumah. “Meskipun dalam krisis bagus bisa berkreasi menjadi wirausaha,” kata Mendikbud.
 
Surat kedua yang dibacakan Mendikbud adalah surat dari Alfiatus Sholehah, siswa kelas VB SDN Pademawu Barat 1, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur. Seperti halnya Rivaldi, Alfiatus menyampaikan keinginannya untuk segera bisa kembali ke sekolah, bertemu dengan teman-teman dan guru-gurunya.
 
“Bapak Menteri saya dilahirkan dari keluarga yang kurang mampu. Orang tua saya hanya buruh tani. Dengan adanya corona saya jadi bingung karena belajarnya harus pakai HP Android. Sedangkan saya tidak punya. Saya juga merasa kasihan karena Ibu saya harus cari hutangan untuk membeli paket internetnya agar saya bisa belajar di rumah. Tapi saya ingin segera masuk sekolah ingin ketemu guru dan teman-teman saya. Apalagi sekarang bulan Ramadan. Biasanya di sekolah diadakan kegiatan Pondok Ramadan. Tapi karena Corona semua itu tidak ada lagi,” tulis Alfiatus dalam suratnya kepada Mendikbud.
 
Menjawab kesulitan Alfiatus memiliki paket data internet, Nadiem mengatakan bahwa kini dana BOS bisa digunakan untuk membantu siswa membeli paket internet. “Ingatkan sekolahnya ya,” tegas Menteri Nadiem.
 
Kemudian ketika ditanya, hal penting apa yang bisa diambil sebagai pelajaran atas wabah ini, dengan lantang Alfiatus mengatakan, kesehatan. “Kita harus menjaga kesehatan, Kesehatan sangat penting untuk kita semua,” ucap Alfiatus.
 
Berbeda dengan Rivaldi dan Alfiatus, Atrice G. Napitupulu, siswa kelas IV SD YPPK Gembala Baik, Jayapura, Papua, membacakan sendiri surat yang ditujukan untuk Mendikbud. Walaupun nonmuslim, Atrice mencurahkan kesedihannya mengingat teman-temannya yang muslim tidak bisa mudik dan berkumpul bersama sanak keluarga sebagaimana biasanya akibat dari Covid-19.
 
“Saya juga merasa kasihan sama teman-temanku di komplek yang sedang berpuasa mereka tidak bisa mudik melihat kakek nenek dan keluarganya tidak bisa salat bersama-sama di mesjid. Itu semua karena virus Corona. Lebaran saya juga tidak bisa peta (Pegangan Tangan), makan bakso, es buah dan uang lebaran. Saya berharap virus Corona cepat berlalu ya, Pak, supaya kita semua bisa bersukacita dan bergembira. Salam hormat,” tutur Atrice. 
 
Kepada mereka, Mendikbud mengucapkan terima kasih telah menulis surat dan berharap untuk tetap semangat. “Terima kasih untuk masih semangat di saat krisis seperti ini. Saya tahu belajar dari rumah itu nggak mudah, sulit. Kadang-kadang membosankan, kadang-kadang merepotkan. Tapi tolong tetap semangat, tetap bantu orangtua, tetap bantu kakak-adik. Dan kita pasti akan melalui krisis ini bersama asal kita saling mencintai, asal kita saling membantu. Kita kan bisa melalui krisis ini,” pesan Mendikbud.
 
Mendikbud juga menyampaikan, bahwa di tengah pandemi ini, berbagai keterbatasan tidak menjadi alasan. Dari pandemi ini kita tahu bahwa kita saling membutuhkan. Semua kesulitan ini pasti akan berakhir dan menjadi hal manis untuk dikenang. Semua orang akan bersemangat untuk beraktivitas kembali. Ruang kelas akan dipenuhi energi dari para pencari ilmu generasi penerus bangsa. “Dan saat itu kita akan tahu bahwa kebersamaan kita akan lebih kuat dari sebelumnya, karena kita bertoleransi, karena kita bergotong-royong,” katanya.

Friday, 29 May 2020 06:00

Menyimak Isi Surat Guru untuk Mendikbud

Written by

Jakarta, Kemendikbud—Jujur, tulus, dan bermakna. Tiga kata itulah yang dapat menggambarkan 6.689 surat yang ditulis oleh guru dan murid se-Indonesia kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim. Melalui untaian kata, mereka mengisahkan berbagai cerita inspiratif dalam memaknai Ramadan di masa pandemi Covid-19.
 
Mengomentari begitu banyak surat yang ia terima sejak 11 Mei 2020 hingga 17 Mei 2020, Menteri Nadiem mengungkapkan, terdapat hikmah yang bisa diambil dari masa krisis Covid-19. Suatu bencana baik kesehatan, bencana ekonomi, bencana pendidikan, kata dia, selalu ada hikmahnya. “Jangan sampai kita keluar dari krisis ini tanpa membawa bekal dan hikmah. Kesulitan adalah akar pembelajaran yang penting,” katanya dalam Acara Cerita Inspiratif Guru dan Murid bersama Mendikbud Nadiem Makarim yang disiarkan secara langsung melalui kanal Youtube Kemendikbud di Jakarta, Selasa (26/5/2020).
 
Dari ribuan surat yang masuk ke Kemendikbud, diambil lima surat terpilih dan dibacakan langsung oleh Mendikbud. Dua surat ditulis oleh guru, tiga lagi berasal dari siswa. Adapun dua guru yang suratnya terpilih mengutarakan rasa senangnya karena tidak menyangka surat mereka akan dibacakan sekaligus dapat berbincang langsung dengan ‘Mas Menteri’.  “Saya senang karena bisa bicara langsung dengan Mas Menteri,” ujar Maria Yosephina Morukh, Guru SD Kristen Kaenbaun, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur.
 
Ia bercerita bahwa kondisi wilayah yang berada di pedalaman serta sarana pembelajaran yang minim  membuatnya harus melakukan kunjungan ke rumah-rumah agar para siswa tetap mendapatkan pembelajaran. “Jaringan internet dan siaran televisi di wilayah kami sulit dijangkau, orang tua siswa juga kebanyakan tidak memiliki HP Android sehingga saya rutin mengunjungi siswa secara bergiliran,” tutur Maria yang menggunakan motor untuk berkunjung ke rumah siswanya. 
 
Setiap hari Maria mengunjungi lima rumah untuk memberi tugas kepada siswanya. Maria merasakan semangat yang besar dari siswanya dalam mengerjaka tugas yang ia berikan. “Sambil berkunjung saya ingatkan anak-anak untuk menjaga kebersihan cuci tangan dan memakai masker jika hendak keluar rumah,” Maria melanjutkan.
 
Oleh karena itu, Maria sangat berharap pemerintah dapat memberikan perhatian kepada sekolahnya agar kualitas pembelajaran dapat ditingkatkan. Di masa sekarang ini, kata Maria, orangtua berupaya mendukung pembelajaran. Namun karena keterbatasan ekonomi dan orang tua tidak punya HP Android sehingga susah dalam komunikasi. “Mohon perhatikan sekolah saya, fasilitasnya agar diperhatikan,” harap Maria.
 
Kondisi lebih beruntung dirasakan oleh guru lain yaitu Santi, seorang guru di SMP Islam Baitul Izzah Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Ia mengatakan, wilayah dan fasilitas pembelajaran lebih mudah diakses, tantangan justru datang dari budaya pembelajaran. “Biasanya guru mengajar hanya berpedoman pada buku pegangan guru, namun sekarang kita ‘dipaksa’ belajar memanfaatkan teknologi untuk melakukan pembelajaran secara dalam jaringan (daring),” ungkap Santi.
 
Santi mengaku senang dengan kebijakan Merdeka Belajar Kemendikbud. Ia mendukung perubahan di dunia pendidikan dalam menciptakan metode pembelajaran yang menarik untuk memotivasi siswa belajar. “Kebetuan saya mengajar Bahasa Inggris. Dalam proses pembelajaran, saya gunakan google meskipun belajar tapi seperti tidak sedang belajar,” kata Santi penuh semangat.
 
Pembelajaran jarak jauh memberi kesempatan kepada kita semua memupuk empati, quality time bersama keluarga dan mengasah sisi humanisme. Santi melihat bahwa orangtua menjadi paham bagaimana sulitnya mengajar anak-anak. Di sisi lain, orangtua dan anak bisa mendekatkan diri satu sama lain dengan banyaknya kegiatan yang dihabiskan bersama-sama di rumah. “Selain itu ada rasa syukur dalam hati saya ketika mendengar anak-anak kangen berkumpul dengan teman-teman dan gurunya di sekolah. Artinya anak-anak memahami bahwa sebagai makhluk sosial, interaksi secara langsung adalah sebuah kebutuhan,” tutur Santi.
 
Kepada Mendikbud, Santi berpesan agar kualitas tenaga pendidik, pengembangan teknologi dan penguasaan bahasa asing terutama Bahasa Inggris terus ditingkatkan, karena menurutnya ketiga hal tersebut menjadi modal yang harus dimiliki siswa dalam menghadapi perkembangan zaman.
 
“Penguasaan Bahasa Inggris sejak dini diperlukan untuk dapat mengakses informasi, mencari ilmu di banyak website berbahasa Inggris. Dengan menguasainya (Bahasa Inggris) mereka tidak akan terdikriminasi karena masalah bahasa. Kita ingin membawa Indonesia ke era ekonomi digital tapi berbanding terbalik dengan kualitas guru-guru saat ini. Padahal pemikiran kritis peserta didik harus diimbangi dengan kapabilitas guru-gurunya.  Guru adalah penjual mimpi, kita didik siswa dengan kedisiplinan, tanggung jawab dan kerja keras untuk berhasil menggapai mimpi mereka,” pungkas Santi.
 
Kepada Santi dan Maria, Mendikbud menyampaikan rasa bangganya karena mereka adalah potret tenaga pendidik yang tetap bersemangat menjalankan roda pendidikan di tengah pandemi.  “Saya tidak harus melakukan satu asesmen untuk mengetahui (kinerja) Ibu Maria dan Bu santi. Dari  jawabannya, dari visinya,  passion-nya adalah guru penggerak. Andalah yang kita butuhkan bagi negara kita,” tutup  Mendikbud.

Jakarta, Kemendikbud --- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim menyampaikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melakukan proses realokasi atau penyesuaian Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2020 untuk penanganan Coronavirus Disease (Covid-19). Hal ini sesuai Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2020 tentang Refocussing Kegiatan, Realokasi Anggaran, serta Pengadaan Barang dan Jasa Dalam Rangka Percepatan Penanganan Covid-19.

"Jumlah realokasi anggaran untuk mendukung pencegahan Covid-19 sebesar Rp405 miliar," disampaikan Mendikbud di Jakarta pada Rapat Kerja dengan Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) yang dilakukan melalui konferensi video, Jumat (27/03).

Dalam Rapat Kerja itu, Komisi X DPR RI juga telah menyetujui realokasi anggaran Kemendikbud.

Mendikbud menjelaskan, sumber realokasi anggaran berasal dari efisiensi dan refocussing kegiatan dari setiap unit utama/program di lingkungan Kemendikbud. "Ini adalah anggaran yang disisir dari efisiensi berbagai unit utama dan program. Anggaran seperti perjalanan dinas ataupun rakor-rakor dengan banyak orang yang tidak mungkin dilakukan di saat-saat seperti ini," ujar Mendikbud.

Adapun realokasi anggaran dilakukan untuk program penguatan kapasitas 13 Rumah Sakit Pendidikan (RSP) dan 13 Fakultas Kedokteran (FK) untuk menjadi Test Center Covid-19. "Kita ingin memperkuat rumah sakit-rumah sakit pendidikan menjadi test center yang bisa melakukan tes hingga 7.600 sampel/hari dan semua Rumah Sakit Pendidikan mampu menangani pasien Covid-19 sesuai kapasitas yang ada," terang Nadiem.

Realokasi anggaran juga dilakukan untuk menggerakkan relawan mahasiswa untuk kemanusiaan dengan target 15.000 relawan yang secara sukarela mendukung upaya mitigasi pandemi Covid-19. "Terutama kegiatan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) serta tugas-tugas lainnya sesuai kebutuhan, kompetensi, dan kewenangan relawan yang dikoordinasikan oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19," jelas Mendikbud.

Rencana realokasi anggaran untuk penanganan Covid-19 dibagi menjadi empat kegiatan utama, yaitu (1) Edukasi Covid-19 dengan alokasi anggaran sebesar Rp60 miliar; (2) Peningkatan Kapasitas dan Kapabilitas Rumah Sakit Pendidikan dengan alokasi anggaran Rp250 miliar; (3) Pelaksanaan 150.000 Rapid Test di lima Rumah Sakit Pendidikan dengan alokasi anggaran Rp90 miliar; dan (4) Pengadaan bahan habis pakai untuk KIE, Triase (triage), Pelacakan (tracking), dan Pengujian (testing) dengan alokasi anggaran Rp5 miliar di Rumah Sakit Pendidikan dan Fakultas Kedokteran yang ditunjuk.

Daftar Rumah Sakit Pendidikan yang segera melakukan penanganan Covid-19 di antaranya tujuh RSP Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN BH), yaitu Universitas Airlangga, Universitas Diponegoro, Universitas Gadjah Mada, Universitas Hasanuddin, Universitas Indonesia, Universitas Padjajaran, dan Universitas Sumatra Utara. Serta enam PTN Non-Badan Hukum, yaitu Universitas Andalas, Universitas Brawijaya, Universitas Mataram, Universitas Sebelas Maret, Universitas Tanjungpura, dan Universitas Udayana.

Adapun 13 Fakultas Kedokteran yang segera aktif mendukung penanganan Covid-19 yaitu Universitas Bengkulu, Universitas Jember, Universitas Jenderal Soedirman, Universitas Lambung Mangkurat, Universitas Lampung, Universitas Mulawarman, Universitas Palangkaraya, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, Universitas Pendidikan Ganesha, Universitas Riau, Universitas Sriwijaya, Universitas Syiah Kuala, dan Universitas Tadulako.

"Secepat mungkin kalau bisa, Perguruan Tinggi yang memiliki Rumah Sakit Pendidikan dan fasilitas-fasilitas (lembaga pendidikan dan pelatihan) kita ubah untuk bisa mendukung penanganan Covid-19. Kita juga menyiapkan Lembaga Penjaminan Mutu dan Pengembangan Pembelajaran (LPMP) serta Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK) untuk segera bisa menjadi ruang-ruang penampungan dan isolasi. Bisa menambah sekitar 11.000 pasien lagi," kata Mendikbud.

Pembatalan UN Tahun 2020

Menjawab pertanyaan Anggota Komisi X mengenai Pembatalan Ujian Nasional (UN) Tahun 2020, Mendikbud menyampaikan bahwa hal tersebut perlu dilakukan demi kebaikan bersama. "Kemendikbud telah mengeluarkan Surat Edaran Mendikbud Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Pendidikan Dalam Masa Darurat yang dapat menjadi pedoman pelaksanaan teknis bagi Dinas Pendidikan dan satuan pendidikan," ujarnya.

Mendikbud memastikan kebijakan pembatalan UN Tahun 2020 tetap menjaga prinsip akuntabilitas keuangan negara. Proses pertanggungjawaban penggunaan anggaran dilakukan secara cermat dan penuh kehati-hatian, sehingga kebijakan ini tidak menjadi masalah di kemudian hari. "Kami sudah berkonsultasi dengan Badan Pengawas Keuangan dan Inspektorat Jenderal Kemendikbud untuk mengkaji tentang hal ini. Argumen kami dalam mengambil kebijakan ini adalah keselamatan nyawa para siswa, orang tua, dan guru menjadi yang utama karena potensi penyebaran Covid-19," jelasnya.

Apresiasi dan Dukungan Komisi X DPR

Komisi X DPR RI mengapresiasi Kemendikbud yang telah mengeluarkan berbagai kebijakan dan menerapkan langkah-langkah strategis pada pencegahan penyebaran Covid-19 di dunia pendidikan dan kebudayaan. "Dari berbagai program yang sudah direncanakan, termasuk mengajak 15.000 relawan mahasiswa maupun penguatan Rumah Sakit Pendidikan, itu memang sesuai," ungkap Anggota Komisi X dari daerah pemilihan Sumatra Utara I, Sofyan Tan.

"Saya mengapresiasi langkah cepat Saudara Menteri dan jajarannya mengambil tindakan antisipasi pencegahan penyebaran Covid-19," tambah Anggota Komisi X, Djohar Arifin.

Ketua Komisi X, Syaiful Huda menyampaikan Kemendikbud harus mempertimbangkan kepentingan pencegahan Covid-19 dan tetap menjamin keberlangsungan proses belajar mengajar baik di jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) maupun Pendidikan Tinggi (Dikti).

Kemendikbud juga perlu menghitung kembali secara cermat realokasi dan refocussing anggaran pada APBN pada Tahun Anggaran 2020, antara lain untuk menghadirkan strategi khusus dan bantuan kepada daerah yang terbatas fasilitas teknologi komputer dan jaringan internetnya. Komisi X DPR RI mendorong Kemendikbud melakukan kerja sama dengan Lembaga Penyiaran Publik dan jaringan media nasional untuk melakukan penayangan program-program pendidikan dan pembelajaran.

Kemudian, Komisi X meminta Kemendikbud memastikan terselenggaranya kegiatan informasi dan edukasi masif kepada masyarakat mengenai pencegahan dan penanggulangan pandemi Covid-19. Termasuk memerhatikan kemungkinan timbulnya trauma pada peserta didik maupun pendidik. "Antara lain melalui program parenting atau pengasuha. Ataupun konseling yang melibatkan program studi profesi psikologi dan asosiasi profesi psikologi, khususnya dari perguruan tinggi swasta," ujar Syaiful Huda.

Sementara itu, Agustina Wilujeng Pramestuti, Pimpinan Komisi X dari Daerah Pemilihan Jawa Tengah IV menyampaikan bahwa momen darurat Covid-19 ini juga bisa dimanfaatkan Kemendikbud untuk kembali meredefinisi pendidikan. Ia mengingatkan kembali empat pilar pendidikan yang ditetapkan UNESCO, yaitu learning to know (belajar untuk menguasai), learning to do (belajar untuk menerapkan), learning to live together (belajar untuk dapat hidup bersama), dan learning to be (belajar untuk menjadi). "Ini termasuk Ditjen Kebudayaan, mungkin bisa menghadirkan program yang mendorong budaya bersih, budaya tertib, dan budaya kemandirian," ungkapnya.

Dalam kesempatan yang sama, Komisi X DPR RI juga meminta Kemendikbud dapat melakukan percepatan pencairan dana bantuan Operasional Penyelenggaraan (BOP), dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), dana Program Indonesia Pintar (PIP) mengingat dana tersebut sangat dibutuhkan masyarakat dalam kondisi darurat pandemi Covid-19. "Komisi X DPR RI meminta Kemendikbud melakukan simulasi penambahan jumlah sasaran PIP," ujar Syaiful.

Menjawab kekhawatiran para Anggota Komisi X terkait potensi hilangnya pendapatan guru honorer dengan adanya kebijakan meniadakan aktvitas belajar mengajar di sekolah, Mendikbud mengatakan bahwa semestinya hal tersebut tidak terjadi. "Seharusnya tidak ada perubahan kontribusi guru terhadap mengajar siswa. Ini bukan diliburkan sekolahnya, tetapi belajar dari rumah. Jadi semestinya tidak berpengaruh. Saya kira ini sudah sangat jelas," kata Nadiem. (*)

Kuching, 25 Oktober 2019 -  KJRI Kuching memfasilitasi Kunjungan Kerja dari Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Kalimantan Barat dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Singkawang ke Community Learning Center (CLC) Ladang Ladong di Simunjan, Sarawak.
CLC adalah lembaga pendidikan yang memberikan akses pendidikan kepada anak-anak Pekerja Migran Indonesia (PMI) di perkebunan kelapa sawit di Sarawak, Malaysia.
Kunjungan ini bertujuan untuk menjalin kerjasama diantaranya berkaitan dengan pemberian bantuan dan peningkatan kualitas pendidikan CLC.
Kepala LPMP Kalimantan Barat, Asep Sukmayadi, S.IP, M.Si bangga dan terharu dengan dedikasi para pengajar maupun siswa sekolah yang berada di perbatasan itu. Di mana mereka mampu menunjukkan, bahwa sekolahnya tidak kalah berprestasi dibandingkan dengan sekolah-sekolah lain. Termasuk dengan sekolah yang ada di negara tetangga.
"Saya juga terharu dengan semangat dan kecintaan para siswa dan guru di sekolah ini terhadap NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia),"ujarnya
.

Foto

Page 1 of 14